BANGKALAN, lensajatim.id - Dini hari seharusnya menjadi awal perjalanan Azfar Burhan kembali mengejar mimpi. Namun Selasa (10/2/2026), jalan raya justru menjadi akhir cerita kiper Unggul FC Malang itu.
Azfar (25) meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas di Jalan Raya Ketengan, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, sekitar pukul 03.30 WIB.
Ia pergi berboncengan dengan adiknya, MB (23), menuju Terminal Bangkalan. Langkah awal untuk kembali ke Malang dan bergabung dengan tim yang akan berangkat ke Pontianak mengikuti Futsal Nation Cup 2026.
Tak ada yang menyangka, perjalanan singkat itu menjadi perjalanan terakhirnya. Sepeda motor Yamaha Fazzio yang mereka kendarai tiba-tiba oleng dan masuk ke jalur berlawanan.
"Dari arah timur, sebuah bus AKAP melaju. Benturan tak terhindarkan. Azfar mengembuskan napas terakhir di lokasi kejadian. Sang adik selamat, namun mengalami luka berat," ungkap Ipda Agung Intama, Kasi Humas Polres Bangkalan.
Di rumah duka, Gang Flamboyan Perumda Bangkalan, suasana pagi berubah sunyi. Tangis keluarga pecah. Azfar dimandikan, disalatkan di Masjid Perumda, lalu dimakamkan di TPU Kelurahan Mlajah.
Seorang anak, seorang kakak, seorang kiper, pulang untuk selamanya.
Sebelum kecelakaan itu terjadi, Azfar sempat pulang ke Bangkalan. Bukan untuk liburan panjang, melainkan untuk berpamitan dan memohon doa restu kepada orang tuanya.
Ia tahu, turnamen besar menantinya. Ia ingin berangkat dengan restu.
Takdir berkata lain.
Unggul FC Malang menerima kabar duka itu dari pihak keluarga pada Selasa pagi. Keheningan menyelimuti skuad.
Seorang rekan, seorang penjaga gawang, pergi sebelum sempat berdiri di bawah mistar pada laga perdana.
“Kami segenap keluarga besar Unggul FC turut berbela sungkawa atas meninggalnya pemain kami, Azfar Burhan,” ujar Manajer Unggul FC, Usa Laksono.
Ia menyebut, Azfar bukan sekadar pemain. Ia adalah simbol kerja keras dan loyalitas—sosok yang pernah membawa Unggul FC juara Liga Nusantara 2021/2022 dan promosi ke level tertinggi futsal nasional.
Setelah berkelana ke beberapa klub, Azfar memilih kembali, seolah ingin menuntaskan cerita bersama tim yang membesarkannya.
Federasi Futsal Indonesia turut menyampaikan belasungkawa. Satu penjaga gawang terbaiknya bukan di lapangan, melainkan di jalan raya, jauh dari sorak penonton dan gemuruh arena.
Azfar seharusnya tampil pada laga perdana Unggul FC melawan Pangsuma FC. Namun kini, nomor punggung itu tinggal kenangan.
Yang tersisa hanyalah doa, air mata, dan kisah tentang seorang anak Bangkalan Madura yang bekerja keras menjaga gawang dan menjaga harapan.
Ia pulang untuk pamitan. Ia pergi tanpa sempat berpamitan kepada dunia. (Syaiful)


Komentar