Oleh: Nurillah Achmad
Lensajatim.id, Opini- Novel ini ditulis setebal 196 halaman. Sejenis novel yang bisa selesai dibaca dalam sekali duduk. Tak ada halaman daftar isi, namun pembaca tetap menikmati cerita ini walau terbagi dalam segmen yang berbeda tetap dalam rangkaian irama yang satu.
Saya percaya, penulis menyelesaikan tulisan ini bukan hanya untuk kepentingan lomba maupun komersil pribadi. Namun, bagaimana karya ini berproses dan hadir pada semua kalangan.
Bila ada yang bertanya, apakah cerita yang diangkat sangat relevan dengan situasi sekarang? Tentu. Bahkan situasi saat ini yang katanya semua serba harus menyesuaikan, justru di Novel ini lah obat dari krisis budi dan karakter siswa yang sering dibahas dalam kancah dunia pendidikan— Novel ini layak menjadi oase di tengah carut marut problem kemanusiaan dari berbagai lini yang saat ini berlangsung.
Setiap penulis memiliki ciri khasnya masing-masing— seorang Nurillah Achmad, sebagai anak daerah, ia tetap mempertahankan bahasa lokal menjadi sandingan bahasa nasional di novel ini. Tak mudah tergiur memakai bahasa ngetren. Bukan sekali dua kali saya membaca karya tulisnya. Begitu kuat karakter tulisan yang dipunya. Bisa jadi, bila ia tak membubuhkan nama penulis atau memakai nama pena lainnya, sangat mudah bagi penikmat karya tulisnya ini mengetahui — walau begitu, bukan berarti isi dalam novel ini jauh dari sempurna lho yaa~
Justru, setelah membaca novel yang tak hanya sekadar luwes dalam penyajiannya ini, banyak cerita yang terungkap di sisi bilik pesantren.
Bila diingat-ingat, kapan terakhir kali kau menemukan adegan seorang anak yang tak kerasan mondok? Melakukan hal-hal aneh yang dianggap lucu hingga yang Mengancam nyawa? Lalu kau menganggap itu fenomena biasa dan akan selesai dengan sendirinya— nyatanya adegan itu bukan lah adegan yang direncanakan sendiri dan harus terjadi. Tapi ada faktor pemicu mengapa hal demikian terjadi. Mau tahu jawabannya? Bacalah Novel ini hingga halaman terakhir.
Kau akan dibawa berkelana di lingkungan pesantren meski cukup sebagai alumni pondok pesantren kilat, misal. Hihiw
Tak hanya itu— kau juga akan menemukan bagaimana seorang guru mendidik dengan kerendahan hatinya. Bahkan saya sempat berimajinasi —Bila semua Guru diupayakan berlaku demikian, saya yakin semua murid akan sampai pada tujuan utama pendidikan— memperhalus hati dengan akal budi.
Yang menggelitik pikiran saya saat ini, karakter Guru yang memiliki laku demikian di Novel ini bahkan di dunia nyata sekalipun— apakah mereka bebas dari kalender luka ?
Jawaban ini justru saya jumpai di penghujung Novel walau tak ada garis besar kesimpulan tertulis. Maka, teman-teman saya sarankan tidak untuk berkesimpulan terlebih dahulu sebelum berkenalan hingga halaman terakhir. (Ciattt)
Bagi saya pribadi, bukan berarti tak ada alasan saat Nyai Hasinah memberikan oretan judul buku ini kepada ketiga santri yang berada dalam pengawasannya sendiri bahkan hingga detik-detik beliau berpamitan. Menurut tafsir saya yang ala kadarnya ini, Novel tersebut mengajak kita untuk tidak sekali-kali mengukur luka mu dengan luka orang lain— walau sebenarnya luka tak akan pernah kering. Ia yang sembuh dari luka telah menemukan yang disebut rumah yakni membiarkan luka tersebut masuk pada kedalaman batin hingga tak ada celah luka-luka lain untuk memasukinya. Sebab di dalamnya telah dipertemukan dengan Cahaya Ruhullah~


Komentar