![]() |
| Ketua DPC HKTI Lumajang, HM. Jamaluddin.(Dok/Istimewa). |
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut dinilai berkaitan dengan minimnya regenerasi petani muda.
Ketua DPC HKTI Lumajang, HM. Jamaluddin yang akrab disapa Jamal, menilai kondisi itu bukan semata-mata kemunduran.
Menurutnya, situasi tersebut justru menjadi momentum untuk mempercepat transformasi pertanian konvensional menuju agribisnis modern berbasis teknologi.
Jamal mengatakan, rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian tidak lepas dari stigma lama.
Profesi petani masih kerap dipandang sebagai pekerjaan berat, berisiko tinggi, dan memiliki hasil yang tidak pasti.
Karena itu, menurut Jamal, pendekatan tradisional tidak lagi cukup untuk menarik minat generasi muda yang lekat dengan ekosistem digital dan mengutamakan efisiensi kerja.
“Kita tidak bisa lagi mengajak anak muda bertani dengan cara-cara warisan masa lalu yang melelahkan dan minim kepastian pasar. Masa depan ketahanan pangan Lumajang bergantung pada kemampuan kita mengubah wajah pertanian menjadi sektor yang keren, menguntungkan, dan berbasis teknologi modern atau smart farming,” ujar Jamal, Rabu (02/09/2026).
Untuk menjawab tantangan tersebut, HKTI Lumajang mendorong tiga pilar strategi utama.
Pertama, digitalisasi dan mekanisasi total.
HKTI mendorong penggunaan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) modern, drone pertanian, serta sistem otomatisasi.
Penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat menekan biaya operasional sekaligus menarik minat generasi muda yang tumbuh dalam ekosistem digital.
Kedua, penguatan sektor hilir dan agribisnis.
Petani milenial didorong tidak hanya berkutat di sektor hulu atau budidaya.
Mereka juga perlu masuk ke ranah pengolahan produk melalui hilirisasi serta memanfaatkan pemasaran digital untuk memperoleh margin keuntungan yang jauh lebih kompetitif.
Ketiga, akses permodalan dan ekosistem usaha.
HKTI Lumajang mendorong fasilitasi akses pembiayaan yang ramah bagi pemuda perintis agribisnis atau agri-startup.
Upaya tersebut perlu dibarengi dengan jaminan kepastian rantai pasok dari sektor hulu hingga hilir.
Jamal menambahkan, HKTI Lumajang optimistis penurunan jumlah unit usaha pertanian di atas kertas justru dapat merefleksikan proses konsolidasi menuju skala usaha yang lebih profesional dan efisien.
Dengan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, asosiasi, dan generasi muda, Lumajang dinilai memiliki peluang menjadi lokomotif kebangkitan petani milenial di tingkat regional maupun nasional. (Red)


Komentar