![]() |
| Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya saat menyerahkan bantuan buku di Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Jawa Barat.(Dok/Istimewa). |
Dalam kunjungan tersebut, Willy turut menyerahkan bantuan sebanyak 250 buku bacaan untuk Perpustakaan Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung.
Buku yang diserahkan memiliki beragam genre. Mulai dari sastra, agama, ekonomi produktif, eko bisnis, hingga berbagai bacaan lainnya.
“Buku yang saya serahkan ini banyak genre, ada genre sastra, ada genre agama, ada genre ekonomi produktif, ada eko bisnis dan lain sebagainya. Spektrumnya sangat luas,” kata Willy.
Tak berhenti pada penyediaan buku, Willy juga berencana memberikan 100 buku harian atau diari kepada warga binaan pada pekan depan.
Menurut Willy, menulis diari dapat menjadi sarana bagi seseorang untuk mengenali sekaligus merefleksikan dirinya sendiri.
“Insya Allah minggu depan saya akan kirim 100 diari, karena dulu saya belajar menulis dari diari. Diari itulah yang menjadi medium korespondensi, kalau membaca kita memahami pikiran-pikiran orang, menulis kita berkorespondensi dengan diri kita dan melihat ke dalam,” ujarnya.
Willy menilai, aktivitas membaca dan menulis memiliki kekuatan dalam membangun proses kontemplasi warga binaan.
Karena itu, literasi semestinya ditempatkan sebagai bagian dari proses pembinaan dan reintegrasi. Literasi, menurutnya, bukan sekadar aktivitas tambahan di dalam lapas.
Sebelumnya, Willy mengungkapkan telah menyampaikan dalam rapat kerja bersama menteri terkait gagasan agar kemampuan membaca dan menulis dapat menjadi salah satu variabel dalam pengurangan masa tahanan.
Menurutnya, selama ini ukuran pembinaan cenderung bertumpu pada kepatuhan terhadap aturan.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari perhatian Willy terhadap pentingnya literasi dalam proses pembinaan warga binaan, termasuk bagaimana membaca dan menulis dapat menjadi medium untuk melakukan refleksi diri serta mempersiapkan proses reintegrasi. (Red)


Komentar