Dalam pertemuan itu, KH Imam Jazuli menilai Gus Muhaimin merupakan salah satu tokoh penting di lingkungan NU yang memiliki tanggung jawab historis, moral, dan ideologis terhadap keberlangsungan organisasi yang didirikan para ulama, termasuk para muassis NU.
"Sebagai cicit salah satu muassis Nahdlatul Ulama, Gus Muhaimin memiliki tanggung jawab biologis sekaligus ideologis untuk menjaga arah dan masa depan NU. Karena itu, setiap langkah dan pandangan beliau selalu menjadi perhatian nahdliyin dan tidak bisa dilepaskan dari dinamika yang terjadi di tubuh NU," ujar Kiai Imjaz, sapaan akrab KH Imam Jazuli, dalam keterangan pers, Senin (29/6/2026).
Suasana diskusi berlangsung hangat namun penuh keseriusan. Keduanya membahas berbagai tantangan dan persoalan yang dihadapi NU saat ini.
"Kami sepakat bahwa hiruk-pikuk, gonjang-ganjing, dan disorientasi di lingkungan organisasi ulama ini harus dihentikan. NU memiliki tugas sangat besar dalam bidang sosial, pendidikan, keagamaan, kesehatan, dan ekonomi yang menyentuh langsung kebutuhan jamaah. Jangan sampai energi organisasi habis untuk persoalan perebutan pengaruh dan kekuasaan internal," tegasnya.
KH Imam Jazuli menegaskan pentingnya membangun hubungan yang sehat dan produktif antara NU dan PKB. Menurutnya, kedua institusi lahir dari akar sejarah dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah sehingga semangat kebersamaan perlu terus dirawat.
"NU dan PKB lahir dari rahim perjuangan yang sama. Karena itu, hubungan keduanya harus ditata kembali secara dinamis, harmonis, dan sinergis. Yang diperlukan bukan saling menguasai atau mengkooptasi, melainkan saling menguatkan sesuai peran dan fungsi masing-masing," katanya.
Ia menambahkan, pembagian peran yang jelas menjadi langkah terbaik untuk menjaga marwah sekaligus efektivitas perjuangan kedua lembaga tersebut.
"NU harus fokus pada penguatan sosial, pendidikan, dakwah, keagamaan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Sementara PKB menjalankan peran politik kebangsaan melalui jalur demokrasi dan kebijakan publik. Ketika masing-masing berjalan sesuai khittah dan tugasnya, maka manfaatnya akan dirasakan langsung oleh nahdliyin dan masyarakat luas," imbuhnya.
KH Imam Jazuli mengaku selalu menemukan optimisme dalam setiap pertemuannya dengan Gus Muhaimin. Ia menilai Ketua Umum PKB tersebut memiliki visi yang kuat untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian warga nahdliyin di berbagai sektor.
"Saya melihat Gus Muhaimin memiliki semangat yang sangat besar dan visi yang kuat untuk membangkitkan nahdliyin agar lebih maju dan berdaya di berbagai bidang. Semangat itu tidak hanya sekadar gagasan, tetapi juga diwujudkan secara konkret dan bertahap melalui berbagai kebijakan, regulasi, program pemberdayaan, dan penguatan aspirasi nahdliyin melalui jalur politik kebangsaan," ujarnya.
Ia berharap semangat kolaborasi antara NU dan PKB dapat menjadi inspirasi bagi seluruh elemen organisasi untuk lebih mengutamakan kepentingan umat.
"Yang terpenting adalah bagaimana seluruh energi yang dimiliki NU dan PKB diarahkan untuk kemaslahatan umat, memperkuat pendidikan, ekonomi, dakwah, dan kesejahteraan nahdliyin. Di situlah esensi perjuangan yang harus terus dijaga bersama," tegas Kiai Imjaz.
Sementara itu, Gus Muhaimin Iskandar memberikan apresiasi kepada KH Imam Jazuli sebagai sosok kiai transformatif yang dinilai mampu memadukan khazanah keilmuan Islam dengan tantangan zaman.
"Konsep transformasi pendidikan pesantren yang dikembangkan Kiai Imam Jazuli merupakan contoh nyata bagaimana pesantren mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan jati diri dan tradisi keislaman yang kuat, dan ini harus jadi percontohan untuk pengembangan pendidikan di PBNU," ujar Cak Imin.
Ia juga menyampaikan penghargaan atas konsistensi KH Imam Jazuli dalam mengembangkan pendidikan pesantren.
"Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kiai Imam Jazuli. Beliau adalah sosok yang memiliki gagasan konsisten dan jauh melampaui zamannya. Ketika banyak lembaga pendidikan masih berfokus pada pola-pola konvensional, beliau sudah memikirkan, merancang, dan menggerakkan transformasi pendidikan di pesantren yang mampu menyiapkan generasi masa depan," kata Menko Pemberdayaan Masyarakat Kabinet Prabowo-Gibran tersebut.
Pada akhir pertemuan, KH Imam Jazuli menyerahkan cinderamata berupa Pusaka Keris Jangkung Pacar yang dibuat pada 1611 dan pernah digunakan Raja Mataram, serta Kiswah Ka'bah peninggalan 1995 kepada Gus Muhaimin Iskandar. Keris bergagang batu giok berukir pewayangan Bina Insan Mulia (BIMA) itu sebelumnya disimpan di Ndalem Pusaka Bina Insan Mulia Cirebon. Penyerahan pusaka tersebut dimaknai sebagai simbol penghormatan kepada Gus Muhaimin yang dinilai memiliki cita-cita memimpin Nusantara. (Red)


Komentar