![]() |
| KH. Said Aqil Siradj saat sambutan dalam acara bedah buku Historiografi Islam Nusantara bertema “Merawat Peradaban, Menginspirasi Masa Depan” di Deka Hotel, Surabaya.(Dok/Istimewa). |
Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan para tokoh, akademisi, dan pemerhati sejarah untuk mendalami perjalanan Islam di Nusantara serta kontribusinya dalam membentuk tradisi keilmuan, kebudayaan, dan peradaban Indonesia.
Sejumlah tokoh hadir sebagai narasumber, di antaranya Ketua Dewan Pakar Yayasan SASNU Dr. Sony H. Haribowo, M.B.A.; Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A.; Sekretaris Jenderal LPOI KH. Imam Pituduh, S.H., M.H.; serta Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Dr. KH. Imam Ghozali Said, M.A.
Diskusi dipandu K.R.T. Dr. R. Otto Bambang Wahyudi, M.Si., M.M., dengan suasana semakin semarak melalui penampilan komika Bobby Al Mahbub.
Hadir pula mantan Gubernur Jawa Timur dua periode yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI, Soekarwo, serta Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak. Kedua tokoh tersebut turut mendapat kesempatan menyampaikan sambutan dalam kegiatan itu.
Sejarah Islam Nusantara dan Pembentukan Identitas Bangsa
Buku Historiografi Islam Nusantara mengulas perjalanan Islam di Nusantara beserta perannya dalam perkembangan pemikiran, tradisi keilmuan, dan kebudayaan masyarakat. Karya ini diharapkan memperkaya cara pandang masyarakat dalam memahami hubungan antara ajaran Islam, dinamika sosial, dan pembentukan identitas kebangsaan.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A., menekankan pentingnya penulisan sejarah Islam Nusantara yang mampu menguraikan interaksi antara ajaran agama dan kebudayaan lokal secara mendalam.
Menurut mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang juga Anggota Wantimpres RI tersebut, kajian sejarah perlu ditempatkan dalam konteks perkembangan masyarakat agar kontribusi Islam terhadap perjalanan bangsa dapat dipahami secara utuh.
“ kajian sejarah perlu mengungkap interaksi Islam dengan kebudayaan lokal, perkembangan jaringan keilmuan, pembentukan institusi sosial, serta perannya dalam perjalanan bangsa,” urainya.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa sejarah Islam Nusantara tidak dapat dilepaskan dari proses panjang perjumpaan agama dengan beragam tradisi masyarakat. Proses itu turut membentuk khazanah intelektual, praktik sosial, dan kebudayaan yang menjadi bagian dari kekayaan Indonesia.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal LPOI KH. Imam Pituduh mengingatkan pentingnya rekonstruksi sejarah di tengah derasnya arus informasi modern. Menurutnya, pemahaman sejarah yang kuat diperlukan agar generasi muda mampu menyikapi berbagai informasi secara kritis dan tidak mudah terkecoh oleh narasi manipulatif.
Literasi sejarah, dalam konteks tersebut, bukan hanya berkaitan dengan kemampuan mengenali peristiwa masa lalu. Lebih dari itu, masyarakat perlu memahami sumber informasi, latar belakang peristiwa, serta konteks yang melingkupinya agar tidak terjebak dalam pemahaman sejarah yang keliru.
Merawat Warisan, Menjawab Tantangan Zaman
Peluncuran buku ini sekaligus menjadi momentum untuk mendiskusikan relevansi historiografi dengan tantangan kehidupan masa kini. Catatan sejarah dapat menjadi bahan refleksi untuk memahami bagaimana peradaban berkembang, bagaimana nilai-nilai sosial terbentuk, dan bagaimana pengalaman masa lalu dapat memberikan pelajaran bagi generasi berikutnya.
Yayasan SASNU berharap Historiografi Islam Nusantara dapat menjadi referensi bagi masyarakat luas, kalangan akademisi, serta generasi muda yang ingin memperdalam pemahaman tentang sejarah Islam di Indonesia.
Pemahaman sejarah yang komprehensif dinilai penting untuk memperkuat identitas bangsa tanpa mengabaikan keberagaman. Dengan mengenali proses panjang pembentukan peradaban, masyarakat diharapkan semakin menghargai perbedaan, menjaga toleransi, dan memperkuat semangat kebersamaan.
J
ajaran pimpinan Yayasan SASNU juga berharap karya tersebut dapat memperluas literasi sejarah keagamaan di Tanah Air sekaligus mendorong lahirnya kajian-kajian yang lebih kritis, kontekstual, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Melalui peluncuran dan bedah buku ini, SASNU menegaskan komitmennya dalam mengembangkan literasi, ilmu pengetahuan, serta pelestarian warisan peradaban. Upaya tersebut diharapkan tidak berhenti pada pendokumentasian sejarah, tetapi juga mampu menghidupkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan sebagai landasan membangun masa depan Indonesia yang inklusif, toleran, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. (Red)


Komentar