|
Menu Close Menu

Emil Kembali Pimpin MES Jatim, Ning Lia Optimis Ekonomi Syariah Makin Berdampak

Minggu, 27 September 2026 | 20.37 WIB

Pelantikan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Timur periode 2026–2031.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Surabaya– Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau Ning Lia, menyampaikan ucapan selamat kepada Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang kembali dipercaya memimpin Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Timur periode 2026–2031.


Emil dilantik sebagai Ketua Umum Pengurus Wilayah MES Jawa Timur bersama 85 pengurus lainnya di Surabaya, Sabtu (26/9).


Sebelumnya, Emil juga memimpin MES Jatim untuk periode 2022–2025.


Ning Lia menilai keberlanjutan kepemimpinan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah di Jawa Timur. 


Menurutnya, pengembangan ekonomi syariah tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan industri, tetapi perlu memastikan manfaatnya dapat dirasakan pelaku usaha dan masyarakat secara luas.


“Selamat kepada Pak Emil Dardak yang kembali dipercaya memimpin MES Jawa Timur. Semoga amanah dan mampu semakin memperkuat ekosistem ekonomi syariah, khususnya agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Ning Lia.


Menurut Ning Lia, salah satu kekuatan ekonomi syariah Jawa Timur berada pada besarnya basis UMKM, pesantren, koperasi, serta pelaku usaha lokal. Karena itu, penguatan ekosistem perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari akses pembiayaan, peningkatan kapasitas, sertifikasi, digitalisasi hingga perluasan pasar.


Pemikiran tersebut sejalan dengan perhatian Ning Lia terhadap penguatan UMKM.


Sebelumnya, Keponakan Gubernur Jawa Timur itu menekankan pentingnya regenerasi pelaku usaha dengan melibatkan generasi muda. Menurutnya, pemuda tidak hanya menjadi calon pelaku UMKM, tetapi juga membawa inovasi dan transformasi melalui kreativitas serta pemanfaatan teknologi digital.


Bagi Senator Jatim tersebut, penguatan ekonomi syariah idealnya tidak berhenti pada bertambahnya jumlah usaha atau transaksi. Ukuran penting lainnya adalah sejauh mana ekosistem tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


“Saya mengapresiasi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada 2026. Di bawah kepemimpinan Ibu Gub (Gubernur Khofifah,red) keberhasilan pembangunan tidak cukup dilihat dari angka pertumbuhan, tetapi juga dari seberapa jauh masyarakat merasakan manfaat pembangunan secara nyata, termasuk melalui akses pekerjaan dan kesempatan ekonomi,” katanya. 


Ia juga melihat aktivitas ekonomi masyarakat melalui konsep multiplier effect. Saat Muktamar ke-35 NU di Jombang, misalnya, Ning Lia melihat bagaimana mobilitas peserta dapat menggerakkan UMKM, perdagangan, kuliner, transportasi, hingga jasa di sekitar lokasi kegiatan.


“Ekonomi syariah jangan hanya menjadi ekosistem yang besar secara kelembagaan, tetapi juga harus kuat di tingkat masyarakat. UMKM, pesantren, koperasi, dan generasi muda harus memiliki ruang untuk tumbuh,” kata Ning Lia.


Sebagai doktor ekonomi syariah, perhatian Ning Lia terhadap ekonomi berbasis masyarakat juga memiliki landasan akademik. 


Disertasinya di UIN Sunan Ampel Surabaya membahas ketahanan usaha melalui modal sosial, dengan mengembangkan unsur kepercayaan, jaringan sosial, dan aksi timbal balik dalam perspektif ekonomi Islam melalui konsep amanah, ukhuwah Islamiyah, dan at-ta'awun.


Dengan perspektif tersebut, Ning Lia melihat penguatan ekonomi syariah tidak hanya membutuhkan modal finansial, tetapi juga kepercayaan, jejaring, kolaborasi, dan hubungan saling menguatkan antarpelaku ekonomi.


“Semoga MES Jawa Timur semakin solid, mampu menjawab kebutuhan pelaku usaha, dan menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai kekuatan ekonomi syariah. Yang paling penting, pertumbuhan ekosistem ini bisa bermuara pada kesejahteraan masyarakat Jawa Timur,” harap Ning Lia.


Dalam kepemimpinan MES Jatim periode 2026–2031, Emil menyampaikan sejumlah fokus, salah satunya memperkuat pemberlakuan sertifikasi halal bagi pelaku usaha.


Hal tersebut dinilai penting karena masih terdapat pelaku UMKM yang menghadapi kendala dalam memenuhi persyaratan sertifikasi meskipun produk yang dihasilkan telah memenuhi aspek kehalalan.


Emil juga mendorong pengembangan Halal Industrial Park yang diharapkan dapat memperoleh insentif fiskal sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). 


Menurutnya, kawasan tersebut dapat menjadi salah satu instrumen untuk mempercepat pemenuhan sertifikasi halal sekaligus memperkuat rantai nilai industri halal.


Selain industri halal, MES Jatim juga memberi perhatian terhadap sektor keuangan syariah. Emil menyebut masih terdapat tantangan praktis di lapangan yang perlu dijawab bersama, termasuk melalui penguatan peran lembaga keuangan syariah.


Bank Jatim, kata Emil, menjadi salah satu contoh melalui pengembangan Unit Usaha Syariah (UUS).


Di sisi lain, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam pelantikan MES Jatim menyampaikan bahwa kekuatan UMKM, industri halal, ekonomi pesantren, dan sektor produktif lainnya perlu dihubungkan dalam satu rantai nilai halal yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.


Jawa Timur juga mencatat sejumlah capaian dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. 


Pada Anugerah Adinata Syariah 2026, Jawa Timur meraih penghargaan pada sejumlah kategori, termasuk pertumbuhan pelaku usaha bersertifikasi halal, inovasi ekonomi dan keuangan syariah, serta Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS). (Red) 

Bagikan:

Komentar