|
Menu Close Menu

KKN-T Unira Malang Abadikan Potensi Desa Lewat Film

Rabu, 02 September 2026 | 17.28 WIB

Kegiatan Penutupan KKN Tematik Unira Malang.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Malang— Penutupan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang dikemas berbeda. Bukan sekadar seremoni, penutupan diwarnai nonton bareng film dokumenter desa.


Kegiatan bertajuk “Asta Pesona Desanesia 2026” itu mengusung tema “Merajut Karya, Menghidupkan Potensi, dan Meninggalkan Jejak Bermakna bagi Desa.”


Festival film dokumenter desa tersebut berlangsung di Hall KH Moch Said Unira Malang, Rabu (2/9/2026). Agenda ini menjadi bagian akhir rangkaian KKN-T yang sebelumnya mengusung tema “Penguatan Ekosistem Desa Wisata Berdampak dan Berkelanjutan.”


Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Alif Achada, M.Pd., mengatakan penutupan KKN tahun ini dirancang bukan hanya untuk mengakhiri pengabdian mahasiswa.


Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang apresiasi terhadap karya mahasiswa dalam merekam potensi desa melalui pendekatan visual.


“Penutupan KKN tahun ini digelar meriah dengan tema Asta Pesona Desanesia. Acara ini menjadi salah satu panggung untuk mengapresiasi hasil karya video sinematik bagi peserta KKN tahun ini,” ujar Alif.


Ia menjelaskan, film dokumenter yang dibuat mahasiswa menjadi bentuk dokumentasi kreatif atas berbagai potensi yang ditemukan selama menjalani proses live-in dan pengabdian di desa.


Karya tersebut tidak hanya merekam keindahan alam, tetapi juga mengangkat potensi dan kearifan lokal yang menjadi identitas masing-masing desa.


Kepala LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) Unira Malang, Abdillah, menambahkan bahwa film-film tersebut menyuguhkan keindahan, potensi, dan kearifan lokal desa yang dikolaborasikan dengan warga sekitar.


“Dalam karya ini menyuguhkan keindahan, potensi, dan kearifan lokal desa tempat KKN yang dikolaborasikan dengan warga sekitar,” ujarnya.


Abe, sapaan akrab Abdillah, menilai keterlibatan masyarakat dalam proses produksi menjadi bagian penting dari karya tersebut.


Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pembuat dokumentasi. Mereka juga berinteraksi dengan masyarakat untuk memahami cerita, potensi, dan kehidupan desa secara lebih dekat.


Karena itu, delapan video sinematik yang diproduksi peserta KKN diharapkan tidak berhenti sebagai karya perlombaan.


Lebih dari itu, karya tersebut diharapkan menjadi arsip visual yang mampu memperkenalkan potensi desa kepada khalayak lebih luas.


“Dalam karya delapan video sinematik diharapkan akan abadi dan menjadi warisan visual yang menginspirasi dan sarat akan makna,” ungkapnya.


Rektor Unira Malang, H. Imron Rosyadi Hamid, SE., M.Si., Ph.D., turut mengapresiasi konsep Festival Film Dokumenter Desa dalam tajuk Asta Pesona Desanesia tersebut.


“Festival Film Dokumenter Desa tersebut mempertegas orientasi Unira Malang yang menempatkan desa sebagai ruang belajar sekaligus ruang kolaborasi. Mahasiswa dituntut mampu mengidentifikasi potensi lokal, membangun komunikasi dengan masyarakat, serta menerjemahkan pengalaman pengabdian menjadi karya yang memberikan nilai tambah bagi desa,” ujarnya.


Masih menurut Gus IRH, penggabungan pengabdian, kreativitas, dokumentasi, dan apresiasi diharapkan membuat pengalaman KKN-T memberikan manfaat yang lebih panjang.


Sebab, ketika potensi desa berhasil direkam dan diceritakan dengan baik, pengalaman pengabdian mahasiswa tidak berakhir ketika mereka meninggalkan desa.


Setelah sambutan Kepala LPPM dan Rektor Unira Malang, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh KH. Dr. Romadhon Chatib, MH., selaku Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Raden Rahmat.


Kegiatan kemudian memasuki agenda utama berupa pemutaran delapan film secara bertahap berdasarkan undian.


Film urutan pertama dan kedua diputar pada sesi awal, disusul film ketiga dan keempat. Selanjutnya film kelima dan keenam, kemudian film ketujuh dan kedelapan.


Delapan desa yang menjadi bagian dari film dokumenter tersebut adalah Srigonco, Senggreng, Sumber Tempur, Bangelan, Ngawonggo, Kidal, Langlang, dan Toyomarto.


Dalam festival tersebut, tiga film dokumenter desa yang menjadi pemenang masing-masing berasal dari Desa Kidal, Desa Bangelan, dan Desa Sumber Tempur.


Acara ditutup dengan penyerahan apresiasi dan doorprize kepada mahasiswa serta DPL KKN-T Unira Malang.


Pada akhirnya, Asta Pesona Desanesia menjadi perayaan atas sebuah perjalanan. Mahasiswa datang untuk belajar, masyarakat menjadi mitra untuk berkarya, dan desa meninggalkan cerita yang diabadikan dalam karya visual.


Jika ingin lebih tajam dan bernuansa media online, judul alternatif yang paling kuat: “Delapan Desa, Delapan Cerita, KKN-T Unira Malang Abadikan Potensi Desa Lewat Film”. (Ab) 

Bagikan:

Komentar