|
Menu Close Menu

Muktamar NU 2026, Gus Lilur Ingatkan Bahaya Politik Uang

Senin, 06 April 2026 | 08.17 WIB

Gus Lilur.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya — Rencana pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 tahun 2026 terus menjadi perhatian berbagai kalangan. Forum tertinggi organisasi Islam terbesar di dunia ini dinilai bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan, tetapi momentum strategis untuk menentukan arah dan wajah NU ke depan. 


Tokoh Nahdliyin, M. Khallilur R. Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, menegaskan pentingnya menjadikan Muktamar sebagai ruang refleksi organisasi. Ia mengingatkan agar NU tetap berpegang teguh pada nilai-nilai dasar kelahirannya di tengah dinamika politik yang terus berkembang.


Menurutnya, salah satu hal paling krusial adalah komitmen tegas menolak praktik politik uang dalam seluruh proses Muktamar. Ia menilai, integritas forum harus dijaga agar tetap menjadi ajang musyawarah bermartabat, bukan ruang transaksi kepentingan.


“Politik uang adalah haram, dan NU tidak boleh dibangun di atas sesuatu yang haram. Seluruh peserta Muktamar harus memastikan diri tidak terlibat dalam praktik tersebut,” tegasnya, Senin (6/4/2026).


Gus Lilur yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Netra Bakti Indonesia menekankan bahwa keterlibatan dalam politik uang tidak hanya merusak nilai moral, tetapi juga berpotensi menyeret institusi ke dalam persoalan hukum, termasuk risiko tindak pidana korupsi hingga pencucian uang.


Ia mengingatkan bahwa menjaga marwah NU berarti menjaga kepercayaan masyarakat yang selama ini menjadi kekuatan utama organisasi. Oleh karena itu, langkah-langkah pembenahan internal dinilai penting untuk memastikan NU tetap berdiri sebagai pilar moral bangsa.


Lebih lanjut, Gus Lilur mendorong Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk memperkuat tata kelola organisasi, termasuk bersikap tegas terhadap oknum yang terindikasi melanggar prinsip integritas. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat citra NU sebagai organisasi yang bersih dan independen.


Ia juga menyoroti pentingnya menjaga jarak yang sehat antara NU dan kepentingan politik praktis. Menurutnya, NU harus tetap menjadi kekuatan moral yang membimbing, bukan alat kepentingan sesaat.


Dalam konteks persiapan Muktamar, Gus Lilur turut mengingatkan agar seluruh panitia, termasuk yang dipimpin oleh Saifullah Yusuf, dapat menjaga profesionalitas dan independensi demi suksesnya penyelenggaraan forum.


“Muktamar harus menjadi momentum untuk menghadirkan kepemimpinan ulama yang alim, berintegritas, dan memiliki kejernihan pandangan, bukan sekadar kedekatan politik,” ujarnya.


Sebagai alumnus Pesantren Denanyar, Gus Lilur menegaskan bahwa NU sejak awal didirikan oleh para ulama sebagai penjaga nilai dan arah umat. Karena itu, ia berharap ruh perjuangan tersebut tetap menjadi pijakan utama dalam setiap keputusan organisasi.


Sementara itu, agenda Konferensi Besar (Konbes) yang dijadwalkan pada 25 April 2026 mendatang diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat konsolidasi dan pembenahan internal. Forum tersebut dinilai strategis untuk menegaskan kembali komitmen NU sebagai organisasi yang bersih, mandiri, dan berdaya.


Menutup pernyataannya, Gus Lilur mengajak seluruh elemen Nahdliyin untuk menjaga nilai “amar ma’ruf nahi mungkar” sebagai fondasi gerak organisasi. Ia optimistis, dengan komitmen bersama, NU akan terus menjadi kekuatan moral yang membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa. (Had) 

Bagikan:

Komentar