![]() |
| Ilustrasi Petani Tebu. (Dok/Istimewa). |
Praktisi petani tebu sekaligus pengurus HKTI Lumajang, H. Mustafa Ainul Yakin, menilai peningkatan produksi merupakan hal positif bagi ketahanan pangan nasional. Namun, ia mengingatkan agar keberhasilan tersebut juga diikuti dengan peningkatan kesejahteraan petani.
Menurutnya, petani masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tingginya biaya produksi hingga sistem yang dinilai belum sepenuhnya transparan. Ia menekankan pentingnya memastikan bahwa petani tidak hanya menjadi bagian dari angka statistik, tetapi juga merasakan manfaat nyata dari peningkatan produksi.
“Produksi yang meningkat tentu patut diapresiasi. Namun, kesejahteraan petani juga harus menjadi prioritas agar pembangunan sektor gula berjalan berimbang,” ujarnya kepada media, Selasa (14/04/2026).
Ia juga menyoroti sistem rendemen yang selama ini kerap menjadi perhatian petani. Transparansi dalam proses penimbangan dan pengolahan tebu dinilai penting untuk menjaga kepercayaan serta keadilan bagi petani.
Selain itu, Mustafa berharap merger BUMN dapat membawa dampak nyata di tingkat akar rumput, seperti kemudahan akses pupuk, bibit unggul, serta dukungan teknis yang berkelanjutan bagi petani tebu.
Sebagai langkah konstruktif, HKTI Lumajang mendorong digitalisasi sistem rendemen agar data pengolahan tebu dapat diakses secara real-time oleh petani. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan akuntabilitas dan meminimalisasi potensi kesenjangan informasi.
Di sisi lain, peningkatan produksi juga diharapkan berdampak pada perbaikan harga beli tebu rakyat. Dengan demikian, petani dapat merasakan langsung manfaat dari kinerja sektor industri gula nasional.
HKTI Lumajang juga menekankan pentingnya membangun kemitraan yang setara antara BUMN dan petani. Petani diharapkan ditempatkan sebagai mitra strategis dalam rantai produksi, bukan sekadar objek kebijakan.
“Harapannya, kemajuan industri gula nasional dapat dirasakan bersama. Gula yang dihasilkan tidak hanya manis di pasar, tetapi juga membawa kesejahteraan bagi petani,” pungkasnya. (Had)


Komentar