![]() |
| Tampak Ihtiyatul dan Adinda saat berjualan.(Dok/Adinda) |
Ide itu muncul ketika Ihtiyatul membuat buket sebagai hadiah untuk teman-temannya yang akan mengikuti seminar proposal. Setelah mendapat permintaan dari teman lainnya, ia melihat adanya peluang untuk mengembangkan kegemaran tersebut menjadi usaha yang menghasilkan.
NgideNgado sempat vakum sebelum kembali aktif pada awal 2026. Usaha itu kemudian dijalankan bersama Adinda Anisah, 23, warga Desa Prancak.
Keduanya menjadikan NgideNgado sebagai pekerjaan sampingan setelah menyelesaikan kuliah. Ihtiyatul mengajar di SMP NU Arosbaya dan SMPI Az Ziyad, sedangkan Adinda mengajar les anak SD.
“Awalnya hanya hobi membuat kerajinan, kemudian kami melihat bahwa hobi tersebut bisa dikembangkan menjadi peluang usaha yang dapat menambah penghasilan,” kata Ihtiyatul, Rabu (26/08/2026).
Dalam pembagian tugas, Ihtiyatul bertanggung jawab terhadap bahan, pemasok, referensi produk, serta konten promosi. Adinda turut mengerjakan produk, mengelola keuangan, dan menangani desain promosi.
Bagi Adinda, usaha tersebut bukan sekadar kegiatan sampingan. NgideNgado juga menjadi sumber penghasilan tambahan yang membantunya memenuhi kebutuhan pribadi tanpa selalu bergantung pada uang jajan dari orang tua.
“Usaha ini membantu menambah penghasilan dan membuat saya bisa memenuhi kebutuhan sendiri, jadi tidak selalu meminta uang jajan kepada orang tua,” ujar Adinda, Rabu (26/08/2026).
NgideNgado menjalankan aktivitas penjualan dari rumah di Desa Prancak, Kecamatan Sepulu. Keduanya juga menerima pesanan melalui Instagram, WhatsApp, dan TikTok.
Selain itu, mereka membuka stand pada acara-acara tertentu, seperti lomba Agustusan dan pernikahan.
Produk yang ditawarkan pun semakin beragam. Tidak hanya buket uang, buket snack, dan cone buket, mereka juga membuat gantungan kunci, cermin, bando, jepit rambut, serta lampion dari kawat bulu.
Dari berbagai produk tersebut, cone buket menjadi yang paling diminati. Bahkan, saat musim kelulusan, keduanya pernah menerima sekitar 20 pesanan buket sekaligus.
Dalam proses mengembangkan usaha, Ihtiyatul dan Adinda tidak lepas dari berbagai tantangan. Mereka harus mencari pelanggan, memastikan ketersediaan bahan, hingga menghadapi risiko produk gagal yang membuat sebagian bahan terbuang.
Namun, berbagai kendala tersebut justru menjadi pengalaman bagi keduanya untuk terus memperbaiki proses produksi dan meningkatkan kualitas produk.
Ke depan, Ihtiyatul dan Adinda menargetkan memiliki tempat usaha tetap. Mereka berharap keberadaan tempat tersebut dapat membuat NgideNgado semakin dikenal sekaligus membuka peluang penghasilan yang lebih besar. (Rif)


Komentar