|
Menu Close Menu

KONI Jatim Dorong Atlet Laki-laki Berani Bicara, Jaga Kesehatan Mental demi Prestasi

Senin, 03 Agustus 2026 | 19.53 WIB

Ketua Umum KONI Jawa Timur, M. Nabil saat menerima Ketua DPC FPPI Kota Surabaya, Nenny W. Gunarso beserta jajarannya di Kantor KONI Jawa Timur, di Surabaya.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya— Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur memberikan perhatian serius terhadap kesehatan mental atlet, khususnya atlet laki-laki yang dinilai masih minim memiliki ruang aman untuk menyampaikan tekanan maupun persoalan yang dihadapi selama menjalani proses pembinaan.


Ketua Umum KONI Jawa Timur, M. Nabil, mengatakan masih ada fenomena yang jarang dibahas secara terbuka, yakni kecenderungan anak laki-laki, termasuk atlet, untuk memendam masalah dibandingkan menceritakannya kepada orang tua atau orang terdekat.


"Ini fenomena yang belum banyak dibahas. Anak laki-laki ketika menghadapi masalah sering tidak menyalurkannya kepada orang tua. Di dunia olahraga, mereka lebih banyak berinteraksi dengan pelatih. Jika semua dipendam, tentu akan menghambat perkembangan dan prestasi," kata Nabil di Kantor Sekretariat KONI Jawa Timur, Senin (3/8/2026).


Sebagai langkah pencegahan, KONI Jawa Timur berencana menginisiasi deklarasi yang mengajak atlet laki-laki lebih berani menyampaikan keluhan, tekanan, maupun persoalan kepada pelatih sebagai figur terdekat dalam proses pembinaan.


Dalam agenda tersebut, KONI Jatim akan melibatkan para pelatih serta perwakilan atlet dari berbagai cabang olahraga. Program ini diharapkan menjadi langkah awal membangun budaya komunikasi yang lebih sehat di lingkungan olahraga.


Nabil menegaskan bahwa bullying di dunia olahraga tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga tekanan psikologis yang muncul akibat tuntutan prestasi.


"Bullying tidak selalu fisik. Target juara, tuntutan pelatih, ekspektasi orang tua, hingga tekanan dari diri sendiri juga bisa menjadi beban psikologis yang perlu diperhatikan," ujarnya.


Menurutnya, atlet menghadapi tekanan dari berbagai arah, mulai dari target pribadi, harapan pelatih, keluarga, rekan satu tim, hingga ekspektasi masyarakat. Kondisi tersebut dialami baik oleh atlet pemula maupun atlet yang telah berulang kali meraih prestasi.


"Justru atlet yang sudah sering menang memiliki tekanan lebih besar untuk mempertahankan prestasi. Sementara atlet pemula juga tertekan untuk bisa menjadi juara. Keduanya sama-sama memiliki beban mental," jelasnya.


Rencana deklarasi itu juga sejalan dengan kampanye "Ayah Bunda, Anak Laki-Lakimu Butuh Kamu" yang diinisiasi DPC Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Kota Surabaya bersama RSD Prof. dr. Moeljono. Kampanye tersebut mengajak orang tua memberikan ruang aman bagi anak laki-laki untuk mengekspresikan emosi tanpa stigma.


Ketua DPC FPPI Kota Surabaya, Nenny W. Gunarso, mengatakan masih banyak orang tua yang menganggap anak laki-laki tidak boleh mengeluh. Padahal, kebiasaan memendam emosi dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental.


"Sering kali anak laki-laki diminta untuk tidak mengadu. Padahal memendam rasa sakit atau kecewa itu bisa berbahaya," ujarnya.


Sebagai bentuk komitmen membangun ekosistem olahraga yang lebih sehat secara mental, KONI Jawa Timur bersama FPPI dan RSD Prof. Dr. Moeljono Surabaya akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) sekaligus menggelar deklarasi pada Selasa, 11 Agustus 2026, di Gedung KONI Jawa Timur.


Gerakan tersebut ditargetkan dapat diperluas ke berbagai daerah di Jawa Timur dan menjadi bagian dari pembinaan atlet menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027.


"Harapan kami, tidak ada lagi anak laki-laki yang memendam masalah sendiri. Pelatih harus menjadi tempat yang aman bagi atlet untuk bercerita, agar persoalan bisa diselesaikan lebih cepat dan tidak mengganggu perkembangan maupun prestasi mereka," pungkas Nabil. (Red) 

Bagikan:

Komentar