|
Menu Close Menu

Willy Aditya Ajak Budayakan Literasi untuk Semua Kalangan

Senin, 29 Juni 2026 | 09.34 WIB

Kegiatan Festival Literasi yang digelar Perpustakaan DPR RI di Lantai 1 Gedung Perpustakaan DPR RI.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Jakarta– Festival Literasi yang digelar Perpustakaan DPR RI menghadirkan diskusi berbeda dari biasanya. Di lantai satu Gedung Perpustakaan DPR RI, Kamis (25/6/2026), sekitar 50 peserta mengikuti talk show yang tidak membahas angka-angka kebijakan maupun perdebatan politik, melainkan bagaimana sebuah bangsa membaca dirinya sendiri melalui literasi budaya.


Talk show bertajuk "Literasi Budaya untuk Demokrasi: Merawat Kearifan, Menguatkan Kebangsaan" yang berlangsung pukul 13.00–15.00 WIB itu menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang berbeda, yakni anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem Willy Aditya, pegiat literasi Wien Muldian, serta dosen komunikasi Universitas Bina Nusantara sekaligus peneliti doktoral bidang komunikasi, Andari Karina Anom, S.Sos., M.A.


Di tengah berbagai pembahasan, perhatian peserta tertuju pada gagasan yang disampaikan Willy Aditya. Berbeda dari kebanyakan politisi yang berbicara mengenai kebijakan atau regulasi literasi, Willy justru menyoroti kelompok yang selama ini jarang mendapat perhatian dalam akses terhadap literasi.


Ia berbicara tentang office boy (OB), petugas pengamanan dalam (Pamdal), karyawan Sekretariat Jenderal DPR RI, hingga para sopir anggota DPR yang setiap hari beraktivitas di koridor dan area parkir gedung parlemen.


"Niat baik membangun literasi bisa dimulai dari hal-hal yang ada di sekitar kita, untuk orang-orang di lingkungan kita sendiri," ujar Willy.


Menurutnya, budaya literasi harus menjangkau seluruh kalangan tanpa memandang profesi. Karena itu, ia mengusulkan keberadaan pojok baca di area basement, tempat parkir, hingga ruang istirahat karyawan. Ruang-ruang yang selama ini hanya menjadi tempat singgah, menurutnya, dapat diubah menjadi ruang belajar yang mudah diakses siapa pun.


"Memang para pemimpin sidang di DPR ini bisa lancar berkat siapa jika bukan karena pengamanan para Pamdal? Memang kerja para TA (Tenaga Ahli) bisa selancar apa jika beberapa kebutuhannya tidak ditopang oleh para OB?" ungkapnya secara retorik.


Tak berhenti pada gagasan, Willy juga membagikan buku diari atau buku harian kepada petugas kebersihan, petugas keamanan, dan karyawan DPR RI yang hadir dalam kegiatan tersebut.


"Bukan buku tebal berisi teori. Hanya sebuah buku catatan kecil dengan harapan besar bahwa menulis, seperti membaca, bisa menjadi kebiasaan yang tumbuh dari keseharian," katanya saat menyerahkan buku secara simbolis.


Willy menegaskan, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca, tetapi juga memahami suatu persoalan secara utuh dan mampu menuangkannya dalam bentuk tulisan.


"Karena literasi bukan sekadar membaca. Literasi adalah pengetahuan yang memadai tentang sesuatu hal. Karena itulah dibutuhkan juga menulis agar tumbuh dialektika di dalam pikiran kita. Itulah sejatinya literasi," imbuhnya.


Talk show tersebut menegaskan bahwa literasi bukan hanya milik kalangan akademisi atau peserta seminar. Literasi adalah ruang bersama yang dapat tumbuh di mana saja, mulai dari kantin, ruang istirahat, hingga area parkir, selama ada kemauan untuk membaca, berdiskusi, dan menulis.


Melalui pendekatan tersebut, Festival Literasi Perpustakaan DPR RI diharapkan mampu memperluas budaya literasi agar semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. (Red) 

Bagikan:

Komentar