|
Menu Close Menu

Akademisi AS di FISIP UNAIR Soroti Budaya Menulis Ilmiah, Dorong Karya Akademik Lebih Jelas dan Berdampak

Kamis, 21 Mei 2026 | 22.04 WIB

Akademisi asal Amerika Serikat, Ronald Lukens-Bull, saat memberikan kuliah tamu di FISIP Unair, Surabaya.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya – Kuliah tamu bertema “Scientific Writing in International Journals” di FISIP Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Kamis (21/5/2026), menjadi ruang diskusi yang mendorong refleksi tentang budaya akademik dan pola penulisan ilmiah di Indonesia. Di hadapan puluhan mahasiswa doktoral yang memenuhi Ruang PBB Gedung C FISIP UNAIR, akademisi asal Amerika Serikat, Ronald Lukens-Bull, membagikan pandangannya mengenai pentingnya membangun tradisi menulis yang efektif, jelas, dan relevan dengan kebutuhan pembaca.


Dalam sesi yang dimoderatori Sulih Indra Dewi tersebut, Ronald menekankan bahwa menulis karya ilmiah bukan sekadar menunjukkan kemampuan akademik, tetapi bagaimana gagasan dapat tersampaikan secara kuat dan mudah dipahami.


“Menulis itu bukan buat pamer kepintaran,” ujar Ronald yang disambut perhatian serius para peserta.


Menurut dia, banyak tulisan akademik di Indonesia masih cenderung menggunakan kalimat panjang, istilah teknis berlebihan, dan penyampaian yang tidak langsung menuju pokok persoalan. Padahal, publikasi ilmiah internasional justru lebih menekankan ketajaman argumen serta kemampuan menyampaikan ide secara sederhana dan efektif.


“Write to express and connect, not to impress,” katanya.


Ronald menilai, dalam budaya akademik, kompleksitas tulisan kerap dianggap sebagai ukuran kecerdasan. Padahal, menurutnya, karya ilmiah yang baik justru mampu menjelaskan gagasan secara lugas sehingga substansi penelitian lebih mudah dipahami pembaca.


Ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi akademisi Indonesia, terutama terkait tingginya tuntutan publikasi ilmiah di tengah beban administratif yang cukup besar.


Menurut Ronald, situasi tersebut dapat menjadi tantangan lebih kompleks bagi akademisi perempuan yang sering menghadapi tanggung jawab ganda antara pekerjaan akademik dan peran domestik.


Karena itu, ia mendorong mahasiswa doktoral untuk memulai proses menulis dari hal-hal yang dekat dengan pengalaman pribadi maupun bidang yang benar-benar dikuasai.


“Kalau kamu menulis sesuatu yang dekat dengan dirimu, kamu akan lebih mudah menyelesaikannya,” ujarnya.


Selain itu, Ronald juga mengingatkan pentingnya membangun tulisan yang menarik dan mampu memunculkan rasa ingin tahu pembaca. Ia menilai penelitian tidak cukup hanya berfokus mencari empirical gap, tetapi juga harus menghadirkan nilai, konteks, dan tujuan penelitian secara jelas.


“Bikin tulisanmu membuat orang penasaran,” katanya.


Menurut dia, kualitas riset tidak hanya ditentukan banyaknya data, tetapi juga kemampuan peneliti menjelaskan konsep, definisi, konteks, serta arah penelitian secara sistematis.


Dalam sesi interaktif tersebut, Ronald turut membagikan kebiasaan pribadinya membaca sekitar 200 artikel ilmiah setiap tahun untuk memperluas perspektif akademik.


Ia juga mendorong mahasiswa untuk memperkaya wawasan melalui bacaan lintas disiplin ilmu agar mampu menghadirkan sudut pandang yang lebih luas dalam penelitian.


Salah satu buku yang direkomendasikannya ialah Weapons of the Weak yang dinilai dapat membantu memahami pendekatan multidisipliner dalam ilmu sosial.


Tak hanya berbagi teori, Ronald juga memperkenalkan konsep “Arisan Jurnal”, yakni forum rutin antarpeneliti untuk berdiskusi mengenai perkembangan tulisan, saling memberi masukan terhadap jurnal, serta menjaga konsistensi menulis secara kolektif.


Gagasan tersebut mendapat respons positif dari peserta karena dinilai menjadi pendekatan yang lebih aplikatif dalam membangun budaya akademik yang produktif.


Bagi Ronald, tantangan terbesar dalam menghasilkan karya ilmiah bukan semata kemampuan intelektual, tetapi soal konsistensi dan keberanian menempatkan kegiatan menulis sebagai prioritas.


“It’s all about priority,” ujarnya.


Kuliah tamu tersebut tidak hanya menghadirkan pembelajaran mengenai teknik publikasi internasional, tetapi juga menjadi ruang berbagi perspektif untuk mendorong budaya akademik yang lebih terbuka, komunikatif, dan berorientasi pada kualitas karya ilmiah yang memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat. (Red) 

Bagikan:

Komentar