|
Menu Close Menu

Harus Bisa Atur Waktu Kuliah dan Kerja, Via Agustin Ceritakan Cara Kerja Ojek Mahasiswa UTM

Jumat, 25 September 2026 | 22.48 WIB

 

Via Agustin mahasiswa UTM yang menjalani aktivitas jadi driver ojek mahasiswa.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Bangkalan – Tidak menggunakan aplikasi seperti layanan ojek online pada umumnya, ojek mahasiswa di sekitar Universitas Trunojoyo Madura (UTM) memiliki sistem kerja sendiri dengan mengandalkan grup chat. Layanan tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan mahasiswa, mulai dari mengantar makanan hingga mengambil barang.


Dan uniknya, driver  ojek mahasiswa ini bukan hanya cowok, tapi ada juga yang cewek. Salah satu driver cewek ojek mahasiswa adalah Via Agustin (21), mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah semester 5 asal Tuban. Via mulai bergabung sebagai pengemudi ojek mahasiswa sejak Agustus 2025, saat dirinya masih semester 3.


Via mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa yang pertama kali membentuk layanan ojek mahasiswa tersebut. Menurutnya, layanan itu sudah berjalan sebelum dirinya bergabung. Saat ini, pengelolaannya berbeda-beda di setiap kelompok, ada yang dijalankan secara individu dan ada pula yang memiliki admin untuk mengatur sistem dalam grup.


“Kalau di grupku ada yang bagian mengatur sistemnya. Jadi ada admin yang mengatur, termasuk ketika ada pelanggan yang melakukan order,” ujar Via, Jumat 25/9/2026.


Untuk melakukan pemesanan, pelanggan cukup menghubungi admin melalui grup ojek dengan menyampaikan kebutuhan mereka, seperti DO (delivery order) makanan maupun layanan lainnya. Setelah pesanan disampaikan, admin akan meneruskannya dan pengemudi yang merespons atau membalas pesanan tersebut akan mengambil order.


Sistem pembagian order tersebut dilakukan tanpa jadwal khusus. Pengemudi yang lebih dahulu merespons pesan pelanggan berhak mengambil pesanan tersebut.


“Tidak ada jadwal atau sistem khusus. Intinya siapa cepat yang balas pesan, dia yang dapat orderan,” jelasnya.


Selain antar-jemput mahasiswa, layanan yang tersedia juga cukup beragam. Pelanggan dapat menggunakan jasa tersebut untuk mengantar makanan maupun mengambil barang. Layanan juga dapat menjangkau wilayah di luar kampus sesuai permintaan pelanggan dan kesanggupan pengemudi.


Untuk tarif, ojek mahasiswa umumnya menggunakan jarak sebagai salah satu dasar penentuan harga. Via menyebut tarif yang biasa digunakan dalam kelompoknya sekitar Rp5.000 per kilometer. Sementara untuk layanan mengantarkan makanan, tarifnya sekitar Rp5.000 untuk satu lokasi dan dapat bertambah apabila pelanggan meminta pengantaran ke lokasi lainnya.


Namun, besaran tarif dapat berbeda karena setiap pengemudi atau kelompok memiliki ketentuan masing-masing. Via sendiri lebih memilih mengikuti ketentuan tarif yang berlaku di kelompoknya dengan menyesuaikan jarak perjalanan.


Tidak semua mahasiswa dapat langsung bergabung ke dalam kelompok ojek. Menurut Via, persyaratan menjadi anggota juga bergantung pada kelompok masing-masing. Di kelompoknya, calon anggota dapat bergabung melalui sistem pertukaran akses grup atau memenuhi ketentuan pembayaran tertentu. Besarannya pun berbeda, mulai dari sekitar Rp5.000 per minggu hingga Rp20.000 per bulan.


Dalam menjalankan layanan tersebut, Via juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah  satunya membagi waktu antara kuliah, organisasi dan pekerjaan sebagai pengemudi. Selain itu, kondisi sepeda motor yang terkadang mengalami kendala juga dapat membuatnya harus berhenti sementara menerima order.


“Tantangannya dari saya mengatur waktu karena ada kuliah, organisasi dan kesibukan lain. Jadi harus manajemen waktu sebaik mungkin. Minusnya ya capek,” tuturnya.


Selain persoalan waktu dan kendaraan, menghadapi karakter pelanggan yang berbeda juga menjadi bagian dari pengalaman Via. Ia mengatakan ada pelanggan yang meminta pesanan segera diselesaikan, sementara pelanggan lainnya lebih santai. Karena itu, ia berusaha tetap melayani dengan sabar dan menjaga komunikasi dengan pelanggan.


Menurut Via, keberadaan ojek mahasiswa masih dibutuhkan karena mahasiswa di lingkungan kampus membutuhkan layanan transportasi dan pengantaran yang mudah diakses. Terlebih, menurut pengalamannya, layanan seperti Grab atau Gojek tidak selalu menjadi pilihan utama untuk kebutuhan tertentu di sekitar kampus.


Hingga kini, kelompok ojek tempat Via bergabung masih terus menerima anggota dan pesanan. Sistemnya juga terus berjalan dengan mengandalkan komunikasi melalui grup dan kerja sama antaranggota.


Bagi Via, keberadaan ojek mahasiswa bukan hanya menjadi sarana untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga membentuk sistem layanan yang dijalankan secara mandiri oleh para mahasiswa untuk memenuhi berbagai kebutuhan pelanggan di sekitar kampus. (Tik) 

Bagikan:

Komentar