|
Menu Close Menu

Datang sebagai Kakak, Ning Lia Dengarkan Cerita Sebulan Mahasiswa Baru Tinggal di Pesantren

Selasa, 08 September 2026 | 19.09 WIB

Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama saat menemui adik-adik mahasiswa baru di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah, Wonocolo, Surabaya. (Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya — Bukan datang dengan suasana formal sebagai seorang senator, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, memilih hadir layaknya seorang kakak saat menemui adik-adik mahasiswa baru di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah, Wonocolo, Surabaya, Selasa (08/09/2026). 


Senator cantik asal Jawa Timur mendatangi para mahasiswa baru yang telah sekitar sebulan menjalani kehidupan di lingkungan asrama. Ia ingin mendengar langsung cerita mereka setelah meninggalkan kampung halaman dan mulai belajar hidup mandiri jauh dari keluarga.


Suasana pertemuan berlangsung cair dan penuh keakraban. Ning Lia lebih banyak bertanya dan mendengarkan. Mulai dari pengalaman beradaptasi dengan lingkungan baru, mengurus kebutuhan sehari-hari, mendapatkan teman baru, hingga cerita sederhana tentang mengantre kamar mandi.


Salah satunya Widya Alfa Rohman, mahasiswa baru asal Bojonegoro. Kepada Ning Lia, Widya menceritakan bahwa sebulan pertama tinggal di asrama memberinya banyak pengalaman dan pelajaran baru.


“Pengalaman pertama kali saya berada di asrama ini benar-benar mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pengalaman baru. Karena saya juga dari luar Kota Surabaya, memang ada perubahan dalam kehidupan sehari-hari,” cerita Widya.


Meski jauh dari keluarga, Widya mengaku tidak terlalu kesulitan menjalani kehidupan mandiri. Pengalamannya pernah mondok membuat aktivitas seperti mencuci pakaian sendiri dan mengurus kebutuhan sehari-hari bukan sesuatu yang asing.


“Alhamdulillah tidak kesulitan karena sebelumnya saya sudah pernah mondok. Jadi kegiatan seperti mencuci baju sendiri sudah sering saya lakukan,” katanya.


Justru hal yang membutuhkan penyesuaian bagi Widya adalah bahasa dan kebiasaan berkomunikasi. Datang dari Bojonegoro dan kini tinggal di Surabaya membuatnya menemukan sejumlah perbedaan dalam penggunaan bahasa sehari-hari.


“Mungkin yang sedikit menjadi kesulitan itu bahasa. Ada sedikit perubahan bahasa dari Bojonegoro ke Surabaya,” tuturnya.


Cerita lain datang dari mahasiswa baru Fahima Nudinia. Setelah sekitar sebulan menjalani kehidupan di asrama, Fahima mengaku mendapatkan banyak teman baru. Interaksi antarmahasiswa menjadi salah satu pengalaman yang menyenangkan baginya.


“Teman-temannya baik-baik. Interaksi dengan teman juga menyenangkan,” ungkap Fahima.


Ketika Ning Lia menanyakan kesulitan selama menjalani kehidupan mandiri, Fahima mengaku tidak menemui kendala berarti. Pengalaman mondok sebelumnya membuat dirinya relatif mudah beradaptasi. Namun, ada satu pengalaman sederhana yang cukup membekas.


“Kalau kesulitan tidak terlalu, karena dulu pernah mondok juga. Tapi yang paling terasa itu antre, terutama antre kamar mandi,” ujar senator pecinta batik. 


Cerita-cerita sederhana tersebut didengarkan Ning Lia dalam suasana kekeluargaan. Pertemuan itu terasa seperti percakapan seorang kakak dengan adik-adiknya yang sedang memasuki babak baru kehidupan.


Sebulan tinggal jauh dari keluarga menjadi proses awal bagi mahasiswa untuk mengenal arti kemandirian. Mereka tidak hanya dituntut menjalani aktivitas perkuliahan dan kehidupan pesantren, tetapi juga belajar mengatur waktu, berbagi fasilitas, membangun pertemanan, serta beradaptasi dengan lingkungan yang dihuni mahasiswa dari berbagai daerah.


Bagi Ning Lia, mendatangi dan mendengarkan langsung cerita mahasiswa menjadi bagian penting untuk mengetahui pengalaman generasi muda. Bukan hanya persoalan besar, cerita keseharian mereka juga dapat menjadi gambaran bagaimana proses kemandirian dan pembentukan karakter berlangsung.


Sebulan mungkin belum cukup lama untuk mengenal seluruh dinamika kehidupan pesantren. Namun dari mencuci pakaian sendiri, beradaptasi dengan bahasa baru, menemukan teman hingga belajar sabar mengantre kamar mandi, para mahasiswa mulai mengumpulkan pengalaman yang menjadi bagian dari perjalanan menuju kedewasaan. (Red) 

Bagikan:

Komentar