> Dua Srikandi PMII UI Generasi Awal
|
Menu Close Menu

Dua Srikandi PMII UI Generasi Awal

Senin, 11 Januari 2021 | 06.24 WIB



Oleh : Didik Suyuthi


Sejak dideklarasikan melalui sebuah Musyawarah Mahasiswa Nahdliyin pada April 1960 di Surabaya, diluar agenda kritis merespon dinamika politik Orde Lama, prioritas kepengurusan PMII di tahun-tahun awal, antara lain adalah rekrutmen dan konsolidasi pembentukan cabang-cabang. 


Di Jakarta, tak cukup melalui mimbar-mimbar kajian dan diskusi, sahabat Mahbub Djunaidi, Chalid Mawardi, Zamroni, dan Pengurus Pusat lain juga door to door memperkenalkan organisasi PMII. 


Sebagai pucuk pimpinan yang notabene pernah mengenyam bangku kuliah di Fakultas  Hukum Universitas Indonesia, Mahbub, pastinya punya target khusus untuk menggalang anggota PMII di almamaternya.

 

Di antara hasil rekrutan Mahbub dkk, saya temukan setidaknya ada dua nama kader PMII UI yang menarik diketahui. 


Pertama, ada sahabat Ratu Nakis Bandiah Barli. Nama Barli di belakang menunjuk pada nama suaminya yang merupakan seorang Seniman Lukis Terkemuka Indonesia, Barli Sasmitawinata. 


Dalam buku sahabat Fauzan Alfas “PMII dalam Simpul-Simpul Sejarah Perjuangan”, Ratu Nakis Bandiah sempat tercatat sebagai Bendahara II PP PMII Periode 1963-1967. 


Dalam dokumen SK kepengurusan tersebut nama Ratu Nakis ditulis lengkap dengan nama keluarga besar di belakang. Sayangnya, seperti terjadi salah ketik, nama yang tertera sedikit berubah menjadi RT Naksabandiyah Hatar. 


Nakis Bandiah, kala itu adalah mahasiswi Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Dalam sebuah kesaksiannya, saat menjadi Pengurus Pusat PMII suatu ketika ia menjadi satu-satunya perempuan yang dipanggil menghadap Syarif Thayeb (Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) saat itu. 


“Saya bersama Mas Zam (Zamroni) dari PMII, Cosmas Batubara dari PMKRI, David Napitupulu dari Mapancas, dan Soewarto dari Dewan Mahasiswa UI. Kami diminta menghadap dalam rangka koordinasi pembentukan KAMI,”  tutur pimpinan Barlik Art Center ini. 


Yang masih terkesan dalam ingatan Nakis, waktu itu untuk alasan efektifitas,  Menteri Syarif Thayeb mengirim sebuah mobil sebagai tumpangan dari UI ke Kantor Kementerian. Sayangnya mobil tersebut diserahkan begitu saja dan tak disiapkan sopir. Walhasil karena yang punya SIM hanya Nakis Bandiah, dia-lah yang dipaksa nyetir.  


“Kamu bisa nyetir kan?,” tanya Mas Zam ke saya. Ya spontan saya bilang “Bisa Mas!”. Jadilah saya dalam satu rombongan ‘perawan di sarang penyamun,” candanya.


Meski tidak lama berproses di PMII karena keburu berumah tangga, Nakis mengaku bersyukur sempat berinteraksi dan belajar bagaimana membentuk pribadi yang tangguh, ulet dan mandiri dengan tokoh-tokoh pergerakan.


Srikandi PMII UI berikutnya adalah Farida. Nama lengkapnya Farida Saifuddin, putri Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri. Pada kisaran tahun 1963-an, ia tercatat sebagai mahasiswi awal di jurusan Kriminologi UI. Farida adalah salah seorang pelaku sejarah aktif berbagai demonstrasi mahasiswa menuntut penggulingan Orde Lama. 


Dibawah bendera Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang dikomandoi Zamroni, Farida dari unsur PMII nyaris tak pernah absen di barisan paling depan meneriakkan Tiga Tuntutan; Pembubaran PKI, Pembersihan Kabinet Dwikora, dan Penurunan Harga-Harga.  


“Pada aksi puncak 11 Maret 66, KAMI mengepung Istana. Seingat saya, saya sendiri saat itu menjadi satu-satunya perempuan yang ikut menaiki kendaraan panser Angkatan Darat. Kalau pasukan Cakrabirawa menembak mungkin habislah saya,” terang istri mendiang KH Shalahuddin Wahid ini. 


Meski mengaku masuk pergerakan gegara direkrut oleh Zamroni melalui pendekatan langsung ke ayahnya, namun Farida tetap bersyukur bisa berproses di PMII. Bagi dia, dunia pergerakan adalah medan penting untuk membangun kritisisme dan mengasah tanggungjawab sosial dalam merespon berbagai situasi dan keadaan. 


Di era kepemimpinan Mahbub, Farida ditunjuk menjadi Koordinator grub Drum Band PP PMII. Sewaktu Bung Karno masih harmonis dengan mahasiswa, Drum Band PMII selalu tampil pada Ulang Tahun Kemerdekaan 17 Agustus di Istana Negara.

 

“Setiap peringatan 17 Agustus Drum Band PMII selalu tampil memeriahkan acara. Saat gladi pelatihnya langsung dari unsur Angkatan Darat. Sayang, drum band mahasiswa sekarang tidak ada lagi ya,” terangnya.


Saya menduga, Nakis Bandiah dan Bu Nyai Farida, baru dua orang saja dari puluhan atau mungkin ratusan anggota PMII UI di generasi 60-an, yang turut menjejakkan sejarah dibalik gegap-gempita panggung gerakan mahasiswa, yang ikut menjadi saksi kunci tumbangnya Orde Lama. (*) 


Penulis adalah Pengurus LTN PBNU



Bagikan:

Komentar