![]() |
| Karyawan salah satu SPPG saat menyiapkan MBG bagi para siswa.(Dok/Istimewa). |
Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Sumenep, M. Khalilur Rahaman, menegaskan bahwa operasional SPPG selama Ramadhan disertai penyesuaian mekanisme penyaluran Makanan Bergizi Gratis (MBG). Penyesuaian tersebut dirancang agar manfaat program tetap tepat sasaran.
“SPPG tetap beroperasi di bulan Ramadhan sesuai arahan pimpinan BGN, dengan empat mekanisme penyaluran MBG yang disesuaikan kondisi penerima,” ujar Khalilur Rahaman, Minggu (08/02/2026).
Ia menjelaskan, skema pertama diterapkan pada sekolah yang peserta didiknya tidak menjalankan puasa. Pada kelompok ini, MBG tetap disajikan dan dikonsumsi langsung di sekolah.
Skema kedua menyasar sekolah dengan peserta didik yang menjalankan ibadah puasa. Makanan bergizi dibagikan untuk dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka.
Skema ketiga diperuntukkan bagi pondok pesantren. Penyaluran MBG difokuskan untuk mendukung kebutuhan berbuka puasa para santri.
Adapun skema keempat ditujukan bagi ibu hamil dan balita. Distribusi dilakukan melalui SPPG dengan berkolaborasi bersama layanan kesehatan setempat.
Selain mekanisme penyaluran, SPPG juga menyesuaikan jenis menu. Untuk sekolah yang menjalankan puasa, MBG disajikan dalam bentuk menu kering, sedangkan bagi sekolah non-puasa menggunakan menu basah.
“Berdasarkan pengalaman tahun 2025, menu yang disalurkan antara lain roti, susu, kurma, telur rebus, dan bubur kacang hijau,” ungkapnya.
Sementara itu, PIC SPPG Yayasan Al-Jailani Candi, Dungkek, Norman, M.Pd.I, menyampaikan pihaknya masih menunggu arahan teknis lanjutan terkait operasional Ramadhan. Meski demikian, ia menegaskan kesiapan penuh untuk menjalankan kebijakan yang ditetapkan.
“Sampai hari ini kami masih menunggu instruksi dari BGN. Namun pada prinsipnya, kami siap melaksanakan operasional sesuai arahan yang diberikan,” ujarnya.
SPPG Kabupaten Sumenep berharap pelaksanaan MBG selama Ramadhan tetap berjalan efektif dan berkelanjutan. Program ini diharapkan terus mendukung pemenuhan gizi anak sekolah, santri, ibu hamil, dan balita, sekaligus memperkuat komitmen negara dalam menjaga kesehatan masyarakat. (Yud)


Komentar