|
Menu Close Menu

Refleksi Maulid Nabi: Meneladani Rasulullah SAW di Era Teknologi Informasi

Rabu, 26 Agustus 2026 | 12.18 WIB

 

H. Achmad Sudiyono bersama istri tercintanya.(Dok/Istimewa). 

Oleh: H. Achmad Sudiyono


Lensajatim.id, Opini — Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk meneguhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus meneladani akhlak dan perjuangan beliau. Dalam tradisi warga Nahdlatul Ulama (NU), Maulid tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi ruang mahabbah kepada Rasulullah, penguatan ukhuwah, serta pengingat untuk menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Allah SWT berfirman:

"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung."

(QS. Al-Qalam: 4)


Rasulullah SAW juga bersabda bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Karena itu, kecintaan kepada Nabi harus tercermin dalam perilaku, bukan hanya dalam ucapan dan perayaan.

Pesan tersebut semakin relevan di era teknologi informasi. Kemajuan teknologi memberi banyak kemudahan dalam memperoleh ilmu, berdakwah, berkomunikasi, membangun ekonomi, dan menyampaikan aspirasi. Namun, ruang digital juga menghadirkan tantangan berupa hoaks, fitnah, ujaran kebencian, provokasi, serta perdebatan yang mudah berubah menjadi serangan pribadi.


Dalam konteks ini, kita perlu membawa akhlak Rasulullah SAW ke ruang digital. Jika dahulu kita diajarkan menjaga lisan, maka kini kita juga harus menjaga "jari". Apa yang ditulis, dikomentari, diunggah, dan dibagikan dapat menjadi amal kebaikan, tetapi juga dapat menimbulkan mudarat.

Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."

(HR. Bukhari dan Muslim)


Prinsip tersebut sangat relevan dalam bermedia sosial. Jangan sampai kemudahan berbicara membuat kita lupa pada tanggung jawab moral.

Tabayun dan Etika Digital

Al-Qur'an memberikan pedoman yang kuat dalam menghadapi informasi:

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya..."

(QS. Al-Hujurat: 6)


Tabayun menjadi sangat penting di tengah derasnya arus informasi. Kita tidak boleh mempercayai atau menyebarkan berita hanya karena sesuai dengan pandangan pribadi atau sudah banyak dibagikan. Sumber, konteks, dan kebenarannya harus diperiksa terlebih dahulu.


Semangat tabayun juga sejalan dengan karakter Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang mengedepankan sikap tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i'tidal (adil). Perbedaan pandangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan, apalagi memutus persaudaraan.


Rasulullah SAW dikenal sebagai Al-Amin, sosok yang jujur dan dapat dipercaya. Keteladanan ini menjadi semakin penting di tengah ruang digital yang memungkinkan informasi diproduksi dan disebarkan begitu cepat.


Karena itu, literasi digital harus berjalan bersama literasi moral. Kita harus mampu membedakan fakta dan opini, kritik dan penghinaan, serta kebebasan berpendapat dan tindakan yang merugikan orang lain.


Maulid sebagai Momentum Introspeksi


Maulid Nabi hendaknya menjadi momentum muhasabah. Sudahkah kecintaan kita kepada Rasulullah SAW tercermin dalam perilaku? Sudahkah kita menjaga ucapan dan tulisan? Sudahkah kita memeriksa informasi sebelum membagikannya? Sudahkah kita menghormati orang yang berbeda pandangan?

Allah SWT berfirman:

"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.'"

(QS. Ali Imran: 31)


Ayat tersebut mengingatkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW harus diwujudkan dengan mengikuti ajaran dan keteladanan beliau.


Karena itu, semangat Maulid jangan berhenti ketika acara selesai.


Shalawat, pengajian, dan berbagai kegiatan sosial harus berlanjut menjadi perubahan perilaku: lebih jujur, santun, peduli, menghargai perbedaan, menjaga persaudaraan, serta bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial.


Teknologi Maju, Akhlak Harus Mengikuti


Teknologi hanyalah alat. Ia dapat menjadi sarana dakwah, pendidikan, penguatan ekonomi, dan pelayanan sosial jika digunakan dengan benar. Sebaliknya, teknologi tanpa akhlak dapat mempercepat penyebaran fitnah, kebencian, dan perpecahan.


Karena itu, meneladani Rasulullah SAW di era teknologi berarti menghadirkan nilai shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathanah (cerdas dan bijaksana) dalam kehidupan digital.


Dalam pemahaman NU, kecintaan kepada Rasulullah SAW juga harus berjalan bersama kecintaan kepada sesama, menjaga ukhuwah, menghormati perbedaan, serta merawat kemaslahatan masyarakat.


Pada akhirnya, keberhasilan Maulid bukan hanya diukur dari kemeriahan acaranya, tetapi dari seberapa jauh keteladanan Rasulullah SAW mengubah perilaku kita.


Mari menjadikan Maulid sebagai momentum memperbaiki ucapan, tulisan, cara menerima dan menyebarkan informasi, cara menyampaikan pendapat, serta hubungan dengan sesama.


Di tengah teknologi yang semakin maju, akhlak justru harus semakin kuat.


Wallahu a'lam bishawab.

Bagikan:

Komentar