|
Menu Close Menu

Reog Ponorogo Jadi Inspirasi Inovasi di Edu Kampus School Expo 2026

Jumat, 05 Juni 2026 | 13.28 WIB

 

Anggota DPD RI Lia Istifhama saat hadir dalam acara Edu Kampus School Expo 2026 di Jatim Expo Surabaya. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya– Edu Kampus School Expo 2026 di Jatim Expo Surabaya tidak hanya menghadirkan informasi seputar pendidikan dan pilihan kampus. Ajang ini juga menjadi ruang kreatif yang memperlihatkan bagaimana budaya lokal mampu bertransformasi menjadi inovasi yang menarik perhatian generasi muda.


Salah satu yang mencuri perhatian pengunjung adalah produk berbasis kearifan lokal yang mengangkat ikon budaya Reog Ponorogo. Produk tersebut tampil dengan konsep dan kemasan yang terinspirasi dari seni pertunjukan khas Jawa Timur yang telah dikenal hingga tingkat internasional.


Kehadirannya menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat modern. Budaya tidak lagi hanya hadir di panggung pertunjukan atau museum, tetapi juga dapat diwujudkan dalam produk kreatif yang relevan dengan kebutuhan masa kini.


Sepanjang pameran berlangsung, produk bertema Reog Ponorogo tersebut mendapat respons positif dari pelajar dan mahasiswa. Banyak pengunjung tertarik karena konsepnya yang unik, memadukan identitas budaya daerah dengan perkembangan industri kreatif yang sedang tumbuh pesat.


Pendekatan ini sekaligus membuktikan bahwa budaya lokal memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi produk bernilai ekonomi. Tidak hanya memperkuat identitas daerah, tetapi juga membuka peluang agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.


Pameran tersebut menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya dan pengembangan usaha kreatif dapat berjalan beriringan. Ketika nilai budaya dikemas secara inovatif, keberadaannya menjadi lebih mudah diterima dan dikenal oleh berbagai kalangan.


Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, memberikan apresiasi terhadap berbagai inovasi yang mengangkat kekayaan budaya lokal melalui produk kreatif.


Menurutnya, langkah tersebut merupakan salah satu cara efektif untuk menjaga keberlangsungan budaya di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat.


"Budaya lokal tidak hanya dilestarikan melalui pertunjukan seni, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi dan mampu dikenal lebih luas oleh masyarakat," ujar Lia.


Ia menilai generasi muda memiliki posisi penting dalam menghadirkan ide-ide baru yang mampu menjembatani warisan budaya dengan kebutuhan pasar modern, tanpa menghilangkan nilai dan makna yang terkandung di dalamnya.


Lia menegaskan bahwa inovasi berbasis budaya bukan sekadar menciptakan produk baru. Lebih dari itu, inovasi menjadi sarana untuk memperkuat identitas daerah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.


Menurutnya, ketika budaya lokal dikemas secara kreatif dan menarik, potensi tersebut dapat berkembang menjadi sumber pendapatan berkelanjutan bagi pelaku UMKM, komunitas budaya, hingga desa-desa wisata.


"Budaya adalah aset yang sangat berharga. Jika dikelola dengan baik dan dikembangkan melalui kreativitas, budaya dapat menjadi kekuatan ekonomi yang memberi manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkenalkan identitas daerah kepada dunia," kata Lia.


Melalui beragam produk berbasis kearifan lokal yang ditampilkan, Edu Kampus School Expo 2026 tidak hanya memperluas wawasan pendidikan para pengunjung. Pameran ini juga menginspirasi generasi muda untuk melihat budaya sebagai sumber inovasi dan peluang masa depan.


Kehadiran Reog Ponorogo dalam bentuk produk kreatif menjadi contoh nyata bahwa warisan budaya dapat terus hidup, berkembang, dan beradaptasi dengan zaman. Dengan kreativitas, budaya tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah bagi kehidupan masyarakat saat ini. (Red) 

Bagikan:

Komentar