|
Menu Close Menu

Gus Yahya Dorong Pesantren Adaptif, Kiai Imam Jazuli Gaungkan Semangat Nahnu Hadapi Disrupsi

Minggu, 07 Juni 2026 | 21.41 WIB

 

Gus Yahya saat membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-3 di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (6/6/2026). Foto: Dok. Bima.
Lensajatim.id, Cirebon-Upaya memperkuat kesiapan pesantren menghadapi era disrupsi mendapat apresiasi dari Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf. Menurutnya, pesantren harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan identitas utamanya sebagai pusat pembinaan spiritual dan penjaga umat.


Apresiasi tersebut disampaikan Gus Yahya saat membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-3 yang digelar di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif besar Workshop 5.000 Pengasuh Pesantren Se-Indonesia yang digagas Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli.


Di hadapan sekitar 150 pengasuh pesantren dari berbagai daerah di Jawa Barat, Gus Yahya menegaskan bahwa kekuatan utama pesantren terletak pada kemampuannya menjaga nilai-nilai spiritual di tengah arus perubahan yang terus bergerak cepat.


“Di tengah perubahan saat ini, para kiai harus tetap menghidupkan quwwah ruhaniyah atau kekuatan spiritual pesantren sebagai pilar untuk melahirkan kader-kader yang menjadi kekuatan peradaban,” ujar Gus Yahya.


Menurutnya, para ulama terdahulu telah mewariskan fondasi yang menjadikan pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan juga tempat penyucian jiwa sekaligus pusat ri'ayatul ummah atau penjagaan terhadap umat.


Sementara itu, KH Imam Jazuli menjelaskan bahwa workshop tersebut lahir dari kegelisahan terhadap perubahan besar yang terjadi di berbagai sektor kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Menurutnya, perubahan yang berlangsung saat ini tidak bisa diabaikan dan harus direspons secara tepat.


Ia mencontohkan banyak korporasi dan institusi besar di dunia yang tumbang karena gagal beradaptasi dengan perubahan. Sebaliknya, tidak sedikit yang justru berkembang pesat karena mampu membaca arah perkembangan zaman.


“Workshop ini hadir untuk berbagi strategi bagaimana merespons perubahan secara tepat dan proaktif,” kata Kiai Imam.


Menurutnya, anggapan bahwa minat masyarakat terhadap pesantren menurun tidak sepenuhnya benar. Yang terjadi justru pergeseran preferensi dari model pesantren lama menuju model pesantren yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat saat ini.


“Terjadi migrasi dari pesantren model lama ke pesantren model baru. Terbukti banyak pesantren yang usianya belum 10 tahun tetapi jumlah santrinya meledak. Ini menunjukkan pentingnya kemampuan merespons perubahan,” ujarnya.


Dalam kesempatan tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren VIP Bina Insan Mulia Cirebon itu juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi Nahdlatul Ulama (NU) memasuki abad kedua. Menurutnya, tantangan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh individu maupun kelompok tertentu secara parsial.


KH Imam Jazuli menegaskan perlunya transformasi cara berpikir dari paradigma “ana wal akhar” (aku dan mereka) menuju semangat “nahnu” (kita) sebagai fondasi kebangkitan organisasi ulama dan peradaban Islam.


“Tantangan abad kedua NU tidak bisa dijawab oleh satu figur atau satu kelompok saja. Menghadapi disrupsi teknologi, tantangan ekonomi umat, dan perubahan sosial yang sangat cepat, kekuatan NU justru terletak pada kemampuan mengonsolidasikan seluruh potensi yang dimiliki,” ujarnya.


Menurutnya, mentalitas ana wal akhar yang melahirkan sekat-sekat kelompok, faksi, dan kepentingan personal berpotensi menghambat optimalisasi potensi besar yang dimiliki NU.


Ia menjelaskan bahwa filosofi nahnu merupakan manifestasi semangat ukhuwah nahdliyah yang diterjemahkan ke dalam praktik profesionalisme modern yang berjalan berdampingan dengan spirit khidmah jam’iyyah. Dalam konsep tersebut, seluruh kader NU, mulai dari kalangan ulama, intelektual, profesional, birokrat hingga aktivis akar rumput, memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun peradaban serta memperkuat jam’iyyah dan jamaah NU.


“Kita harus menjadi super tim yang solid. Kelemahan satu kader ditutupi oleh kelebihan kader lainnya. Tidak ada lagi ruang untuk berjalan sendiri-sendiri atau saling meniadakan,” tegas kiai yang dikenal sebagai pengusaha bersahaja tersebut.


KH Imam Jazuli menilai NU saat ini memiliki modal sumber daya manusia yang sangat besar. Para ulama, akademisi, profesional, dan generasi muda NU telah tersebar di berbagai sektor strategis, baik di tingkat nasional maupun internasional.


Menurutnya, potensi tersebut perlu dikonsolidasikan melalui pemetaan talenta, kolaborasi lintas generasi, serta pembangunan ekosistem kerja yang mampu mendorong sinergi dan inovasi.


Lebih lanjut, ia menekankan bahwa semangat nahnu harus diwujudkan dalam sistem tata kelola organisasi yang modern dan berkelanjutan. Kekuatan jam’iyyah, kata dia, harus ditempatkan di atas figuritas individu agar keberlangsungan perjuangan NU tidak bergantung pada sosok tertentu, melainkan pada sistem yang kuat dan adaptif.


Di era digital, transformasi tersebut juga membutuhkan integrasi data dan digitalisasi potensi kader. Keterbukaan informasi antar lembaga di lingkungan NU diyakini dapat mempercepat kolaborasi sekaligus mengurangi ego sektoral yang kerap muncul akibat minimnya koordinasi.


Selain itu, semangat kolektif juga harus diarahkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi umat. Jaringan pesantren, modal warga, dan kepakaran profesional NU dinilai dapat disinergikan menjadi kekuatan ekonomi besar yang mampu menopang agenda dakwah sekaligus pemberdayaan umat secara mandiri.


“Perbedaan pandangan di internal NU harus dipandang sebagai khazanah intelektual yang memperkaya pilihan strategi organisasi, bukan sebagai ancaman perpecahan. Dengan semangat tabayyun dan keterbukaan, NU akan semakin kuat menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya.


Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-3 ini menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat kapasitas kepemimpinan pesantren dalam menghadapi perubahan yang semakin dinamis. Melalui penguatan spiritualitas, kolaborasi, dan adaptasi terhadap perkembangan zaman, pesantren diharapkan terus menjadi pilar penting dalam membangun peradaban dan menjaga kemaslahatan umat. (Red) 

Bagikan:

Komentar