![]() |
| Heri Lagi menyiapkan bubur untuk pelanggan.(Dok/Fitri). |
Sebelum berjualan bubur ayam, Heri sempat menjalankan usaha mie ayam. Keputusannya beralih ke bubur ayam tidak lepas dari pengalaman sejak dulu yang terbiasa mengikuti orang tuanya berjualan. Dari pengalaman tersebut, Heri kemudian mengambil alih resep bubur ayam milik orang tuanya dan menjadikannya sebagai usaha hingga sekarang.
“Dari dulu ikut orang tua jualan, jadi resep orang tua saya ambil alih. Kalau topping semuanya sama, cuma rasanya yang beda,” ujar Heri, Minggu ( 27/9/2026)
Dalam sehari, Heri mampu menjual sekitar 200 porsi bubur ayam. Pelanggannya berasal dari berbagai kalangan, terutama mahasiswa dan masyarakat umum. Beberapa pelanggan bahkan pernah datang dari luar Bangkalan, seperti Surabaya dan Sidoarjo, meski jumlahnya tidak terlalu sering.
Menu bubur dengan tambahan topping menjadi pilihan yang paling banyak diminati pelanggan. Sementara bubur putih tanpa topping hanya terjual sekitar satu hingga dua porsi dalam sehari.
Meski mampu menjual ratusan porsi, pendapatan Heri tidak selalu stabil. Dalam satu tahun, menurutnya, masa ramai penjualan hanya berlangsung sekitar tujuh bulan. Ketika mahasiswa memasuki masa libur, jumlah pembeli ikut menurun sehingga penghasilannya terkadang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Kondisi tersebut turut berpengaruh terhadap kebutuhan keluarganya. Heri mengaku keterbatasan biaya membuat anaknya belum dapat melanjutkan sekolah. Meski demikian, ia tetap memilih bertahan menjalankan usaha yang telah ditekuni selama beberapa tahun.
“Saya sudah cocok sama jualan ini,” katanya.
Ketika harga bahan baku mengalami kenaikan, Heri memilih mengurangi porsi daripada menaikkan harga jual. Hal tersebut dilakukan agar harga bubur tetap terjangkau bagi pelanggan.
Untuk memperkenalkan dagangannya, Heri juga memanfaatkan media sosial melalui TikTok milik keponakannya. Sementara itu, tempat berjualannya di telang masih berstatus sewa dengan biaya sekitar Rp12 juta per tahun.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Heri berharap usaha bubur ayamnya dapat terus berjalan dan memiliki semakin banyak pelanggan.
“Harapannya mudah-mudahan semakin lancar dan tambah banyak pelanggan,” tuturnya.
Bagi Heri, ketekunan menjadi salah satu hal penting dalam menjalankan usaha. Ia juga berpesan kepada pelaku usaha lainnya agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
“Harus telaten, sabar, jangan pernah menyerah. Namanya usaha pasti ada sulitnya,” pungkasnya. (Tik)


Komentar