![]() |
| Koordinator Forum Aktivis NU Jawa Timur, Sudarsono Rahman.(Dok/Istimewa). |
Koordinator Forum Aktivis NU Jawa Timur, Sudarsono Rahman, semakin getol menyoroti dinamika jelang Muktamar tersebut. Ia menegaskan, Rais Aam merupakan posisi yang sangat strategis dalam jam’iyah NU.
Menurutnya, Rais Aam bukan sekadar jabatan struktural, melainkan representasi kepemimpinan keulamaan yang membutuhkan integritas, kealiman, keabidan, keteladanan, dan akhlak.
Forum Aktivis NU Jawa Timur mengingatkan agar pemilihan Rais Aam tetap ditempatkan sebagai proses memilih amanah keulamaan, bukan kontestasi perebutan kekuasaan.
“Rais Aam adalah amanah yang sangat tinggi. Karena itu, jabatan ini semestinya tidak diburu dan tidak diperebutkan. Justru jam’iyah yang harus melihat siapa ulama yang paling layak, paling amanah dan paling bertanggung jawab untuk menerima mandat tersebut,” ujar Sudarsono Rahman, yang akrab disapa Cak Dar, Senin (24/08/2026).
Menurutnya, pernyataan KH Ubaidillah Shodaqoh, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, yang menyebut bahwa “mempunyai keinginan menjadi Rais, itu sudah tidak memenuhi syarat menjadi Rais”, perlu ditempatkan sebagai refleksi mengenai etika kepemimpinan ulama.
“Pernyataan tersebut mengingatkan kita pada tradisi pesantren bahwa jabatan bukanlah tujuan. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar tuntutan untuk menjaga keikhlasan, tawadhu, amanah dan tanggung jawab,” katanya.
Sudarsono menegaskan, NU harus berhati-hati agar pemilihan Rais Aam tidak bergeser menjadi kontestasi elektoral yang ditandai dengan deklarasi, pembentukan tim, mobilisasi dukungan, kampanye maupun praktik transaksional.
“Rais Aam jangan sampai lahir dari siapa yang paling kuat memobilisasi suara. Rais Aam harus lahir dari kesadaran kolektif para Muktamirin tentang siapa ulama yang paling layak menerima amanah,” tegasnya.
Dalam konteks tersebut, Sudarsono juga menyinggung sikap KH Said Aqil Siroj yang, menurut informasi dan narasi yang berkembang, tidak melakukan deklarasi sebagai calon Rais Aam, tidak membentuk tim pemenangan, tidak melakukan kampanye dan mobilisasi, tidak melakukan karantina peserta Muktamar, serta tidak menjanjikan sejumlah uang seperti yang dilakukan calon Rais Aam yang lain.
“Beliau tidak pernah menyampaikan keinginan untuk maju sebagai Rais Aam, tetapi ketika Muktamirin memberikan amanah, beliau tidak akan menolaknya. Sikap seperti ini patut menjadi bahan refleksi bersama, terlepas dari siapa pun yang nantinya dipilih oleh Muktamar,” kata Sudarsono.
Ia menegaskan, Forum Aktivis NU Jatim tidak sedang mengarahkan pilihan Muktamirin kepada figur tertentu. Menurutnya, yang didorong adalah perubahan cara pandang dalam memilih Rais Aam.
“Pertanyaannya jangan hanya siapa yang paling banyak dukungan. Pertanyaan utamanya adalah siapa yang paling layak menerima amanah,” katanya.
Rais Aam Harus Dipilih karena Keteladanan
Sudarsono mengingatkan bahwa tradisi kepemimpinan pesantren berbeda dengan logika perebutan jabatan dalam politik praktis.
“Dalam tradisi pesantren, seseorang menjadi pemimpin bukan karena mengatakan dirinya mampu, tetapi karena dianggap mampu. Ia dipercaya bukan karena kampanye, tetapi karena keteladanan. Ia diberi amanah bukan karena kemampuan mengumpulkan suara, tetapi karena kealiman, akhlak dan tanggung jawabnya,” jelasnya.
Karena itu, Forum Aktivis NU Jatim mengajak seluruh Muktamirin dan warga NU untuk melihat para calon Rais Aam bukan semata dari kemampuan membayar sejumlah uang, tetapi dari rekam jejak keulamaan dan keteladanannya.
“Lihat siapa yang selama ini mengaji, mengabdi, membimbing umat, menjaga akhlak dan tidak menjadikan jabatan sebagai tujuan hidupnya. Bisa jadi orang yang paling layak justru bukan orang yang paling keras mengajukan dirinya,” ujarnya.
Sudarsono menegaskan bahwa Rais Aam bukan hadiah, bukan hasil mobilisasi, apalagi membeli suara dengan sejumlah uang.
“Rais Aam adalah amanah keulamaan,” tegasnya.
Menurutnya, semakin tinggi jabatan dalam NU, semakin rendah pula ego pribadi yang seharusnya menyertainya.
Muktamirin Harus Menjadi Penentu Amanah
Forum Aktivis NU Jatim berharap Muktamar NU ke-35 mampu menghadirkan proses pemilihan Rais Aam yang bermartabat, jernih dan mencerminkan tradisi keulamaan NU. Ia juga mengingatkan agar Muktamirin tidak memilih karena sogokan uang ratusan juta.
“Biarkan Muktamirin melihat, menimbang dan menentukan siapa ulama yang layak menerima amanah. Jangan sampai suara Muktamirin dipandang sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan,” ujar Cak Dar.
Ia menambahkan, NU membutuhkan Rais Aam yang tidak menjadi pemburu kekuasaan, tetapi menjadi penjaga moral kekuasaan.
Rais Aam juga diharapkan tidak menjadi bagian dari perebutan kepentingan, tetapi menjadi penuntun agar jam’iyah tetap berjalan dalam khittah, amanah dan kemaslahatan umat.
“Pada akhirnya, Rais Aam yang ideal bukan orang yang mengatakan ‘pilih saya’, tetapi Muktamirinlah yang mengatakan: ‘Kami melihat engkau layak, kami percaya engkau amanah, dan kami menitipkan masa depan NU kepadamu’,” pungkas Cak Dar. (Red)


Komentar