![]() |
Oleh: H. Achmad Sudiyono
Lensajatim.id, Opini — Kabar pelaksanaan Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, pada 2026 tentu menjadi kabar baik bagi seluruh warga Nahdlatul Ulama, termasuk saya.
Saya berharap Muktamar tidak sekadar menjadi forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga menghasilkan keputusan strategis untuk masa depan NU dan membawa manfaat nyata bagi warga Nahdliyin hingga tingkat desa.
Namun, menjelang pelaksanaan Muktamar, perhatian publik justru lebih banyak tersedot pada hiruk-pikuk kandidat Ketua Umum PBNU. Padahal, pemilihan ketua umum hanyalah salah satu bagian dari sekian banyak agenda besar Muktamar.
Belakangan juga muncul isu tentang karantina sejumlah pengurus cabang pemilik suara yang diduga berkaitan dengan kandidat tertentu. Terlepas benar atau tidaknya isu tersebut, dinamika seperti ini menunjukkan betapa kuatnya perhatian terhadap perebutan kepemimpinan.
Para kandidat tentu memiliki hak untuk berikhtiar dan membangun dukungan. Tetapi, sebagai warga NU, kita juga punya harapan yang sederhana: jangan sampai Muktamar terlalu sibuk membicarakan siapa yang akan memimpin, tetapi lupa membicarakan ke mana NU akan dibawa.
Menurut saya, ada setidaknya tiga agenda yang seharusnya mendapat perhatian serius dan tidak berhenti sebagai rekomendasi di atas kertas, yakni pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.
Pendidikan: Jangan Hanya Banyak Lembaga, tetapi Harus Berkualitas
NU memiliki jaringan pendidikan yang sangat besar. Dari pesantren, madrasah, sekolah, hingga perguruan tinggi, semuanya menjadi modal besar untuk menyiapkan generasi masa depan.
Persoalannya, tantangan pendidikan semakin kompleks. Anak-anak NU tidak cukup hanya dibekali ilmu agama, tetapi juga harus memiliki kemampuan teknologi, bahasa, literasi keuangan, keterampilan kerja, serta kemampuan berpikir kritis.
Karena itu, PBNU ke depan perlu memiliki program yang konkret untuk meningkatkan kualitas guru, pengelola lembaga pendidikan, kurikulum, hingga akses pendidikan bagi keluarga Nahdliyin yang kurang mampu.
Jangan sampai NU memiliki banyak lembaga pendidikan, tetapi kualitasnya berjalan sendiri-sendiri. Harus ada ekosistem yang membuat lembaga pendidikan NU bisa saling belajar, berbagi sumber daya, dan berkembang bersama.
Kesehatan: Warga NU Harus Mudah Mendapat Layanan
Bidang kedua adalah kesehatan.
Sudah diketahui bahwa sebagian besar warga NU hidup di tengah masyarakat akar rumput. Karena itu, akses terhadap layanan kesehatan yang mudah dan terjangkau harus menjadi perhatian.
NU memiliki jaringan pesantren, lembaga sosial, badan otonom, dan komunitas hingga tingkat desa. Jaringan tersebut sebenarnya bisa menjadi kekuatan besar untuk membangun edukasi kesehatan, pencegahan penyakit, pendampingan keluarga, hingga akses layanan kesehatan.
Program kesehatan NU tidak harus selalu berbentuk pembangunan rumah sakit besar. Edukasi tentang pola hidup sehat, kesehatan ibu dan anak, kesehatan lansia, sanitasi, gizi, dan pencegahan penyakit juga sangat penting.
Kalau warga NU sehat, produktivitas keluarga meningkat. Anak-anak bisa belajar lebih baik dan orang tua dapat bekerja dengan lebih tenang.
Pemberdayaan Ekonomi: Jangan Hanya Jadi Penonton
Yang ketiga adalah ekonomi.
Ini mungkin salah satu persoalan paling penting. NU memiliki warga yang sangat besar, tetapi jumlah warga yang besar belum otomatis menjadi kekuatan ekonomi apabila tidak dikelola dengan baik.
Warga Nahdliyin harus didorong menjadi pelaku ekonomi, bukan hanya konsumen.
Koperasi, usaha mikro, pesantrenpreneur, pertanian, perdagangan, ekonomi digital, hingga pengembangan produk lokal bisa menjadi ruang pemberdayaan.
PBNU ke depan perlu mendorong program yang sederhana tetapi nyata. Misalnya, pendampingan usaha, akses permodalan yang sehat, pemasaran digital, penguatan koperasi, pelatihan keterampilan, serta membuka jaringan pasar bagi produk warga NU.
Jangan sampai program pemberdayaan ekonomi hanya ramai saat peluncuran, tetapi hilang ketika pendampingannya selesai.
Muktamar Harus Menjawab Kebutuhan Warga
Pada akhirnya, saya kira warga NU tidak terlalu membutuhkan janji yang muluk-muluk. Mereka membutuhkan kehadiran NU yang bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Anak mereka mendapatkan pendidikan yang baik. Keluarganya mudah mendapatkan layanan kesehatan. Usahanya tumbuh dan ekonominya lebih kuat.
Yasin dan tahlil tentu tetap menjadi bagian penting dari kehidupan Nahdliyin. Tetapi, NU juga harus hadir ketika warga membutuhkan sekolah yang berkualitas, layanan kesehatan, pendampingan usaha, hingga jalan keluar dari persoalan ekonomi.
Karena itu, siapa pun yang nanti mendapatkan amanah memimpin PBNU, pekerjaan rumahnya bukan hanya mengurus organisasi, tetapi memastikan keputusan-keputusan Muktamar benar-benar sampai kepada warga.
Muktamar seharusnya tidak hanya menghasilkan siapa ketua umum, tetapi juga menghasilkan arah perjuangan yang jelas dan program yang bisa diukur keberhasilannya.
Sebab, NU boleh besar secara organisasi. Namun, ukuran kebesaran yang sesungguhnya adalah ketika kebesaran itu dirasakan manfaatnya oleh warganya.
Jangan sampai NU terlihat besar dari atas, tetapi terasa jauh bagi warga di bawah.
Penulis adalah tokoh NU sekaligus tokoh masyarakat Kabupaten Jember.


Komentar