![]() |
| Kegiatan Bootcamp Artificial Intelligence for Journalist bagi puluhan jurnalis dari Surabaya dan Sidoarjo, di iSTTS. (Dok/Istimewa). |
Pelatihan ini dirancang untuk membekali jurnalis keterampilan praktis kecerdasan buatan (AI), sekaligus meneguhkan etika, akurasi, dan integritas jurnalistik di tengah pesatnya adopsi teknologi di ruang redaksi.
Peserta berasal dari beragam komunitas pers, di antaranya Pewarta Foto Indonesia (PFI) Surabaya, Forum Komunikasi Jurnalis Nahdliyin (FJN), Rumah Literasi Digital (RLD), Forum Wartawan Sidoarjo (Forwas), serta peserta umum.
Bootcamp berlangsung intensif sejak pagi hingga sore di Kampus iSTTS, Jalan Ngagel Jaya Tengah 73–77, Surabaya.
Kepala Humas iSTTS Surabaya, Mas Rara Dwi Yanti Handayani, menegaskan bahwa pemanfaatan AI dalam jurnalistik tidak dapat dihindari, namun harus dibarengi tanggung jawab profesi.
“AI membantu jurnalis bekerja lebih cepat dan efisien. Namun akurasi, verifikasi, dan nurani tetap berada di tangan manusia,” ujarnya.
Menurut Rara, iSTTS membuka ruang belajar agar jurnalis mampu memanfaatkan AI tanpa mengorbankan prinsip jurnalistik.
Bootcamp ini menghadirkan sejumlah akademisi dan praktisi AI sebagai pemateri.
Dr. Lukman Zaman, S.Kom., M.Kom. membahas generative AI, prompt engineering, serta pemanfaatan AI untuk konten multimedia dan visual.
Sementara Prof. Dr. Ir. Esther Irawati Setiawan, S.Kom., M.Kom., yang juga Google Expert dan Lead Organizer GDG Surabaya, mengulas social network analysis, multimodal AI, serta tantangan etika di era kecerdasan buatan.
Materi lain disampaikan Dr. Ir. Yosi Kristian, S.Kom., M.Kom. yang memaparkan machine learning dan computer vision dalam pengolahan data visual dan investigasi digital.
Berbeda dari pelatihan berbasis teori, bootcamp ini menekankan pendekatan hands-on learning.
Peserta diminta membawa laptop untuk langsung mempraktikkan penyusunan prompt, pengolahan data, hingga simulasi penggunaan AI dalam kerja jurnalistik sehari-hari.
Kolaborasi iSTTS dengan Rumah Literasi Digital dinilai sebagai upaya menjembatani kebutuhan industri media dengan pengembangan keilmuan di kampus.
Di tengah maraknya konten otomatis dan risiko disinformasi, pelatihan ini diarahkan agar jurnalis menjadi pengguna AI yang kritis, bukan pasif.
Seluruh peserta memperoleh sertifikat “Introduction to Generative AI” sebagai pengakuan kompetensi dasar di bidang AI.
Sertifikat tersebut diharapkan menjadi bekal awal bagi jurnalis untuk beradaptasi dengan ekosistem media digital yang terus berkembang.
Melalui kegiatan ini, iSTTS menegaskan perannya sebagai kampus responsif terhadap dinamika industri media dan teknologi.
Tidak hanya mencetak talenta teknologi, iSTTS juga berkontribusi menjaga kualitas informasi publik melalui penguatan literasi AI yang etis dan bertanggung jawab.
Direktur Rumah Literasi Digital, Andika Ismawan, menyebut bootcamp ini sebagai respons konkret atas tantangan jurnalistik di era kecerdasan buatan.
“AI bukan pengganti jurnalis. Ini alat bantu yang harus dikendalikan dengan literasi dan etika,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan iSTTS menjadi langkah strategis untuk mempertemukan kekuatan akademik dengan kebutuhan praktis insan pers.
“Jurnalis dituntut cepat, tapi tetap akurat. Tanpa literasi digital, AI justru bisa menjadi sumber kesalahan baru,” tandasnya. (Red)


Komentar