![]() |
| Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Muhammad Habibur Rochman. (Dok/Istimewa). |
Menurutnya, pemerintah perlu memberi perhatian lebih besar terhadap peningkatan produktivitas lahan yang telah ada agar target produksi pangan dapat dicapai secara berkelanjutan.
Gus Habib, sapaan akrab Habibur Rochman, menyoroti besarnya porsi anggaran yang masih diarahkan untuk program cetak sawah, optimalisasi lahan, pembangunan irigasi, hingga pengadaan alat dan mesin pertanian.
"Kami melihat bahwa program cetak sawah dan optimalisasi lahan menjadi salah satu tulang punggung pencapaian target produksi pangan. Namun pertanyaannya, apakah akar persoalan produksi pangan nasional saat ini benar-benar terletak pada kurangnya luas lahan, atau justru pada rendahnya tingkat produktivitas lahan yang sudah ada?" ujar Gus Habib.
Pernyataan itu disampaikan dalam rapat kerja Komisi IV DPR RI bersama Menteri Pertanian di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Rapat tersebut membahas Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Kementerian Pertanian Tahun Anggaran 2027.
Legislator Partai NasDem itu menegaskan, peningkatan produktivitas harus menjadi fokus utama pemerintah. Salah satunya melalui penguatan riset pertanian yang dilakukan secara intensif dan berkelanjutan.
Ia menilai riset sangat dibutuhkan untuk menghasilkan benih dan bibit unggul yang mampu mendongkrak hasil produksi petani.
"Kami mendorong peningkatan produktivitas melalui pendekatan riset yang intensif dan berkelanjutan untuk menghasilkan benih dan bibit unggul. Produksi pangan tidak semata-mata meningkat karena cetak sawah yang masif, tetapi juga karena penggunaan benih dan bibit unggulan," tegasnya.
Selain itu, Habib juga menyoroti peran strategis penyuluh pertanian dalam mendampingi petani di lapangan.
Ia mengingatkan adanya tantangan serius karena banyak tenaga penyuluh yang mulai memasuki masa pensiun.
Saat ini, lanjut Habib, masih terdapat penyuluh yang harus mendampingi tiga hingga empat desa sekaligus. Kondisi tersebut berpotensi semakin berat apabila kebutuhan tenaga penyuluh tidak segera dipenuhi.
"Jangan sampai kekosongan penyuluh nantinya menjadi problem di lapangan. Ini harus kita pikirkan bersama karena banyak penyuluh yang mulai memasuki masa pensiun," katanya.
Tak hanya sektor tanaman pangan, Habib juga meminta pemerintah memberi perhatian lebih besar terhadap subsektor peternakan.
Menurutnya, kebutuhan daging dan susu nasional masih menjadi tantangan yang harus dijawab melalui penguatan sektor peternakan sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan nasional.
Di sisi lain, ia menilai program hilirisasi pertanian perlu memperoleh porsi anggaran yang lebih besar di lingkungan Kementerian Pertanian.
Sebab, nilai tambah bagi petani tidak hanya berasal dari peningkatan produksi, tetapi juga dari kemampuan mengolah hasil pertanian menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
"Kami meminta Kementerian Pertanian memastikan setiap tambahan anggaran benar-benar diarahkan pada program yang memiliki dampak langsung terhadap peningkatan produksi pangan, peningkatan kesejahteraan petani, serta pencapaian target swasembada pangan," ujarnya.
Habib menegaskan efektivitas penggunaan anggaran harus menjadi perhatian utama pemerintah.
Ia berharap setiap rupiah yang dibelanjakan benar-benar menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Penggunaan anggaran harus efektif dan memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan memberikan hasil yang nyata bagi bangsa dan negara," pungkasnya. (Red)


Komentar