|
Menu Close Menu

Diskusi Pemikiran Muhammad Yamin Digelar di Panglima Itam Library NasDem

Sabtu, 28 Februari 2026 | 21.51 WIB

Kegiatan Diskusi bertajuk Memaknai Pemikiran Muhammad Yamin melalui kegiatan bedah buku 6000 Tahun Sang Merah Putih digelar di Panglima Itam Library of NasDem. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Jakarta— Diskusi bertajuk Memaknai Pemikiran Muhammad Yamin melalui kegiatan bedah buku 6000 Tahun Sang Merah Putih digelar di Panglima Itam Library of NasDem, Jumat (27/2/2026). Forum ini menghadirkan sejumlah narasumber dan tokoh nasional untuk mengupas gagasan Yamin, khususnya terkait makna historis Sang Merah Putih sebagai simbol kebangsaan.


Hadir sebagai pembicara Yos Fitradi selaku pengamat pemikiran Yamin dan Taufik Basari sebagai Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR RI. Turut memberikan testimoni Roy Rahajasa Yamin, cucu Muhammad Yamin. Diskusi dimoderatori Lisda Hendrajoni, anggota DPR RI Fraksi NasDem, dengan pengantar disampaikan Willy Aditya, Ketua Komisi XIII DPR RI. 


Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa buku 6000 Tahun Sang Merah Putih mengurai asal-usul dan makna warna merah dan putih jauh sebelum Indonesia merdeka. Yamin menelusuri jejak historis kedua warna tersebut hingga masa kerajaan-kerajaan Nusantara seperti Kerajaan Majapahit, bahkan periode pra-Hindu.


Yamin berargumen bahwa Merah Putih bukan sekadar simbol politik modern, melainkan telah hidup dalam tradisi, panji-panji perang, upacara adat, hingga sistem kepercayaan masyarakat Nusantara sejak ribuan tahun silam. Melalui pendekatan historis dan kebudayaan, ia menegaskan bahwa bendera Indonesia memiliki akar autentik dari peradaban bangsa sendiri.


Willy Aditya, yang juga Ketua Koordinator Bidang Ideologi, Organisasi, dan Kaderisasi DPP Partai NasDem, berharap kegiatan tersebut menjadi “mata air kebangsaan” yang terus mengalir bagi semua kalangan.


Menurutnya, diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian forum yang secara konsisten membahas karya-karya pemikiran para pendiri bangsa. Sebelumnya, NasDem telah mengkaji Naar de Republiek Indonesia karya Tan Malaka, Demokrasi Kita karya Mohammad Hatta, serta Perjuangan Kita karya Sutan Sjahrir.


“Karena kita sadar, hari ini tidak pernah ada tanpa pergulatan pemikiran dan gagasan para founding parents kita,” ujar Willy.


Ia menilai Yamin sebagai sosok sastrawan dengan spektrum pemikiran luas. Dialektika alam Minangkabau, katanya, melahirkan banyak pemikir egalitarian dan republikan, termasuk Muhammad Yamin.


“NasDem adalah penjaga garis republikanisme. Kita belajar bukan sekadar romantisme sejarah, tetapi sebagai guidance untuk melahirkan kebijakan yang tetap berada dalam garis republikanisme,” tegasnya.


Willy menambahkan, diskusi buku ini merupakan bentuk penelitian atas simbol yang selama ini dihormati dan dikibarkan setiap saat. Menurutnya, Yamin meletakkan fondasi bahwa Merah Putih bukan simbol yang hadir secara “given”, melainkan bagian dari proses ideologis panjang—bermula dari mitologi hingga menjadi mitos kebangsaan.


Ia bahkan menyebut, jika Soekarno dikenal sebagai frontman republik, maka Yamin berperan besar dalam menyiapkan piranti, pilar, dan milestone Republik Indonesia.


“Sebagai ideolog, Yamin mampu menyederhanakan mitos sekaligus mengonstruksikan pokok-pokok pikiran secara teknokratik. Di situlah hebatnya Yamin,” pungkas Willy.


Diskusi tersebut diharapkan memperkaya pemahaman generasi kini terhadap akar historis dan ideologis kebangsaan, sekaligus meneguhkan komitmen menjaga nilai-nilai republikanisme dalam praktik bernegara. (Red) 

Bagikan:

Komentar