|
Menu Close Menu

Soroti Orientasi Pengabdian Alumni LPDP, Anggota DPD RI Ning Lia Istifhama Minta Jangan Melupakan Jasa Tanah Kelahiran

Rabu, 25 Februari 2026 | 22.39 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya- Belum usai, kasus viral yang bermula dari unggahan media sosial alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) berinisial DS terkait pernyataan kebanggaannya lantaran anaknya berkewarganegaraan Inggris dan enggan membawa sang anak menjadi WNI, masih hangat memicu perhatian publik.


Kekecewaan netizen belum terhenti meskipun suami DS, AP, yang juga penerima beasiswa LPDP, telah berkomitmen mengembalikan semua dana LPDP milyaran rupiah yang telah diterimanya.


Wajar jika publik mengecam, akibat jumlah fantastis dana LPDP yang didapat oleh DS dan suaminya tersebut. Tak ayal, berbagai pihak pun bersuara. Dari panggung politik nasional misalnya, muncul suara dari polisi anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah) RI Dr. Lia Istifhama.


Senator Jawa Timur itu menyoroti regulasi yang pernah viral sebelumnya, yaitu tentang diperbolehkannya alumni LPDP bekerja di Luar Negeri.


Menurutnya, kesempatan menempuh pendidikan di luar negeri adalah proses strategis untuk membentuk karakter mahasiswa Indonesia menjadi pribadi yang tangguh, adaptif, dan terbuka terhadap dinamika global. Namun seharusnya tidak disamakan dengan tujuan hidup kerja di luar negeri.


“Beasiswa LPDP adalah impian mahasiswa. Sangat wajar jika impian menimba ilmu dari pendidikan luar negeri hadir dengan harapan membentuk karakter yang struggle, adaptif sebagai minoritas di tengah mayoritas, dan inventif. Jadi bagaimana bertahan hidup di negeri orang,” ujarnya, Selasa (24/02/2026). 


“Hal ini pernah saya sampaikan saat mengisi webinar, tepatnya dua kali di tahun 2024 lalu, bersama mahasiswa lintas provinsi yang kebetulan mendaftar beasiswa LPDP,” jelasnya.


Sebagai informasi, politisi cantik itu pernah menjadi narasumber webinar bersama Yayasan Pandara pada Juni 2024 dan Pemuda Pelopor Nasional pada Desember 2024 lalu terkait beasiswa LPDP.


Ning Lia menambahkan, bahwa pengalaman menjadi minoritas di lingkungan internasional merupakan pembelajaran sosial yang sangat berharga. Dari situ lahir ketahanan mental, cara pandang terbuka, serta kemampuan membaca perubahan dunia.


Namun, politisi perempuan ini menegaskan bahwa tujuan utama dari fasilitas tersebut bukanlah untuk menetap di luar negeri, melainkan kembali ke Indonesia membawa ilmu, jejaring, dan pengalaman global.


“Namun setelah lulus, seharusnya fokus di dalam negeri dengan tujuan mewariskan ilmu dan semangat kepada generasi di bawahnya. ,” tegasnya.


“Ketika impian meraih beasiswa tercapai, maka pulanglah. Dana yang digunakan berasal dari publik, sehingga manfaatnya harus kembali kepada pengabdian pada negara. Negara kita kaya, kok. Banyak kemanfaatan dan keberkahan yang bisa diraih,” tuturnya.


Ia menambahkan, bahwa sebagai anak bangsa, janganlah melupakan jasa tanah kelahiran.


“Kita semua yang dewasa, bisa sekolah bisa hidup Merdeka sampai saat ini, karena di tanah kelahiran kita hidup bersama keluarga, merasakan pendidikan dan hidup cukup sehingga bisa melewati semua proses kehidupan. Hal ini jangan dinafikan,” pungkasnya.


Di akhir, ning Lia pun menilai narasi yang memberi ruang terlalu longgar bagi alumni untuk bekerja di luar negeri berpotensi menggeser orientasi pengabdian. Padahal, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia unggul yang telah ditempa melalui pendidikan global. (Red) 

Bagikan:

Komentar