Oleh: H. Muzammil Syafi'i
Lensajatim.id, Opini- Dinamika politik organisasi menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) kian menghangat.
Sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan terbesar di Tanah Air, riak-riak perbedaan pandangan, silang pendapat, hingga perdebatan mengenai kepemimpinan masa depan jam’iyah adalah keniscayaan.
NU bukan lembaga yang steril dari dinamika, dan kita sepakat bahwa organisasi yang sehat tidak boleh alergi terhadap kritik.
Namun, mengamati arus perbincangan di ruang publik belakangan ini, ada kecenderungan yang mengkhawatirkan.
Batas antara kritik konstruktif dan perusakan marwah organisasi semakin kabur.
Atas nama transparansi dan demokrasi internal, tak jarang tuduhan, asumsi, hingga pembeberan masalah internal diumbar ke media sosial tanpa memedulikan etika.
Kita perlu meletakkan perselisihan pada tempatnya.
Kritik terhadap arah kebijakan maupun akuntabilitas tata kelola jam’iyah adalah hak—bahkan kewajiban—setiap warga Nahdliyin.
Tetapi ketika kritik disusupi niat untuk menjatuhkan, mempermalukan, dan memecah belah, di sinilah adab berorganisasi tengah dipertaruhkan.
Kebenaran tidak akan pernah bisa ditegakkan melalui fitnah dan prasangka.
Media ini memandang bahwa tradisi tabayyun (klarifikasi) dan kehati-hatian dalam mengolah informasi harus dikembalikan ke poros utama.
Di era disrupsi digital, desas-desus dengan mudah dipoles menjadi seolah-olah "fakta" hanya karena diulang-ulang.
Sikap menahan diri dan memverifikasi kebenaran sebelum melempar tuduhan bukanlah bentuk ketakutan, melainkan cerminan kedewasaan berorganisasi.
Menjaga marwah NU tentu bukan berarti menutupi kesalahan atau merawat impunitas.
Pelanggaran dan penyimpangan tetap harus ditindak tegas sesuai mekanisme AD/ART organisasi.
Namun, ada batas tegas antara menyelesaikan persoalan melalui musyawarah internal dan mempertontonkan persoalan demi kepuasan publik semata.
Kerusakan sosial akibat aksi saling mempermalukan di ruang terbuka kerap kali jauh lebih destruktif ketimbang kekeliruan awalnya.
Muktamar hanyalah helatan berkala yang berlangsung beberapa hari, sedangkan ukhuwah Nahdliyin dan amanah para muassis (pendiri) mengikat sepanjang hayat.
Siapa pun kandidat yang bertarung dan bagaimanapun hasil keputusan Muktamar ke-35 nanti, rumah besar NU harus tetap berdiri kokoh.
Kita berharap para elite, kader, dan warga Nahdliyin dapat menahan diri dari tindakan yang justru merusak rumah sendiri.
Kembalikan Muktamar pada spirit utamanya: panggung ilmu, akhlak, musyawarah, dan keikhlasan.
Mengkritik boleh keras, tetapi adab dan persaudaraan jangan sampai tanggal.


Komentar