![]() |
| Anggota DPD RI Lia Istifhama saat berkunjung ke Ponpes Canga'an, Bangil, Kabupaten Pasuruan.(Dok/Istimewa). |
Pesantren yang tercatat berdiri sejak tahun 1710 Masehi itu dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan para ulama besar yang kemudian menjadi pendiri NU. Karena nilai historisnya yang sangat kuat, Lia menyebut Pondok Pesantren Canga'an sebagai "Rumah Besar Nahdlatul Ulama."
Menurut perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu, sejumlah tokoh besar NU pernah menimba ilmu di pesantren yang didirikan oleh Syekh Jalaluddin atau Mbah Lowo Ijo tersebut. Di antaranya Syaikhona Kholil Bangkalan, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, hingga KH Hasbullah, ayah dari KH Wahab Hasbullah.
"Pondok Pesantren Canga'an ini punya nilai sejarah yang tinggi. Pondok ini bukan sekadar tua, tapi tempat menimba ilmu para pendiri NU. Jadi bisa dibilang titik awal NU berasal dari Pondok Canga'an," ujar Ning Lia, Rabu (22/7/2026).
Senator asal Daerah Pemilihan Jawa Timur itu juga memberikan apresiasi kepada para dzurriyah Pondok Pesantren Canga'an yang dinilainya memiliki komitmen kuat menjaga keberadaan pesantren, baik dari sisi keaslian bangunan maupun keberlanjutan fungsinya sebagai lembaga pendidikan para santri.
Menurut Lia, mempertahankan eksistensi pesantren berusia ratusan tahun di tengah derasnya arus modernisasi bukanlah perkara mudah, terlebih lokasinya berada di pusat Kota Bangil.
"Saya mengapresiasi keluarga besar Pondok Pesantren Canga'an yang tetap konsisten mempertahankan pesantren tersebut. Merawat Pesantren Canga'an sama dengan merawat sejarah NU. Sebab benang merah NU berasal dari sini," terangnya.
Bagi putri almarhum KH Masykur Hasyim itu, kunjungan ke Ponpes Canga'an bukan hanya memiliki makna sejarah bagi Nahdlatul Ulama, tetapi juga menyimpan kenangan yang sangat personal.
Lia mengungkapkan, almarhum ayahnya merupakan alumni santri Pondok Pesantren Canga'an. Karena itu, ia mengaku merasakan getaran emosional saat memasuki Jerambah KH Hasyim Asy'ari, aula yang dahulu menjadi tempat sang ayah menimba ilmu agama.
Bahkan, saat melihat salah satu kamar di kompleks Jerambah KH Hasyim Asy'ari, Lia mengaku merasakan ikatan batin yang begitu kuat. Menurut firasatnya, kamar nomor dua di sisi kiri merupakan tempat ayahnya dahulu beristirahat ketika menjadi santri.
"Masyaallah, Pesantren Canga'an ini bukan saja bersejarah bagi Nahdlatul Ulama, tapi juga bagi saya. Di sinilah ayah saya pernah menimba ilmu, sebelum melanjutkan belajar ke Pesantren Tambakberas, Jombang, yang menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU," pungkasnya. (Red)


Komentar