![]() |
| Anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya, Budi Leksono.(Dok/Istimewa). |
Dalam kegiatan yang dikemas sebagai diskusi dan pembekalan politik tersebut, para peserta dikenalkan dengan fungsi, tugas, serta mekanisme kerja DPRD. Mereka juga berdialog langsung mengenai proses pengambilan kebijakan hingga jalur yang dapat ditempuh anak muda jika ingin terjun ke dunia politik.
Budi Leksono mengatakan DPRD merupakan lembaga yang terbuka bagi masyarakat. Karena itu, generasi muda perlu mengetahui secara langsung bagaimana anggota dewan bekerja sehingga tidak hanya menilai dari informasi yang beredar di luar.
"Di gedung dewan ini terbuka, tidak ada yang ditutupi. Kami menyampaikan bagaimana kinerja DPRD, produk-produk perda yang sudah dihasilkan, kemudian berdiskusi dan menjawab berbagai pertanyaan dari teman-teman," ujar Budi.
Menurut politisi PDI Perjuangan yang akrab disapa Bulek itu, antusiasme peserta sangat tinggi. Banyak di antara mereka yang ingin mengetahui proses menjadi anggota legislatif, pentingnya berorganisasi, hingga bagaimana membangun kepemimpinan sejak usia muda.
Ia menilai edukasi politik menjadi penting agar anak muda memahami bahwa setiap keputusan yang diambil DPRD harus mempertimbangkan banyak aspek, termasuk kepentingan masyarakat dan iklim investasi.
"Kadang masyarakat melihat dari satu sudut pandang saja. Padahal dalam mengambil kebijakan, dewan harus mempertimbangkan kepentingan rakyat sekaligus berbagai aspek lainnya. Karena itu kami ingin memberikan pemahaman bahwa tidak semua yang dilakukan dewan selalu seperti anggapan yang berkembang," katanya.
Budi juga mendorong Komunitas Gelora Juang untuk terus menghadirkan kegiatan-kegiatan positif. Menurutnya, komunitas tersebut dapat menjadi jembatan penyebaran informasi yang benar kepada masyarakat mengenai peran DPRD.
"Saya berharap teman-teman menyampaikan hal-hal yang baik kepada masyarakat. Berikan edukasi dan pemahaman agar masyarakat mengetahui bagaimana proses pengambilan kebijakan di DPRD," ujarnya.
Secara khusus, Budi memberikan pesan kepada kalangan Generasi Z agar mulai aktif membangun kapasitas diri melalui organisasi dan pendidikan politik.
"Gen Z itu ibarat kaset kosong. Kalau niatnya baik, maka harus kita isi dengan hal-hal yang baik, motivasi, edukasi, dan pemahaman tentang politik yang berpihak kepada rakyat," tuturnya.
Sementara itu, pendiri Komunitas Gelora Juang, Sulthan Wildan atau akrab disapa Dani, menjelaskan komunitas tersebut lahir dari obrolan sederhana bersama rekannya di sebuah warung kopi di Surabaya.
Berawal dari keinginan belajar politik secara langsung, mereka kemudian menggagas forum diskusi dengan anggota legislatif. Gagasan tersebut akhirnya berkembang menjadi komunitas yang kini memiliki sekitar 35 anggota.
"Awalnya hanya spontan saat ngopi. Kami berpikir bagaimana kalau belajar politik, bukan hanya berdiskusi sesama teman, tetapi juga langsung berdialog dengan anggota dewan. Dari situ akhirnya Gelora Juang terbentuk," kata Dani.
Saat ini, komunitas tersebut masih menggunakan rumah pendiri di kawasan Kertajaya sebagai titik berkumpul, meski sebagian besar aktivitas dilakukan di berbagai warung kopi. Ke depan, Gelora Juang menargetkan memiliki sekretariat tetap sekaligus melengkapi legalitas organisasi.
Dani menargetkan jumlah anggota meningkat menjadi sekitar 150 orang setelah struktur kepengurusan terbentuk. Dalam jangka panjang, Gelora Juang ingin menjadi wadah pendidikan politik bagi anak muda Surabaya yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga aktif turun ke masyarakat.
Menurutnya, salah satu program yang sudah berjalan adalah Sekolah Politik. Kegiatan di DPRD Surabaya menjadi agenda kedua setelah sebelumnya menggelar pembelajaran serupa di DPRD Provinsi Jawa Timur.
Ke depan, komunitas itu juga berencana mengembangkan pelatihan politik kepemudaan dengan melibatkan praktisi politik berpengalaman sebagai narasumber.
Dani mengajak generasi muda untuk tidak takut mempelajari politik karena perubahan selalu diawali dari ruang diskusi dan keberanian menyampaikan gagasan.
"Jangan pernah takut belajar politik. Mulailah dengan berdiskusi, berdialektika, dan memasyarakat. Surabaya memiliki sejarah besar dalam perjuangan bangsa, sehingga anak-anak muda harus berani mengambil peran. Wani tok," tegasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar bijak menerima informasi serta tidak mudah terpengaruh berita bohong.
"Jangan mudah percaya hoaks dan tetap junjung tinggi semangat gotong royong sebagai nilai dasar Pancasila," pungkasnya. (Red)


Komentar