|
Menu Close Menu

MAN 2 Pamekasan Gandeng IBS PKMKK Cetak Generasi Berkarakter

Kamis, 11 Juni 2026 | 09.04 WIB

 

MoU Antara MAN 2 Pamekasan dengan IBS PKMKK. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Pamekasan – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Pamekasan mengambil langkah inovatif dalam penguatan pendidikan karakter dengan menjalin kerja sama strategis bersama Islamic Boarding School (IBS) Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK). Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui program penguatan tahfidz Al-Qur'an yang dijadikan sebagai pengganti praktik kerja lapangan (PKL) bagi sejumlah siswa.


Program ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepakatan antara kedua lembaga. Sebanyak tujuh siswa MAN 2 Pamekasan mengikuti pembinaan intensif selama 15 hari di lingkungan IBS PKMKK.


Selama mengikuti program, para siswa mendapatkan penguatan hafalan Al-Qur'an, tahsin, pembiasaan ibadah, serta pendidikan karakter Islami. Pembinaan tersebut diharapkan mampu membentuk pribadi yang unggul, baik secara spiritual maupun akademik.


Kerja sama ini lahir dari kesadaran bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik tinggi. Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat dan berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda, lembaga pendidikan dituntut mampu membentuk karakter, memperkuat spiritualitas, serta membangun ketangguhan mental peserta didik.


Direktur Utama IBS PKMKK, Achmad Muhlis, mengatakan kerja sama tersebut merupakan bagian dari ikhtiar bersama dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki fondasi keislaman yang kuat.


"Kami menyambut baik kepercayaan yang diberikan MAN 2 Pamekasan kepada IBS PKMKK. Program ini bukan sekadar penguatan hafalan Al-Qur'an, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, dan pembiasaan nilai-nilai Islami yang menjadi bekal penting bagi para siswa dalam menghadapi masa depan," ujarnya, Rabu (10/6/2026).


Menurutnya, lingkungan pesantren memiliki keunggulan dalam membentuk budaya belajar dan karakter peserta didik melalui pembiasaan yang berlangsung secara berkelanjutan.


"Kami berharap para siswa tidak hanya membawa tambahan hafalan setelah mengikuti program ini, tetapi juga membawa semangat baru dalam menjalankan ajaran Islam di kehidupan sehari-hari. Inilah investasi pendidikan yang manfaatnya akan dirasakan dalam jangka panjang," tambahnya.


Program tersebut juga menunjukkan adanya perluasan makna kompetensi dalam dunia pendidikan Islam. Jika selama ini praktik kerja lapangan identik dengan penguatan keterampilan teknis yang berkaitan dengan dunia kerja, pendidikan Islam memandang kompetensi secara lebih luas.


Kompetensi itu mencakup kemampuan mengelola diri, membangun integritas, mengendalikan hawa nafsu, serta menumbuhkan kesadaran moral sebagai bekal menghadapi kehidupan.


Melalui interaksi intensif dengan Al-Qur'an, para siswa tidak hanya ditargetkan mampu meningkatkan hafalan. Mereka juga diharapkan membangun fondasi intelektual dan spiritual yang akan memengaruhi cara berpikir, bersikap, serta menjalani kehidupan di masa mendatang.


Kepala MAN 2 Pamekasan, Mohammad Holis, menegaskan program penguatan tahfidz bersama IBS PKMKK merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam menghadirkan pendidikan yang seimbang antara aspek akademik dan spiritual.


"Kami ingin peserta didik memiliki kompetensi yang utuh. Selain menguasai ilmu pengetahuan, mereka juga harus memiliki karakter yang baik dan kedekatan dengan Al-Qur'an. Sebab itu, kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam mendukung visi pendidikan yang kami bangun di MAN 2 Pamekasan," tuturnya.


Kolaborasi MAN 2 Pamekasan dan IBS PKMKK juga menjadi contoh pentingnya sinergi antar lembaga pendidikan Islam dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang saling melengkapi.


Lingkungan pesantren dinilai memiliki keunggulan dalam membangun budaya keteladanan, kedisiplinan, pembiasaan ibadah, serta kehidupan komunal yang berlangsung selama 24 jam.


Di lingkungan tersebut, proses pendidikan tidak hanya berlangsung melalui transfer ilmu pengetahuan. Pendidikan juga berjalan melalui pembiasaan perilaku dan internalisasi nilai-nilai kehidupan.


Para siswa dibiasakan bangun sebelum fajar, melaksanakan salat berjamaah, murojaah hafalan, menjaga adab kepada guru, serta hidup bersama dalam suasana yang mendukung pembentukan karakter.


Holis berharap pengalaman belajar selama 15 hari di lingkungan pesantren dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi para siswa.


"Kami berharap siswa mendapatkan pengalaman berharga yang tidak hanya meningkatkan kemampuan tahfidz dan tahsin, tetapi juga membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, serta akhlak yang lebih baik. Nilai-nilai itulah yang nantinya akan mereka bawa ke lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat," pungkasnya.


Selain berkontribusi terhadap penguatan karakter, program tahfidz juga diyakini memiliki dampak positif terhadap kesehatan mental peserta didik. Proses menghafal Al-Qur'an melatih fokus, ketekunan, disiplin, serta kemampuan mengendalikan diri.


Aktivitas murojaah yang dilakukan secara rutin mengajarkan kesabaran dan konsistensi, sementara pembiasaan ibadah membantu menciptakan ketenangan batin serta stabilitas emosi.


Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda, seperti krisis identitas, kecanduan media digital, menurunnya daya tahan mental, hingga lemahnya kemampuan mengelola emosi, pendidikan berbasis Al-Qur'an dinilai menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun ketahanan psikologis generasi masa depan. (Man) 

Bagikan:

Komentar