|
Menu Close Menu

Ormawa Ma'had Aly Al-Karimiyyah Deklarasikan Gerakan Tolak Pernikahan Dini

Rabu, 01 Juli 2026 | 15.01 WIB

Pelantikan Pengurus Ormawa Ma'had Aly Al-Karimiyyah.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Sumenep– Momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang diperingati setiap 29 Juni dimanfaatkan Pengurus Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Ma'had Aly Al-Karimiyyah untuk mengawali masa bakti 2026–2027 dengan aksi nyata. Usai pelantikan pengurus, mereka menggelar dialog interaktif sekaligus mendeklarasikan penolakan terhadap pernikahan dini tanpa kesiapan yang memadai.


Kegiatan bertajuk "Manifestasi Sinergi Ormawa Ma'had Aly Al-Karimiyyah: Mengonstruksi Nalar Preventif Pernikahan Dini" itu berlangsung di Gedung MA Al-Karimiyyah, Senin (29/6), dan menjadi ruang diskusi mengenai pentingnya membangun keluarga yang berkualitas melalui pendidikan dan kesiapan yang matang.


Dialog menghadirkan K. Moh. Faizi, sastrawan muda asal Madura sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Sawajarin. Saat ini, ia juga aktif meneliti persoalan kehidupan berkeluarga dan menyampaikan berbagai gagasannya melalui podcast yang disiarkan secara langsung di akun TikTok IAA Kota Sumenep.


Dalam pemaparannya, K. Moh. Faizi menegaskan bahwa pernikahan tidak boleh dipandang hanya sebagai pemenuhan status yang sah secara hukum maupun agama. Menurutnya, kehidupan rumah tangga membutuhkan kesiapan menyeluruh dari kedua belah pihak.


"Ketika pernikahan dini dipaksakan tanpa kematangan yang komprehensif—baik secara finansial, psikologis, emosional, hingga kesiapan reproduksi—maka domestikasi konflik tidak akan terhindarkan. Ego yang belum matang berpotensi besar memicu pertengkaran hebat yang berujung pada tingginya angka perceraian," paparnya.


Ia juga mengajak generasi muda menjadikan pendidikan sebagai langkah preventif dalam memutus mata rantai persoalan tersebut.


"Dengan nalar kritis yang terdidik di bangku kuliah, pemuda-pemudi kita tidak akan mudah terjerumus ke dalam pusaran isu ini, melainkan mampu mengambil keputusan visioner bagi masa depan mereka," imbuhnya.


Dukungan terhadap upaya pencegahan pernikahan dini juga disampaikan Koordinator Aliansi BEM Sumenep (BEMSU), M. Salman Farid. Menurutnya, tokoh agama memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran masyarakat Madura.


"Di Madura, suara ulama dan kiai adalah titah yang paling didengar dan ditaati oleh masyarakat. Oleh karena itu, tokoh agama memiliki peran krusial sebagai garda terdepan untuk mengedukasi umat. Menjelaskan secara kultural dan teologis bahwa mencegah pernikahan dini pada anak yang belum siap adalah manifestasi dari upaya menjaga kemaslahatan keturunan (hifdzun nasl). Kolaborasi antara elemen mahasiswa dan tokoh agama mutlak diperlukan," tegas Salman.


Presiden Mahasantri Ma'had Aly Al-Karimiyyah, Ahmad Romdan, menilai keluarga memiliki peran paling menentukan dalam mencegah pernikahan dini. Menurutnya, orang tua harus menjadi pihak yang memastikan anak memperoleh kesempatan menempuh pendidikan setinggi mungkin.


"Sebaik apa pun regulasi hukum dari negara atau kampanye sosial yang kita gaungkan, benteng pertahanan paling awal dan paling menentukan ada di rumah. Orang tua harus berhenti melihat pernikahan anak di bawah umur sebagai jalan pintas untuk lepas dari tanggung jawab atau beban ekonomi. Justru sebaliknya, orang tua harus menjadi fasilitator utama yang mengamankan hak anak-anak mereka untuk menuntaskan pendidikan setinggi-tingginya," ungkap Romdan.


Puncak kegiatan ditandai dengan pembacaan Pernyataan Sikap Menolak Pernikahan Dini Tanpa Kesiapan yang Mapan. Deklarasi tersebut diikuti seluruh peserta dialog, termasuk jajaran fungsionaris BEM dari berbagai perguruan tinggi di Kabupaten Sumenep dan mahasantri Ma'had Aly Al-Karimiyyah.


Manifesto dipimpin langsung oleh Wakil Presiden Mahasantri Ma'had Aly Al-Karimiyyah, Moh. Hayat, didampingi para ketua BEM yang berdiri bersama di atas podium. Ia menegaskan bahwa deklarasi tersebut merupakan bentuk tanggung jawab sosial mahasiswa sebagai agent of change.


"Ini adalah pembuktian keseriusan kami, bukan omong kosong belaka. Realitas di lapangan menunjukkan angka perceraian sudah sangat mengkhawatirkan. Membiarkan pernikahan dini tanpa kesiapan terjadi sama saja dengan memaksakan diri membangun istana di atas pasir; fondasinya rapuh dan tinggal menunggu waktu untuk runtuh. Alih-alih menyelamatkan masa depan, kita justru sedang menanam bom waktu bagi generasi muda yang ekses buruknya akan menghancurkan keberlanjutan pendidikan di Sumenep," tegasnya yang disambut tepuk tangan peserta.


Melalui langkah awal yang bertepatan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional, Ormawa Ma'had Aly Al-Karimiyyah menegaskan komitmennya untuk berkontribusi dalam membangun ketahanan keluarga dan meningkatkan kesadaran masyarakat. Pesan yang disampaikan pun jelas, mahasantri tidak hanya mendalami khazanah keilmuan di pesantren, tetapi juga siap bersinergi menjadi lokomotif intelektual dalam menjaga masa depan generasi muda Madura. (Yud) 

Bagikan:

Komentar