|
Menu Close Menu

Jelang Muktamar ke-35 NU, Bursa Calon Ketum Menghangat, AHWA Jadi Perhatian

Jumat, 24 Juli 2026 | 13.26 WIB

Lensajatim.id, Surabaya– Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, dinamika internal organisasi semakin menghangat. Forum permusyawaratan lima tahunan tersebut diharapkan menjadi momentum memperkuat persatuan dan rekonsiliasi warga NU.


Wakil Ketua Umum DPP BariKade Gus Dur, Sudarsono Rahman, menyebut hingga saat ini sedikitnya terdapat 10 nama yang telah menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Para kandidat juga mulai melakukan safari politik ke berbagai PWNU, PCNU, hingga para kiai sepuh.


Menurutnya, proses tersebut tentu membutuhkan energi dan biaya yang tidak sedikit.


Adapun nama-nama yang telah mencuat di antaranya KH Yahya Cholil Staquf, KH Abdus Salam Shohib, KH Nazarudin Umar, KH M Yusuf Chudori, KH Zulfa Mustofa, Heri Azumi, KH Abdul Hakim Mahfudz, KH Abdul Gaffar Rozin, KH Gudfan Ghofur, dan KH Marsudi Suhud. Tidak menutup kemungkinan akan muncul nama-nama baru menjelang pelaksanaan muktamar.


"Banyaknya kandidat itu bukti NU tidak kekurangan kader pemimpin, tapi yang penting adalah harus bisa ukur diri, jangan sampai bajunya kedodoran," ujar Cak Dar, Aktivis NU Jawa Timur sekaligus Penggagas 9 Maklumat Cheng Hoo, Jumat (24/07/2026). 


Di tengah ramainya bursa calon Ketua Umum PBNU, proses penentuan Rais Aam dan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) justru berlangsung lebih tenang. Meski demikian, proses tersebut disebut tetap diwarnai berbagai dinamika.


Salah satu isu yang berkembang adalah adanya dorongan agar calon anggota AHWA berasal dari unsur struktur Syuriah di PBNU, PWNU, maupun PCNU. Gagasan tersebut sebelumnya disebut tidak memperoleh dukungan dalam Munas dan Konbes NU di Ploso.


Selain itu, muncul pula wacana penambahan jumlah anggota AHWA dari sembilan orang menjadi 16 atau 17 orang. Hingga kini, belum diketahui dasar filosofis dari usulan perubahan jumlah tersebut.


"Muktamirin diharapkan memilih anggota AHWA yang benar-benar wara', waskita, dan bijak. Bukan karena faktor struktur atau kepentingan sesaat," tegasnya.


Dengan berbagai dinamika yang berkembang, Muktamar ke-35 NU dinilai menjadi momentum penting bagi warga Nahdliyin untuk memilih kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh elemen organisasi.


Latar belakang perbedaan pandangan yang kerap disebut sebagai "Faksi Kramat" dan "Faksi Sulthan" menjadikan muktamar kali ini memiliki tanggung jawab besar dalam memperkuat soliditas organisasi. Karena itu, para muktamirin diharapkan dapat memilih pemimpin yang netral, kapabel, akseptabel, serta mampu menjadi jembatan bagi seluruh unsur di tubuh NU.


"Semoga Muktamirin memilih Ketua Umum sesuai hati nurani, bukan karena besarnya mahar," tandasnya.


Muktamar ke-35 NU di Jombang diharapkan tidak hanya menghasilkan kepengurusan baru, tetapi juga semakin memperkokoh persatuan Nahdlatul Ulama dalam menghadapi berbagai tantangan umat di masa mendatang. (Red) 

Bagikan:

Komentar