![]() |
| Logo NU.(Dok/Istimewa). |
Aktivis senior NU Jawa Timur sekaligus mantan Ketua PW IPNU Jatim, Sudarsono Rahman, menilai tahun 2026 memiliki arti strategis bagi perjalanan NU. Selain menandai satu abad berdirinya NU secara masehi pada 31 Januari 2026, tahun tersebut juga direncanakan menjadi momentum penyelenggaraan Muktamar NU yang sarat harapan.
“Tahun 2026 berpotensi menjadi titik balik bagi NU. Muktamar diharapkan menjadi pintu islah untuk mengakhiri dinamika terbuka yang belakangan menyita perhatian publik, sekaligus membuka babak baru kepemimpinan PBNU,” ujar Sudarsono Rahman, Sabtu (7/2/2026).
Pria yang akrab disapa Cak Dar itu menilai, dinamika internal yang terjadi belakangan ini perlu disikapi secara dewasa dan bijaksana agar tidak menggerus keteladanan organisasi. Karena itu, Muktamar mendatang diharapkan menjadi ruang bersama untuk merajut kembali soliditas dan menjaga marwah PBNU.
Wakil Ketua Umum DPP Barikade Gus Dur, Cak Dar menekankan pentingnya kepemimpinan PBNU yang berorientasi ke depan, mampu meninggalkan beban masa lalu, serta fokus pada penguatan peran strategis NU di tengah perubahan zaman.
“NU membutuhkan pemimpin yang ikhlas, visioner, memiliki kapasitas manajerial, dan mampu menjaga organisasi dari tarik-menarik kepentingan politik praktis. Lebih dari itu, NU juga memerlukan kepemimpinan yang sanggup mengelola keberagaman serta adaptif terhadap tantangan zaman,” tegasnya.
Menurutnya, NU memiliki banyak figur yang layak dan mumpuni untuk mengemban amanah kepemimpinan. Di jajaran Rais Aam, terdapat sejumlah kiai sepuh yang dinilai memiliki kedalaman keilmuan dan keteladanan, di antaranya KH Ma’ruf Amin, KH Musthofa Bisri, KH Asep Syaifuddin Chalim, KH Said Aqil Siroj, serta para ulama sepuh lainnya.
Sementara di jajaran calon Ketua Umum PBNU, muncul pula nama-nama kiai muda dan tokoh NU yang dinilai memiliki pengalaman organisasi dan kapasitas kepemimpinan, seperti KH Zulfa Musthofa, KH Marzuki Muktamar, KH Kikin A. Hakim, KH Abdussalam Shohib, KH Yusuf Chudori, serta Ali Masykur Musa yang dikenal luas sebagai intelektual NU dengan pengalaman panjang di dunia legislatif dan organisasi.
Cak Dar menegaskan bahwa siapapun figur yang muncul, keputusan sepenuhnya berada di tangan PWNU dan PCNU sebagai pemegang mandat sah organisasi. Ia berharap proses pemilihan kepemimpinan NU ke depan benar-benar mencerminkan aspirasi dan harapan warga Nahdliyin.
“PWNU dan PCNU memikul tanggung jawab moral yang besar untuk memilih pemimpin NU yang mampu menjaga khidmah, memperkuat persatuan, dan membawa NU melangkah lebih bermartabat di abad keduanya,” pungkasnya.
Selain itu, Cak Dar juga menilai pentingnya keterwakilan tokoh dari luar Jawa dalam struktur kepemimpinan PBNU. Ia menyebut KH Nasaruddin Umar sebagai salah satu figur nasional yang memiliki pengalaman lintas wilayah dan rekam jejak dialog kebangsaan yang kuat. (Had)


Komentar