![]() |
| Panen Labu Madu milik Desa Gili Timur, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan.(Dok/Istimewa). |
Panen itu menjadi bagian dari Panen Raya Labu Madu yang digelar Pemerintah Desa Gili Timur bersama BUMDes Nusa Asasta. Tak hanya perangkat desa dan sejumlah tamu undangan yang datang. Beberapa warga, termasuk ibu-ibu, sudah menunggu sejak pagi untuk membeli sekaligus memetik langsung labu dari kebun.
Ada sekitar 360 batang labu madu yang ditanam di lahan tersebut. Hasilnya cukup banyak, mencapai sekitar 700an buah dengan bobot rata-rata 1,5 sampai 2 kilogram per buah. Saat panen raya, labu madu dijual Rp30.000 per kilogram. Adapun harga normalnya mencapai Rp35.000 per kilogram.
Bagi Pemerintah Desa Gili Timur, hasil panen itu bukan sekadar soal jumlah buah yang berhasil dipetik. Ada proses panjang di baliknya, termasuk menentukan jenis tanaman yang dianggap punya peluang untuk dikembangkan sebagai usaha desa.
Kepala Desa Gili Timur Abdul Wepar menceritakan, ide menanam labu madu muncul ketika pemerintah desa, pengurus BUMDes dan pendamping desa membahas pemanfaatan program ketahanan pangan dari Dana Desa.
“Awalnya kami bersama perangkat desa, pengurus BUMDes Gili Timur dan Pendamping Desa berdiskusi tentang apa yang akan dikelola untuk program ketahanan pangan dari Dana Desa. Kebetulan dalam diskusi tersebut kami berinisiatif mengelola pertanian labu madu,” katanya.
Labu madu kemudian dipilih karena tanaman tersebut belum banyak dibudidayakan di Bangkalan. Desa Gili Timur melihat ada peluang yang bisa dicoba, terutama dari sisi pasar dan harga jual.
“Karena ini belum ada yang pernah tanam di Bangkalan, kami bersama BUMDes Nusa Asasta Gili Timur akhirnya mencoba menanam labu madu. Alhamdulillah, hasilnya maksimal dan harga jualnya juga cukup tinggi,” ujarnya.
Abdul Wepar berharap usaha tersebut tidak berhenti pada panen perdana. Jika bisa dikelola secara berkelanjutan, pertanian labu madu diharapkan menjadi salah satu sumber kegiatan ekonomi baru yang dikelola desa melalui BUMDes.
Panen perdana itu juga mendapat perhatian dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Bangkalan. Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat DPMD Bangkalan Hery Liyanto Putra menilai apa yang dilakukan Gili Timur dapat menjadi gambaran bahwa program ketahanan pangan desa bisa diarahkan pada kegiatan yang menghasilkan.
“Hari ini kita melakukan panen raya labu madu pertama di Madura. Alhamdulillah, ini adalah program ketahanan pangan melalui penyertaan modal BUMDes yang telah dilakukan oleh Desa Gili Timur,” ujar pria yang akrab disapa Erik ini.
Menurut dia, keberhasilan usaha BUMDes bukan hanya dilihat dari adanya kegiatan, tetapi juga dari kemampuan usaha tersebut menghasilkan manfaat bagi desa.
“Ini adalah bukti bahwa jika BUMDes dikelola dengan baik dan benar maka akan memperoleh hasil yang tentunya akan meningkatkan perekonomian desa dan bisa menambah PADes. Mudah-mudahan ini bisa menjadi contoh untuk desa-desa lain se-Kabupaten Bangkalan,” katanya.
Panen raya tersebut dihadiri perwakilan DPMD Bangkalan, Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) P3MD Kemendes PDT Kabupaten Bangkalan, perwakilan Kecamatan Kamal, TPP P3MD Kecamatan Kamal, Penyuluh Pertanian Kamal dan mahasiswa KKN Universitas Trunojoyo Madura (UTM).
Di tengah kegiatan, perhatian justru tak hanya tertuju pada tamu undangan. Sejumlah ibu-ibu yang datang sebagai calon pembeli terlihat menunggu kesempatan untuk memetik sendiri labu madu yang sudah matang.
Salah satunya Susi Rahman, warga Desa Kamal. Ia datang sejak pagi dan langsung tertarik dengan hasil pertanian yang dikembangkan di lahan desa tersebut.
“Dengan adanya pertanian labu madu di Desa Gili Timur, mudah-mudahan dapat meningkatkan potensi pertanian serta ketahanan pangan desa,” tutur Susi.
Susi bahkan membeli labu madu hingga 18 kilogram. Baginya, keberadaan kebun tersebut memberi pilihan baru bagi warga sekaligus menunjukkan bahwa lahan desa bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan komoditas yang memiliki nilai jual. (Fiq)


Komentar