|
Menu Close Menu

Cak Dar Soroti Polemik NU dan Prabowo

Selasa, 08 September 2026 | 08.50 WIB

Pj Ketua Umum DPP BariKade Gus Dur, Sudarsono Rahman.(Dok/AI). 
Lensajatim.id, Surabaya– Pj Ketua Umum DPP BariKade Gus Dur, Sudarsono Rahman, menyoroti sejumlah polemik yang menyeret nama Presiden RI Prabowo Subianto dan dinilai berpotensi menjadi beban politik.


Pria yang akrab disapa Cak Dar itu mempertanyakan pihak di balik berbagai manuver yang bersinggungan dengan Nahdlatul Ulama (NU), mulai polemik Muktamar NU ke-35 di Jombang hingga beredarnya buku Islam ala Prabowo yang memunculkan keberatan dan klarifikasi sejumlah tokoh yang namanya dicantumkan.


“Siapa yang sedang mengerjain Prabowo? Ketika orang dekat kekuasaan justru menjadi beban politik Presiden,” kata Cak Dar, Selasa (08/09/2026). 


Mantan Ketua PW IPNU Jatim itu menegaskan, publik tidak boleh gegabah menganggap seluruh polemik tersebut merupakan kehendak atau perintah Presiden.


“Kalau bukan perintah Presiden, lalu siapa yang bekerja menggunakan kedekatan dengan kekuasaan?” ujarnya.


Menurutnya, dalam politik seorang pemimpin bisa dirugikan bukan hanya oleh lawan, tetapi juga oleh orang-orang yang terlalu bersemangat menjadi “orang dekat” dan bertindak seolah kepentingannya merupakan kepentingan Presiden.


Cak Dar mengingatkan agar persoalan NU dilihat dengan kepala dingin. NU, katanya, merupakan organisasi keumatan dengan sejarah panjang, bukan mesin elektoral maupun properti kekuasaan.


“Jutaan warga NU merupakan kekuatan sosial-politik yang sangat besar. Wajar jika kekuatan politik ingin mendapatkan simpati mereka menjelang Pemilu 2029,” tuturnya.


Namun, ia menegaskan adanya batas etika yang tidak boleh dilanggar.


“Mencari suara warga NU adalah demokrasi, mengintervensi rumah NU adalah persoalan etika,” tegasnya.


Jika terjadi tekanan, mobilisasi, penggunaan kekuasaan atau intervensi dalam proses internal organisasi, lanjut Cak Dar, persoalannya bukan lagi sekadar perebutan pengaruh, tetapi menyangkut kedaulatan organisasi dan etika kekuasaan.


Ia juga mengingatkan bahwa semakin banyak persoalan dilekatkan kepada nama Prabowo, semakin besar beban politik dan reputasi yang harus ditanggung Presiden, meski belum tentu mengetahui seluruhnya.


“Inilah jebakan klasik kekuasaan. Loyalitas tanpa etika dapat berubah menjadi jebakan, dan kedekatan tanpa koreksi dapat menjadi racun,” katanya.


Terkait buku Islam ala Prabowo, Cak Dar menilai munculnya klarifikasi atau keberatan dari sejumlah tokoh agama patut menjadi perhatian publik. Ia mempertanyakan siapa yang membuat buku tersebut, apa kepentingannya, serta mengapa nama Presiden menjadi bagian dari konstruksi narasi tersebut.


“Jangan sampai sebuah proyek politik yang dibuat oleh orang lain justru menjadi tagihan reputasi kepada Presiden. Karena dalam politik, yang rusak bukan selalu kekuasaan, kadang yang rusak adalah kepercayaan,” ujarnya.


Cak Dar juga meminta NU menjaga kemandiriannya. Hubungan NU dengan pemerintah, menurutnya, harus tetap kritis tetapi konstruktif, dekat tetapi tidak kehilangan jarak, serta bekerja sama tanpa kehilangan kemandirian.


“Presiden tidak perlu menguasai NU untuk mendapatkan simpati warga NU. Sebaliknya, NU juga tidak perlu bermusuhan dengan pemerintah hanya untuk membuktikan independensinya,” jelasnya.


Ia mengingatkan, Pemilu 2029 masih jauh dan konstelasi politik dapat berubah. Karena itu, kepentingan elektoral jangka pendek jangan sampai merusak hubungan jangka panjang antara negara dan masyarakat sipil.


“Kalau orang-orang di sekitar Prabowo terlalu jauh masuk ke rumah NU, lalu muncul resistensi dari warga NU, siapa yang akan menerima akibatnya? Bukan hanya mereka, Presidenlah yang namanya akan disebut,” katanya.


Cak Dar menyebut kemungkinan pihak yang sedang “mengerjain” Prabowo bisa berasal dari lawan politik, kepentingan kelompok, orang yang sedang membangun posisi menuju 2029, atau bahkan orang-orang yang berada paling dekat dengan kekuasaan.


Karena itu, ia berpesan agar Presiden tidak membiarkan orang-orang yang mengatasnamakan kedekatan dengannya justru menciptakan musuh baru.


“Silakan mencari simpati, silakan bertarung secara demokratis, silakan datang kepada warga NU, tetapi jangan rusak rumahnya,” tegas Cak Dar.


Menurutnya, jika rumah NU dibuat gaduh demi kepentingan elektoral, yang tumbuh belum tentu dukungan, melainkan bisa menjadi perlawanan.


“Mungkin yang perlu ditanya terlebih dahulu adalah: siapa yang sedang mengerjain Prabowo?” pungkasnya. (Had) 

Bagikan:

Komentar