![]() |
| Kegiatan Sertifikasi Introduction to Generative IA di auditorium Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (ISTTS). (Dok/Istimewa). |
Konferensi ini menjadi ruang pertemuan ide, jejaring, sekaligus pembaruan wawasan di tengah laju perkembangan teknologi yang kian cepat. Kolaborasi antara GDGoC ISTTS, GDG Surabaya, dan komunitas Flutter Surabaya menghadirkan forum bertajuk “The Vibe: Connection & Community”—sebuah pesan bahwa inovasi lahir dari koneksi dan komunitas yang solid.
Bukan sekadar seminar, FlutterFusion Conference 2026 dirancang sebagai katalisator penguatan talenta digital lokal. Para peserta diajak memahami bagaimana penguasaan Flutter, Cloud, dan AI dapat membuka peluang kompetisi di tingkat global.
“Kami menghadirkan FlutterFusion Conference sebagai ruang bertemunya ide murni dan kolaborasi nyata. Harapannya, ekosistem developer di Surabaya semakin solid dan mampu membuka peluang kerja sama yang lebih luas, baik di kancah nasional maupun internasional,” ujar Esther Irawati Setiawan, Google Developer Expert (GDE) AI/ML sekaligus Kepala Prodi Sistem Informasi Bisnis ISTTS.
Sorotan utama konferensi ini adalah kehadiran para pakar Google kelas dunia yang membedah transformasi paradigma pemrograman. Joshua De Guzman, GDE asal Filipina, memperkenalkan era Agentic Coding bagi pengguna Flutter melalui pemanfaatan Antigravity dan Gemini 3 Pro. Pendekatan ini menghadirkan proses coding yang lebih intuitif, adaptif, dan terdorong oleh kecerdasan buatan.
Di sisi lain, isu keamanan digital turut mendapat perhatian serius. Haidar Zamzam dari CISDI mengulas strategi pengamanan aplikasi Flutter di tengah meningkatnya ancaman siber pada era AI. Pendekatan preventif dan arsitektur keamanan yang tepat dinilai menjadi fondasi penting bagi pengembang aplikasi modern.
Konferensi juga menghadirkan perspektif segar melalui paparan Ibnu Sina Wardy tentang konsep Vibe Coding, sebuah pendekatan kreatif untuk membangun aplikasi yang lebih adaptif terhadap kebutuhan pengguna.
Sementara itu, wawasan industri diperkaya oleh paparan Joan Santoso mengenai implementasi model AI pada perangkat (on-device machine learning), serta Sidiq Permana yang membahas konsep Server Driven UI sebagai strategi pengembangan aplikasi yang fleksibel dan efisien.
Tak hanya diskusi dan pemaparan materi, FlutterFusion Conference 2026 juga menjadi panggung final FlutterFusion Competition. Mahasiswa terpilih mempresentasikan inovasi berbasis Flutter di hadapan dewan juri dan peserta umum. Sesi pitching ini menunjukkan bahwa inovasi digital tak lagi menjadi domain eksklusif perusahaan besar, melainkan telah tumbuh subur di lingkungan kampus dengan solusi yang aplikatif.
Berakhirnya konferensi ini bukan sekadar penutup acara, melainkan penanda babak baru bagi ekosistem teknologi Surabaya. Dengan kolaborasi yang semakin erat antara akademisi, komunitas, dan praktisi industri, Surabaya menegaskan diri sebagai salah satu pusat pertumbuhan teknologi di Indonesia yang siap melahirkan inovator digital masa depan. (Red)


Komentar