Oleh: Tiara Sevi Nurmanita, S.Pd., M.Pd.
( Dosen PGSD Universitas Terbuka)
Lensajatim.id, Opini- Beberapa waktu lalu ketika menyaksikan film seri yang berjudul “Catatan Perjalanan Santai di Dunia Lain: Aku Menjadi Petualang Sembari Mengasuh Anak”, fokus tertuju pada salah satu adegan di episode 5. Si tokoh utama mengajak si anak kembar belajar mengenal. Berawal dari menunjukkan jenis dan perhitungan uang sampai diajak langsung ke pasar untuk membeli buah secara mandiri. Adegan itu hanya berlangsung beberapa menit, tetapi meninggalkan kesan yang mendalam. Anak-anak tidak diajarkan melalui ceramah panjang, tetapi langsung belajar melalui pengalaman langsung: memilih barang, bertanya harga, menyerahkan uang kepada pedagang, lalu menghitung kembali uang kembalian yang diterima. Di balik aktivitas yang tampak sederhana itu tersimpan pelajaran tentang tanggung jawab, pengambilan keputusan, dan penghargaan terhadap nilai uang.
Dari adegan tersebut, muncul di ingatan pernah melihat sebuah postingan cerita seorang ibu dengan pengalamannya dalam memberikan uang saku kepada anaknya. Seorang ibu membiasakan anaknya membuat laporan sederhana mengenai penggunaan uang saku yang diterimanya setiap hari. Bukan untuk mengawasi secara berlebihan, melainkan untuk melatih anak bertanggung jawab atas setiap rupiah yang digunakan. Anak diajak merefleksikan apakah uangnya dipakai untuk kebutuhan, keinginan, atau justru hal-hal yang kurang bermanfaat.
Dari contoh dua kisah tersebut, memperlihatkan satu benang merah yang sama, bahwa pendidikan literasi keuangan dapat dimulai dari aktivitas yang sangat sederhana. Sayangnya, dalam praktik pendidikan kita, pembelajaran tentang uang masih sering dianggap sebagai urusan orang dewasa. Anak-anak dinilai cukup belajar membaca, menulis, dan berhitung, sementara kemampuan mengelola uang dianggap akan datang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Tak heran beberapa di sosial media juga ada cerita di mana ada orang tua yang tidak percaya anak mereka untuk memegang uang bahkan membelanjakan uang.
Terkadang ketidakpercayaan tersebut berefek jangka panjang kepada anak. Banyak orang dewasa yang merasa persoalan mengelola uang dapat dipelajari ketika mereka sudah bekerja atau memiliki penghasilan sendiri. Padahal, pandangan tersebut justru membuat banyak anak kehilangan kesempatan untuk membangun kebiasaan finansial yang baik sejak dini. Memang benar anak-anak terkadang mengerti terkait transaksi jual-beli dengan uang. Ada juga yang mengalami kasus penipuan. Sayangnya jika tidak sedari dini anak-anak tidak dikenalkan dengan uang dan diajak mengenal transaksi, imbasnya tanggung jawab terhadap uang tidak terbentuk.
Belajar tentang uang bukan berarti mengajarkan anak cara menghamburkan uang atau mengenalkan instrumen investasi yang rumit. Pada usia sekolah dasar, pembelajaran keuangan lebih diarahkan pada kemampuan memahami nilai uang, membedakan kebutuhan dan keinginan, membiasakan menabung, serta bertanggung jawab terhadap uang yang dimiliki (Mangkuwinata, dkk, 2023). Keterampilan sederhana ini merupakan bagian dari kemampuan kehidupan yang akan terus digunakan sepanjang kehidupan.
Literasi keuangan merupakan aspek penting dalam pembangunan individu dan masyarakat secara keseluruhan, khususnya anak usia dini, dimana mereka masuk di fase kritis dalam pembentukan kebiasaan dan pengetahuan keuangan (Yasinta, dkk, 2024). Pada tahap ini, anak mulai mampu berpikir logis terhadap benda atau situasi yang nyata di sekitarnya. Mereka lebih mudah memahami konsep melalui pengalaman langsung daripada penjelasan yang abstrak. Oleh karena itu, mengajak anak berbelanja di pasar, menghitung uang, atau menentukan pilihan barang sesuai anggaran akan jauh lebih bermakna dibanding sekadar menjelaskan konsep hemat dan menabung melalui ceramah.
Dari sisi pendidikan karakter, mengenalkan uang sejak dini juga menjadi sarana menanamkan berbagai nilai positif (Amaliya, dkk, 2024). Anak belajar disiplin melalui kebiasaan menabung, belajar bertanggung jawab terhadap penggunaan uang saku, belajar jujur ketika melakukan transaksi, dan belajar hidup sederhana dengan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dengan kata lain, literasi keuangan tidak hanya berbicara tentang kemampuan mengenal nilai uang atau menghitung nominal, tetapi juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan karakter yang akan melekat hingga mereka dewasa (Fadillah, 2023).
Apakah pengenalan uang hanya dari praktik belanja ke pasar atau membuat laporan sederhana? Tentu tidak. Ada beragam praktik sederhana selain kita mengenalkan uang secara teori pada anak di rumah ataupun di sekolah. Belajar menggunakan uang dengan bijak dan mengelolanya tidak hanya berada di pembelajaran sekolah, tapi di rumah dan di lingkungan juga bisa. Pendidikan keuangan dapat hadir melalui berbagai aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan anak. Orang tua dapat mengajak anak menyusun daftar belanja sebelum pergi ke pasar atau minimarket, kemudian mendiskusikan barang mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang sekadar diinginkan. Dari kegiatan sederhana ini, anak belajar menyusun prioritas dan memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi terhadap uang yang dimiliki.
Di rumah, kebiasaan menabung juga dapat menjadi media belajar yang menyenangkan. Anak dapat diberi target sederhana, misalnya menabung untuk membeli buku cerita, alat tulis, atau mainan yang diinginkan. Proses menyisihkan uang sedikit demi sedikit mengajarkan bahwa memperoleh sesuatu memerlukan usaha, kesabaran, dan perencanaan. Pengalaman tersebut akan jauh lebih bermakna dibanding sekadar memberikan barang yang diinginkan secara instan.
Lingkungan sekitar pun dapat menjadi ruang belajar yang kaya akan pengalaman. Ketika anak diajak berbelanja di pasar tradisional, membantu orang tua membayar di kasir, atau sekadar menghitung uang kembalian, mereka sedang belajar mengenal nilai uang dalam situasi nyata. Demikian pula ketika anak diberi tanggung jawab mengelola uang saku selama satu hari atau satu minggu, mereka belajar membuat pilihan dan mempertanggungjawabkan setiap pengeluaran yang dilakukan.
Sekolah juga memiliki peluang besar untuk memperkuat literasi keuangan melalui pembelajaran yang kontekstual. Guru dapat menghadirkan pasar mini di kelas, permainan jual beli, proyek menabung bersama, dan kegiatan lainnya yang tanpa harus menambah mata pelajaran baru. Aktivitas-aktivitas tersebut memungkinkan siswa belajar melalui pengalaman langsung, sehingga konsep tentang uang tidak berhenti pada teori, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Belajar menggunakan uang dengan bijaksana tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Rumah, sekolah, pasar, bahkan lingkungan sekitar dapat menjadi laboratorium kehidupan yang mengajarkan anak tentang tanggung jawab, pengendalian diri, dan kemampuan mengambil keputusan. Ketika keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama menghadirkan pengalaman belajar yang sederhana namun bermakna, literasi keuangan tidak lagi menjadi konsep yang abstrak, melainkan menjadi bekal hidup yang akan tumbuh bersama perkembangan anak.
Sumber Rujukan:
Nigorikawa, A. (sutradara). (2024). Catatan Perjalanan Santai di Dunia Lain: Aku Menjadi Petualang Sembari Mengasuh Anak [Muse Indonesia]. EMT Squared. https://youtu.be/N8bJaS2MllU?si=PjQRUr8feiY8Fwyw
Mangkuwinata, D. S., Safrina, E., & Haryani, H. (2023). Sosialisasi tentang Pengelolaan Keuangan Sejak Dini Melalui Pembelajaran Karakter Gemar Menabung pada Anak-Anak di Desa Lhok Krek Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Utara. Aceh Journal of Community Engagement (AJCE), 2(1), 33–37. https://doi.org/10.51179/ajce.v2i1.2155
Yasinta, T., Firdaus, F., & Nurhayati, N. (2024). Pengembangan literasi keuangan anak usia dini melalui praktik menabung di Penang Malaysia. Society: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(4), 211-219. https://doi.org/10.55824/jpm.v3i4.418
Amaliya, N. F., Ruslan, D., & Saomi, M. R. (2025). Pendidikan Karakter Ekonomi Anak Usia Dini Melalui Program Celengan Seribu Sehari di TKIT Gemintang Subang. Cipulus Edu: Jurnal Pendidikan Islam, 3(2), 54-62. https://journal.albadar.ac.id/index.php/JPIcipulus/article/view/425
Fadillah Alfarizka, D. Z. I. K. R. A. (2023). Pengaruh Metode Bercerita Terhadap Peningkatan Kemampuan Literasi Sosial Finansial Anak Usia Dini (Doctoral dissertation, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu). https://repository.uinfasbengkulu.ac.id/2126/


Komentar