|
Menu Close Menu

Anggota DPD RI Ning Lia Puji Inovasi Kampung Pancasila Surabaya

Minggu, 27 September 2026 | 08.16 WIB

Anggota DPD RI Lia Istifhama bersama Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi di Balai Kota Surabaya.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya – Program Kampung Pancasila kembali menggeliat di Kota Surabaya. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menghidupkan kembali program tersebut sebagai ruang untuk memperkuat gotong royong, kepedulian sosial, toleransi hingga kemandirian masyarakat.


Lomba Kampung Pancasila 2026 resmi diluncurkan pada pekan lalu. Sebanyak 1.360 RW di Kota Surabaya terlibat dalam gerakan yang diarahkan untuk menghidupkan nilai-nilai Pancasila di tengah kehidupan masyarakat.


Pemkot Surabaya menempatkan gotong royong sebagai salah satu ruh utama program tersebut. Warga didorong untuk terlibat secara aktif dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di lingkungan masing-masing.


Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, lomba Kampung Pancasila menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya melalui semangat gotong royong dan sikap saling membantu yang perlu terus dijaga di tengah masyarakat.


"Saya berharap dengan kembali kepada Kampung Pancasila ini, maka gotong royong, saling tolong menolong dan menjaga dilakukan di Kota Surabaya," kata Eri Cahyadi usai peluncuran Lomba Kampung Pancasila di Balai Kota Surabaya.


Program tersebut mendapat apresiasi dari Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau Ning Lia.


Sebelumnya, saat bertemu dengan Cak Eri di Balai Kota Surabaya, Ning Lia menyampaikan bahwa keberlangsungan bangsa sangat bergantung pada sejauh mana nilai-nilai Pancasila benar-benar dijalankan dalam tindakan.


“Kampung Pancasila sebagai bentuk konkret penerapan nilai tersebut dalam kehidupan masyarakat. Bahkan, saya Surabaya dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menghidupkan nilai Pancasila di tingkat masyarakat,” kata Ning Lia, yang juga senator asli Surabaya tersebut.


Menurut Ning Lia, Pancasila dalam konteks tersebut tidak cukup ditempatkan sebagai materi pendidikan kewarganegaraan maupun sekadar simbol kenegaraan. Nilai-nilainya perlu diterjemahkan dalam tindakan sosial yang nyata.


Mulai dari membantu tetangga, menjaga lingkungan, membangun toleransi, menguatkan ekonomi warga hingga menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.


Di titik inilah pemikiran Ning Lia mengenai keberlangsungan bangsa dapat dibaca lebih jauh. Keberlangsungan bangsa, menurut perspektif tersebut, bukan hanya berkaitan dengan kuatnya institusi negara, tetapi juga menyangkut dimensi masyarakat sipil atau civil society yang menjadi kekuatan sosial di luar struktur pemerintahan.


Negara membuat kebijakan dan menyediakan ruang. Namun, kebijakan tersebut membutuhkan masyarakat yang mau terlibat, memiliki kepedulian, serta mempunyai rasa percaya terhadap institusi negara.


Dalam pandangan Ning Lia yang disampaikan dalam forum kebangsaan bersama pemuda, masyarakat perlu ditempatkan sebagai agen keberlangsungan bangsa.


Ning Lia juga mengaitkan persoalan tersebut dengan pemikiran Ibnu Khaldun mengenai siklus sosial dan potensi disintegrasi ketika hubungan emosional antara masyarakat dengan negara melemah.


Gotong royong, kata dia, dapat menjadi modal sosial yang mempertemukan kepentingan warga dengan tujuan kehidupan berbangsa.


“Ketika warga terbiasa saling membantu, muncul solidaritas. Ketika masyarakat merasa didengar dan dilibatkan, kepercayaan dapat tumbuh. Dan ketika negara mampu hadir melalui kebijakan yang dirasakan manfaatnya, hubungan antara negara dan masyarakat menjadi semakin kuat,” kata Ning Lia, yang dikenal anggun dengan atasan kebaya dan bawahan batik tersebut.


Perspektif tersebut juga sejalan dengan pernyataan Ning Lia dalam berbagai isu kebangsaan lainnya.


Dalam pembahasannya mengenai keberlangsungan bangsa, Senator Jatim itu menekankan tiga hal, yakni pendidikan berkualitas, demokrasi yang sehat, dan kesepakatan publik mengenai arah pembangunan nasional.


Ia juga menekankan bahwa perjuangan kebangsaan tidak semata-mata ditujukan untuk hasil hari ini, tetapi juga untuk kepentingan generasi yang akan datang.


Pada 2026, Ning Lia juga menekankan pentingnya public trust atau kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Menurutnya, tindakan negara yang nyata dan konsisten diperlukan untuk menjaga kepercayaan tersebut.


“Benang merahnya adalah hubungan timbal balik. Pemerintah membutuhkan kepercayaan masyarakat. Masyarakat membutuhkan pemerintah yang hadir dan bekerja. Di antara keduanya terdapat ruang sosial yang disebut civil society. Dan Kampung Pancasila dapat menjadi salah satu ruang tersebut,” kata Ning Lia. (Red) 

Bagikan:

Komentar