|
Menu Close Menu

Maknai Peringatan Maulid Nabi, Ubah Kegembiraan Spiritual Menjadi Modal Sosial!

Rabu, 26 Agustus 2026 | 13.40 WIB

Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, Dirut IBS PKMKK Pamekasan dan Ketua Senat UIN Madura. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Pamekasan- Di tengah budaya masyarakat modern yang cenderung mengukur kebahagiaan dari aspek materialistik—seperti harta, jabatan, dan pengakuan sosial—konsep kegembiraan dalam Islam sering kali disalahartikan. 


Menanggapi fenomena tersebut, Direktur Utama IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan sekaligus Ketua Senat UIN Madura, Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis, mengajak umat Islam untuk melakukan reorientasi makna kebahagiaan melalui refleksi Al-Qur'an Surat Yunus ayat 58.


Prof. Achmad Muhlis menjelaskan bahwa Al-Qur'an tidak pernah melarang manusia untuk merasa gembira. Namun, Al-Qur'an memberikan fondasi filosofis dan epistemologis agar kegembiraan manusia tidak kehilangan arah.


"Al-Qur'an mengarahkan agar kegembiraan memiliki orientasi transendental. Kebahagiaan sejati tidak diukur dari apa yang kita miliki, melainkan dari sejauh mana kita menyadari hadirnya karunia (fadhlullah) dan rahmat Allah (rahmatullah) dalam kehidupan sehari-hari," tutur Prof. Muhlis.


Dia meyakinkan bahwa pesan utama dari QS. Yunus ayat 58 ("Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan") adalah menggeser pusat kebahagiaan dari kepemilikan material menuju kebermaknaan spiritual.


Sebagai contoh konkret, ia menyebut pencapaian seorang anak yang berhasil menghafal Al-Qur'an. Menurutnya, kegembiraan atas capaian tersebut hendaknya tidak berhenti pada kebanggaan akademik atau kepuasan ego semata, melainkan dirayakan sebagai wujud syukur atas karunia Allah yang harus dijaga melalui amal nyata.


Lebih lanjut, Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam ini juga mengaitkan refleksi ayat tersebut dengan momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Para ulama sepakat menjadikan ayat ini sebagai landasan dasar kebolehan mengekspresikan kegembiraan atas hadirnya Rasulullah SAW yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin).


Namun, Prof. Muhlis memberikan catatan penting agar ekspresi kegembiraan keagamaan tersebut tidak berhenti menjadi ritual simbolis semata. Kegembiraan spiritual, tegasnya, harus mampu ditransformasikan menjadi energi sosial dan kepedulian antar sesama.


"Ketika masyarakat berkumpul memperingati Maulid, membaca Al-Qur'an, bershalawat, menyantuni anak yatim, hingga berbagi makanan kepada yang membutuhkan, di situlah kegembiraan individual bertransformasi menjadi modal sosial. Kebahagiaan pribadi dikonversikan menjadi kebahagiaan bersama," jelasnya.


Ia menambahkan bahwa masyarakat tidak boleh hanya dipersatukan oleh kepentingan ekonomi, tetapi juga oleh nilai dan pengalaman spiritual bersama. Dalam lingkungan pesantren dan masyarakat umum, perayaan keagamaan harus menjadi ruang reproduksi nilai—tempat generasi tua menanamkan rasa cinta kepada Nabi, dan generasi muda belajar bahwa kegembiraan beragama wajib membuahkan kepedulian sosial.


"Kegembiraan yang bersumber dari rahmat Allah akan melahirkan rasa syukur. Syukur melahirkan kepedulian, dan kepedulian melahirkan kemanfaatan nyata bagi sosial. Sebaliknya, kebahagiaan yang berpusat pada ego dan materi hanya akan memicu kesombongan serta kompetisi yang tidak sehat," tegas Ketua Senat UIN Madura tersebut.


Menutup refleksinya, Prof. Achmad Muhlis menekankan bahwa pesan terbesar QS. Yunus ayat 58 adalah menjadikan kegembiraan sebagai pemantik perubahan perilaku.


"Semakin seseorang mengenal dan mencintai Rasulullah, semestinya makin lembut akhlaknya, makin luas kepeduliannya, dan makin besar manfaat yang ia bagikan kepada sesama. Kegembiraan paling bernilai bukanlah karena banyaknya hal yang berhasil kita kumpulkan, melainkan karena menyadari rahmat Allah yang kemudian kita bagikan kembali kepada kehidupan," pungkasnya. (Red) 

Bagikan:

Komentar