|
Menu Close Menu

Hari Lahir Pancasila, Muzammil Syafi'i Ajak Masyarakat Membumikan Pancasila sebagai Ideologi Bangsa

Kamis, 01 Juni 2023 | 16.05 WIB

Muzammil Syafi'i, Anggota Komisi A DPRD Jatim dari Fraksi NasDem. (Dok/Istimewa).

Lensajatim.id Surabaya – Muzammil Syafi'i, Anggota Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur (Jatim) ungkap Hari Ulang Tahun kelahiran Pancasila tahun ini dikagetkan dengan hasil survey pada siswa tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Kamis (01/06/2023).


Diketahui sebelumnya, SETARA INSTITUTE dan Forum Indonesian Development  yang  mencatat bahwa 83,3 persen siswa SMA menganggap Pancasila bukan ideologi permanen dan bisa diganti.


Menurutnya, meskipun hal itu merupakan anggapan dan persepsi publik khususnya siswa SMA yang masih perlu diuji kebenarannya, namun peru diwaspadai fenomena tersebut.


"Bisa-bisa itu merupakan semacam api dalam sekam yang pada saatnya menjadi bom waktu bagi keberlangsungan Pancasila sebagai Ideologi Bangsa Indonesia," katanya menjelaskan kepada media ini, Kamis (01/06/2023).


Lebih lanjut, dirinya mengungkapkan bahwa, siswa SMA itu dikategorikan sebagai bagian dari kelompok generasi hasil sensus yang kini jumlahnya sekitar 75,49 juta. Hasil survey itu merupakan representasi generasi Z maka 83,3 persen itu setara dengan 62,88 juta.


"Maka, ini suatu yang sangat menghawatirkan eksistensi Pancasila, apalagi 10 sampai 20 tahun yang akan datang merekalah yang menjadi tampuk pemimpin bangsa," ungkapnya.


Untuk itu, pada peringatan Hari Lahir Pancasila pada tanggal 1 Juni dan disahkan secara konstitusional pada tanggal 18 Agustus 1945 dirinya mengajak untuk merenungi  ulang, bagaimana membumikan Pancasila  ideologi bangsa yang bisa dipahami dan untuk selanjutnya dilaksanakan dalam kehidupan sehari hari. 


"Dalam banyak kesempatan saya sering bertanya kepada audien yang hadir dalam acara saya, saya suruh membaca Pancasila dan bisa dikasih hadiah, ternyata banyak yang salah menyebut rumusan Pancasila tersebut terutama sila keempat, rumusannya saja banyak yang salah apalagi penerapannya dalam pergaulan kehidupan sehari hari," bebernya.


Sehingga, lanjut Muzammil Syafi'i,

perlu ada metode ulang untuk menjelaskan Pancasila itu pada masyarakat dengan bahasa mereka, sehingga dirasakan betul oleh masyarakat akan manfaat dan pentingnya Pancasila sebagai ideologi dan pemersatu bangsa. 


"Tapi jangan terulang kembali seperti Pedoman Penghayatan dan pengamalan Pancasila (P4) semasa Orde Baru dulu yang secara politis diarahkan pada menguatkan kekuasaan maka terjadi politisasi Pancasila untuk kepentingan politis penguasa. Yang dampak salah satu nya adalah timbulnya kekhawatiran akan terulangnya kembali masa masa Orde baru," jelasnya.


Pria yang saat ini menjabat sebagai Ketua MA IPNU Jatim itu menambahkan, jika Jam'iyah NU dalam Muktamar ke 24 tahun1984 telah memberikan penjelasan secara ilmiah dan tinjauan agama dari konsep Almarhum KH Ahmad Shiddiq yang dalam penjelasannya menyebutkan bahwa;


"Dengan demikian Republik Indonesia adalah upaya final seluruh nation (bangsa) teristimewa kaum muslimin, untuk mendirikan segara (kesatuan) di wilayah Nusantara, Para Ulama dalam NU meyakini bahwa Penerimaan Pancasila ini dimaksudkan sebagai perjuangan bangsa untuk mencapai kemakmuran dan keadilan Sosial".


Maka perseta Muktamar dalam sidang Hubungan Pancasila dan Islam yang dipimpin oleh Gus Dur saat itu disepakati bahwa Pancasila itu Islami.


Dalam memperingati Hari Lahir Pancasila ini perlu merunut kembali sejarah lahirnya Pancasila dan mereview pentingnya Pancasila untuk mempersatukan bangsa Indonesia. Yang saat sedang sangat dipengaruhi oleh faham Liberalisme dari barat dan faham khilafah dari Timur yang ingin  memecah belah keutuhan bangsa Indonesia, terutama sekali kepada generasi muda dengan bahasa mereka.


"Selamat Hari Ulang Tahun Lahirnya Pancasila semoga tetap jaya dan NKRI harga mati," pungkasnya. (Zi/Had)

Bagikan:

Komentar