|
Menu Close Menu

Dialog di Senayan, Mahasiswa Diajak Perkuat Literasi sebagai Benteng Demokrasi

Sabtu, 07 Februari 2026 | 08.29 WIB

Anggota Fraksi NasDem DPR RI Willy Aditya.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Jakarta— Tantangan demokrasi di era banjir informasi menjadi sorotan dalam dialog antara Fraksi Partai NasDem DPR RI dan Forum Mahasiswa Madura (Formad) Jabodetabek di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (6/2/2026). Dalam pertemuan tersebut, isu literasi dan daya pikir kritis ditempatkan sebagai kunci agar generasi muda tidak mudah terombang-ambing oleh arus disinformasi.


Anggota Fraksi Partai NasDem DPR RI, Willy Aditya, menilai mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai penyeimbang ruang publik. Namun, peran tersebut hanya dapat dijalankan apabila mahasiswa dibekali kecakapan berpikir yang tajam serta kemampuan menuangkan gagasan secara sistematis melalui tulisan.


Menurutnya, menulis bukan semata keterampilan teknis, melainkan proses berpikir yang menuntut ketelitian, keberanian berargumentasi, dan kejujuran intelektual. Karena itu, penguatan kemampuan menulis—baik ilmiah maupun populer—dipandang penting untuk menjembatani dunia akademik dengan realitas sosial.


“Literasi tidak berhenti pada membaca. Ia harus berlanjut pada kemampuan mengolah informasi, mengujinya, lalu menyampaikannya kembali secara bertanggung jawab,” kata Willy di hadapan para mahasiswa.


Ia menilai, ruang akademik kerap belum cukup memberi ruang praktik yang konsisten bagi mahasiswa untuk mengasah kebiasaan menulis. Padahal, kemampuan tersebut menjadi bekal penting agar gagasan mahasiswa tidak berhenti di ruang kelas, tetapi mampu berkontribusi dalam diskursus publik.


Dalam kesempatan itu, Fraksi Partai NasDem menyatakan komitmennya membuka ruang kolaborasi berkelanjutan dengan mahasiswa. Tidak hanya sebatas diskusi, tetapi juga melalui kelas-kelas lanjutan yang melibatkan akademisi dan praktisi lintas bidang.


Willy menekankan, literasi dan berpikir kritis menjadi benteng utama dalam menghadapi maraknya hoaks yang kerap lebih cepat menyebar dibandingkan informasi berbasis fakta. Menurutnya, pendidikan formal tidak otomatis melahirkan daya kritis tanpa kebiasaan bertanya dan keberanian menguji kebenaran.


Ia mengingatkan mahasiswa agar membiasakan diri melakukan verifikasi berlapis terhadap setiap informasi, sebagaimana prinsip dasar jurnalistik yang menuntut kejelasan sumber, konteks, dan tujuan.


Dalam konteks kehidupan politik, Willy juga mengajak mahasiswa untuk tidak menjaga jarak secara berlebihan. Kritik, menurutnya, merupakan bagian tak terpisahkan dari demokrasi dan justru diperlukan untuk menjaga kualitas kebijakan publik.


“Ruang demokrasi akan sehat jika kritik disampaikan dengan nalar, data, dan etika. Mahasiswa punya peran penting untuk itu,” ujarnya.


Dialog tersebut menjadi penanda upaya mempertemukan dunia politik dan kampus dalam satu kepentingan bersama: merawat akal sehat publik dan memperkuat fondasi demokrasi melalui literasi. (Red) 

Bagikan:

Komentar