![]() |
| Dosen UIN Madura, Busahwi bersama Wakil Rektor I UIN Malik Ibrahim Malang disela-sela ujian terbuka untuk program doktor di Kampus UIN Malik Ibrahim Malang.(Dok/Istimewa). |
Gelar akademik tertinggi tersebut diraih setelah Busahwi menjalani proses panjang penelitian dan mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka program doktoral dengan predikat cumlaude yang digelar di kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Rabu (24/6/2026).
Saat dikonfirmasi media, Busahwi membenarkan capaian tersebut. Ia mengaku bersyukur dan menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan selama proses penyelesaian studi doktoralnya.
“Alhamdulillah dan terima kasih kepada bapak-ibu, para promotor, dan seluruh kolega yang sudah terlibat dalam proses disertasi,” ucap Busahwi saat memberikan sambutan usai dikukuhkan sebagai doktor.
Akademisi asal Kabupaten Sumenep itu menegaskan bahwa keberhasilannya meraih gelar doktor bukanlah akhir dari perjalanan intelektual. Sebaliknya, capaian tersebut menjadi pintu masuk untuk terus belajar dan berkontribusi lebih luas dalam dunia akademik.
Menurutnya, gelar doktor merupakan gerbang baru untuk semakin giat mengembangkan ilmu pengetahuan serta memberikan manfaat bagi masyarakat melalui karya-karya akademik.
Dalam sidang terbuka tersebut, Busahwi berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Konstruksi Kiai Madura Tentang Pendidikan Moderasi Beragama di Pesantren.”
Penelitian tersebut mengkaji secara mendalam pandangan para kiai Madura mengenai pendidikan moderasi beragama di lingkungan pesantren, sekaligus menjelaskan peran sentral kiai dalam membangun kehidupan masyarakat yang moderat.
Melalui penelitian itu, Busahwi juga menguraikan karakteristik masyarakat Madura dan posisi strategis kiai sebagai tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk nilai-nilai sosial dan keagamaan.
Kajian tersebut menggunakan pendekatan teori yang dikembangkan oleh Peter L. Berger untuk menjelaskan proses konstruksi sosial yang berlangsung dalam pendidikan moderasi beragama di pesantren.
Hasil penelitian Busahwi dinilai menjadi salah satu rujukan penting dalam pengembangan kajian moderasi beragama di lingkungan pesantren sebagai bagian dari entitas masyarakat yang memiliki peran strategis dalam menjaga harmoni kehidupan berbangsa dan beragama.
Sebagai bagian dari penelitian, Busahwi melakukan studi lapangan di tiga pesantren dengan karakteristik berbeda di Madura.
Ketiga pesantren tersebut yakni Pesantren Al-Hikam Kemayoran Bangkalan yang mewakili pesantren modern, Pesantren As-Sirojiyyah Kajuk yang merepresentasikan pesantren salaf, serta Pesantren Nurul Hikmah Blumbungan yang mengalami transformasi dari pesantren salaf menuju pesantren modern.
Sidang terbuka doktoral tersebut dihadiri sejumlah akademisi terkemuka yang bertindak sebagai penguji dan pembimbing.
Tim penguji terdiri atas M. Zainuddin sebagai Penguji I, Fadil sebagai Penguji II, Basri Zain sebagai Penguji III, serta Like Raskova Octaberlina sebagai Ketua Penguji.
Sementara itu, Ahmad Fatah Yasin bertindak sebagai sekretaris sekaligus Penguji IV. Adapun promotor disertasi adalah Umi Sumbulah dengan pendamping Samsul Susilawati.
Suasana sidang terbuka berlangsung khidmat dan penuh apresiasi. Sejumlah kolega, akademisi, pejabat UIN Madura, hingga aktivis lintas organisasi turut hadir memberikan dukungan serta penghormatan atas capaian akademik yang berhasil diraih Busahwi.
Keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menambah deretan akademisi Madura yang berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam kajian moderasi beragama dan pendidikan pesantren di Indonesia. (Had)


Komentar