> Menggugat Islam HMI
|
Menu Close Menu

Menggugat Islam HMI

Jumat, 05 Februari 2021 | 08.33 WIB

 


Oleh: Moch Eksan


Kendatipun, peristiwa itu sudah 22 tahun berlalu, saya masih ingat betul gagasan reaktualisasi Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI. Saya menyampaikan pada sesi diskusi NDP LK-II HMI Cabang Malang, 1998. Sebuah forum pengkaderan tingkat nasional yang diikuti 114 peserta dari seluruh nusantara.


Saya peserta dari HMI Cabang Jember Komisariat Sunan Ampel yang terlibat aktif dalam berbagai diskusi panel pada forum LK-II yang diselenggarakan pada 19-25 Juli 1998 waktu itu.


Pada diskusi panel tersebut, saya menyampaikan bahwa NDP sejatinya "faham" keislaman HMI. Tentu,  sebagai sebuah perspektif, NDP bersifat filosofis. Lebih sebagai minhajul fikr (metode berfikir) daripada minhajul 'amal (metode bertindak). Sehingga kandungan yang ada di dalamnya bersifat abstraks daripada kongkrit.


NDP merupakan filsafat agama yang tak mudah dipahami dan dicerna. Oleh sebab, di bawah alam sadar manusia, menempatkan filsafat sebagai menara gading. Para kader merasakan bahwa kajian tersulit di dalam HMI adalah kajian NDP. Para pemateri rerata punya basis studi agama dan filsafat yang baik. Dan dianjurkan, juga memahami realitas keagamaan dan kebangsaan yang baik pula.


Di dalam NDP, terdapat 7 tema besar. Antara lain: Pertama, dasar kepercayaan. Kedua,  pengertian kemanusiaan. Ketiga, kemerdekaan manusia (ikhtiar) dan keharusan universal (takdir). Keempat, ketuhanan dan prikemanusiaan. Kelima, individu dan masyarakat.  Keenam, keadilan sosial dan keadilan ekonomi. Ketujuh,  kemanusiaan dan ilmu pengetahuan.


Dari berbagai tema di atas, ternyata NDP hanya mengandung filsafat ketuhanan yang berisi narasi teologis, serta filsafat kemanusiaan yang berisi narasi antropologis. Sementara, filsafat alam yang berciri kosmologis tak tersentuh sama sekali.  Disinilah "cacat" filosofis dari NDP yang mengharuskan reaktualisasi untuk melengkapi dan menyempurnakan telaah dan kajian berdasarkan pada perkembangan ilmu filsafat umum.


Oleh karena itu, NDP sebagai produk ideologis keislamaan HMI bukan "kitab suci" yang tak boleh diotak-atik dan atau dirubah. Akan tetapi, semangat yang terkandung dan melingkupi sosio-kultural umat kala itu, sedang meniscayakan pembaharuan pemikiran Islam bersamaan dengan agenda pembangunanisme Orde Baru. 


Sayangnya, sampai HMI berusia ke-74 tahun ini, maqnum opus Prof Dr Nurcholish Madjid MA dalam Himpunan belum ada yang menyamainya. Upaya para kader untuk memperbaharuhinya selalu menemui kegagalan. Pernah ada teks NDP baru hasil kongres HMI ke-25 tahun 2006 di Makasar, justru terasa dangkal dan mengaburkan mutiara pemikiran yang ada di dalam NDP sebagaimana disampaikan oleh Cak Nur dalam Kongres HMI ke-9 tahun 1969 di Malang dan baru dikukuhkan pada Kongres HMI ke-10 tahun 1971 di Palembang.


Akibatnya, NDP mengalami "sakralisasi teks". Dimana kata per kata sudah bagaikan ayat yang harus ditafsirkan seperti tafsir bil lafd (tafsir kata). Sementara,  tafsir bil ra'yi (tafsir akal), tafsir bil ma'tsur (tafsir riwayat), tafsir bil 'ilmi (tafsir ilmu pengetahuan) dan tafsir bil maudhu' (tafsir tematik), tertinggal jauh dari perdebatan keislaman HMI. Sungguh, ini babak sejarah kejumudan pemikiran keislaman HMI yang tumbuh dan berkembang di bawah lentera pembaharuan pemikiran Islam.


Cak Nur, panggilan akrab Nurcholish Madjid, setelah berpulang ke rahmatullah, pasti gregetan melihat HMI semakin jauh dari proyek pembaharuan pemikiran Islam. Apalagi, satu dekade terakhir, Islam Indonesia di bawah bayang-bayang ancaman radikalisme takfiri,  khilafah Islamiayah dan aksi intoleransi. HMI kehilangan prakarsa intelektual untuk menyegarkan kembali pemikiran umat yang kian membeku dan membatu.


Umat Islam Indonesia terperangkap oleh berita hoax dan ujaran kebencian yang mengoyak keislaman, keindonesiaan dan kemodernan. HMI juga terbawa arus dalam centang peranang konflik Islam versus negara, dan pertikaian umat versus pemerintah. Padahal dalam konteks ini, Cak Nur telah mendamaikan konflik dan pertikaian tersebut dengan mengembangkan wacana Islam Yes, Partai Islam No, Tidak Ada Negara Islam,  dan Masyarakat Religius, dan Indonesia Kita.


Cak Nur ditakdir 2 kali menjadi Ketua Umum PBHMI periode 1966-1969 dan periode 1969-1971, untuk meletakkan api Islam dalam normatifitas dan historisitas umat dan bangsa. Api Islam tersebut berbeda dengan Islam Nusantara NU atau Islam Berkemajuan Muhammadiyah. Sebuah faham dan amaliah yang menginginkan pembaharuan pemikiran Islam menjadi inti dari pembaharuan pemikiran keindonesiaan.


Biografi intelektual Cak Nur, sebuah bukti kecil dari pergulatan Islam, Indonesia dan modernitas, yang telah meratakan jalan bagi muslim intelektual profesional menjadi masa depan Indonesia. Halangan pemikiran dari dalam dan kecurigaan dari luar terhadap generasi Islam Pasca Cak Nur, hancur lebur dalam pesona muslim modern yang berfikir terbuka, maju, menerima perbedaan, menghargai keanekaragaman, serta memperjuangkan kemanusiaan dan peradaban.


Mirisnya, khazanah intelektual Islam Cak Nur, bagaikan api lilin yang menerangi jalan Islam Indonesia, sekaligus membakar diri sendiri. Ini lantaran HMI terjebak dalam konflik politik internal, energi kader habis untuk berebut kekuasaan, dan terseret ortodoksi Islam. Sudah lama HMI tak lagi menjadi episentrum pembaharuan pemikiran Islam sepeniggal Cak Nur. Yang semarak justru, banyak kader yang euforia Islam Timur Tengah yang syiistik, ikhwanistik, tahriristik, Salafistik, tabligistik, dan bahkan jihadistik.


Semua euforia tersebut disebabkan HMI tercerabut dari akar cita perjuangan sebagai gerakan pembaharuan pemikiran Islam. Konsekuensi logisnya, banyak kader mengkaji NDP hanya bisa menangkap "asap" dan belum menangkap "api" pembaharuan pemikiran Islam Cak Nur.


NDP sebagai ajaran berislam dan berindonesia HMI, tak bisa lepas dari Cak Nur dengan segala produk pemikiran yang kontroversial maupun tidak. Memisahkan Islam HMI dengan Islam Cak Nur sama halnya dengan memisahkan gula dari manisnya. Melepaskan Islam Cak Nur dari pergumulan Islam kontemporer tak ubahnya sama  dengan mengais ikan dari kolamnya. Semua itu hal yang mustahil. Alhasil, menggugat Islam HMI, sama dengan menghidupkan pemikiran Cak Nur serta menggalakkan kembali wacana Islam kontemporer. Dies Natalis HMI ke-74. Yakin usaha sampai. Bahagia HMI!


Moch Eksan, Pendiri Eksan Institute dan Alumni HMI Cabang Jember Komisariat Sunan Ampel.

Bagikan:

Komentar