|
Menu Close Menu

Mahfud MD: Warisan Kiai Agung Rabah Harus Terus Hidup dalam Perjuangan Generasi Penerus

Jumat, 05 Juni 2026 | 13.12 WIB

 

Mantan Calon Wakil Presiden RI, Mahfud MD. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Pamekasan– Mantan Calon Wakil Presiden RI, Mahfud MD, menyampaikan pesan khusus dalam peringatan Haul ke-526 Kiai Agung Rabah Pamekasan sekaligus Hari Lahir (Harlah) Pondok Pesantren Syaikh Abdurrahman Rabah di Sumedangan, Pademawu, Pamekasan.


Melalui rekaman yang disampaikan dari Studio Terus Terang, Mahfud MD mengucapkan selamat atas terselenggaranya haul dan harlah yang menjadi momentum penting untuk menjaga warisan perjuangan para ulama.


"Saya Mohammad Mahfud MD, Putera Madura, mengucapkan selamat dan sukses atas penyelenggaraan Haul Kiai Agung Rabah ke-526 dan Harlah Pondok Pesantren Syaikh Abdurrahman Rabah. Semoga nilai-nilai perjuangan Syaikh Abdurrahman Rabah dan perjuangan Pondok Pesantren Rabah senantiasa dipelihara oleh keluarga dan keturunannya, sehingga nilai-nilai tersebut berkontribusi positif dalam kemajuan masyarakat Indonesia, dan mendorong peran serta Madura untuk menyongsong peradaban Indonesia yang lebih maju," ujar Mahfud MD, Kamis, (05/06/2026). 


Kiai Agung Rabah dikenal sebagai salah satu Waliyullah Madura. Secara genealogis, beliau merupakan keturunan Sunan Kudus melalui jalur Kiai Mandaraga dan Kiai Bukabu Sumenep.


Pegiat Persatuan Bani Bhuju' (PBB), Firman Syah Ali, menjelaskan bahwa Kiai Agung Rabah tidak memiliki putra. Namun, warisan spiritual, intelektual, dan dakwahnya tetap berlanjut melalui garis keluarga terdekat.


Menurut Firman, estafet perjuangan tersebut diteruskan oleh keponakan kandungnya, Kiai Adil.


"Kiai Agung Rabah tidak mempunyai putera, tapi nilai spiritual, intelektual dan dakwahnya diwariskan kepada keponakan kandungnya, Kiai Adil. Kiai Adil ini kemudian dijuluki sebagai Bhuju' Rabah II, sebagai penerus Kiai Agung Rabah. Keturunan Kiai Adil inilah yang kemudian oleh masyarakat disebut sebagai Potoh Rabah," ujar Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU tersebut.


Firman menuturkan, Kiai Adil merupakan putra dari Dewi Asri, saudara kandung Kiai Agung Rabah.


Ia menjelaskan, Dewi Asri menikah dengan Kiai Abdul Qidam. Dalam tradisi Bani Walisongo, kata dia, praktik endogami atau pernikahan dengan keluarga dekat menjadi tradisi yang dijaga secara turun-temurun.


"Kiai Adil alias Bhuju' Rabah II adalah putera dari saudara kandung Kiai Agung Rabah yang bernama Dewi Asri. Dewi Asri menikah dengan salah satu keluarga dekatnya yang bernama Kiai Abdul Qidam. Dalam tradisi Bani Walisongo, sangat tidak mungkin seorang Kyai/Nyai menikah dengan keluarga jauh, mereka istiqomah melakukan Endogami, yaitu praktik pernikahan dengan saudara dekat," lanjut Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP) tersebut.


Firman menambahkan, dari pernikahan Dewi Asri dan Kiai Abdul Qidam Arsojih lahir keturunan yang kemudian dikenal sebagai tokoh-tokoh penting di berbagai bidang.


"Alhamdulillah, buah pernikahan Dewi Asri dengan Kiai Abdul Qidam Arsojih, oleh Allah dijinkan menurunkan raja-raja, negarawan dan ulama besar. Di antara keturunannya adalah Bindere Saot, pembuka dinasti terakhir Kerajaan Sumenep, KH As'ad Syamsul Arifin, Pahlawan Nasional RI, serta Mahfud MD, Mantan Calon Wakil Presiden RI," ujar Panglima Nahdliyin Bergerak (NABRAK) itu.


Ia juga menjelaskan bahwa praktik endogami yang dilakukan kalangan raja dan ulama pada masa lalu menyebabkan hubungan genealogis keturunan Kiai Abdul Qidam berkembang ke banyak jalur keluarga besar lainnya.


"Karena para Raja dan Kiai dulu berendogami, maka garis genealoginya bercabang kemana-mana. Artinya keturunan Kiai Abdul Qidam bisa juga sekaligus merupakan keturunan dari raja-raja dan kiai lainnya. Contohnya Prof Mahfud MD," katanya.


Menurut Firman, Mahfud MD selain merupakan keturunan Kiai Abdul Qidam, juga memiliki hubungan genealogis dengan Bhuju' Agung Toronan, Bhuju' Macan Alas, Bhuju' Azhar Seda Bulangan, Raja-raja Mataram, Sunan Cendana, Pangeran Katandur dan sejumlah tokoh lainnya.


Ia menyebutkan, catatan genealogis tersebut tersimpan pada sejumlah munsib yang dinilai otoritatif, di antaranya NAAT, Raden Abdul Hamid Suryodirjo Palalang, dan Raden Sufandi Carek Samaator.


Menutup keterangannya, Firman mengajak keluarga besar Potoh Rabah untuk menjadikan pesan Mahfud MD sebagai semangat dalam melanjutkan perjuangan para pendahulu.


"Menyimak pesan Prof Mahfud MD itu, kita para Potoh Rabah hendaknya mewarisi api dari nilai dan perjuangan Kiai Agung Rabah, bukan mewarisi abu. Jangan hanya warisi nasabnya, tapi warisi tirakatnya, warisi dakwahnya," pungkas Ketua Umum Solidaritas Masyarakat Membangun Pamekasan Sejahtera (SORBAN MERA). (Man) 

Bagikan:

Komentar