|
Menu Close Menu

Bisnis Mahasiswa: Antara Ngopi, Ngoding, dan Ngasih Inovasi

Minggu, 21 September 2025 | 15.46 WIB



Oleh: Ferdi Fernando Putra 

(Ketua Divisi Media Informasi HIPMI PT Banyuwangi dan Anggota Divisi Kepemudaan FKMPI Jatim) 


Lensajatim.id, Opini- Ngopi di kafe, sibuk ngoding, sambil memikirkan ide bisnis itulah realita sebagian mahasiswa hari ini. Kewirausahaan sudah menjadi gaya hidup baru, bukan sekadar pilihan untuk mencari cuan tambahan. Namun, pertanyaannya, apakah semua ini hanya sebatas tren, atau benar-benar bisa menjadi motor perubahan ekonomi?


Faktanya, minat mahasiswa untuk berwirausaha semakin meningkat. Data Kementerian Koperasi dan UKM 2025 menyebut bahwa 23 persen mahasiswa di Indonesia sudah mencoba bisnis kecil-kecilan, mulai dari jualan online, kuliner, hingga produk digital. Angka ini naik dua kali lipat dibandingkan lima tahun lalu.


Sayangnya, banyak bisnis mahasiswa yang berhenti di tengah jalan. Penyebabnya beragam, mulai dari modal yang terbatas, manajemen waktu yang berantakan, hingga mental yang gampang menyerah. Padahal, jika diberikan ruang yang lebih luas, mahasiswa bisa menjadi sumber inovasi segar bagi pasar.


Contoh nyata dapat dilihat di Politeknik Negeri Banyuwangi. Sekelompok mahasiswa di sana berhasil mengembangkan produk kopi lokal dengan strategi branding digital. Hasilnya, penjualan meningkat hingga 25 persen hanya dalam waktu empat bulan. Keberhasilan ini bukan hanya menambah penghasilan, tetapi juga membantu petani kopi agar produknya tidak kalah bersaing dengan brand besar.


Ferdi Fernando Putra, salah satu mahasiswa yang aktif berwirausaha, mengungkapkan bahwa tantangan sebenarnya bukan pada ide, melainkan pada konsistensi dalam menjalankan usaha. “Kewirausahaan bikin kita belajar lebih dari sekadar teori. Kita dituntut kreatif, tahan banting, dan mikir solusi. Jadi wirausaha itu bukan cuma cari duit, tapi juga ninggalin sesuatu yang punya dampak,” tegas Ferdi.


Pernyataan Ferdi ini menyentil karena wirausaha memang bukan jalan instan. Ada jatuh bangun, ada kegagalan, namun justru di situlah mental baja ditempa.


Kewirausahaan mahasiswa seharusnya tidak lagi dipandang sebagai “usaha sampingan anak kuliah.” Justru dari kampuslah lahir ide-ide gila yang bisa mengganggu pasar dan menciptakan perubahan nyata. Pemerintah, kampus, dan ekosistem bisnis perlu memberikan dukungan yang lebih dari sekadar lomba business plan, melainkan juga akses modal, mentoring, dan jaringan.


Pada akhirnya, bisnis mahasiswa bukan hanya tentang ngopi, ngoding, dan memberi inovasi. Lebih dari itu, bisnis mahasiswa adalah tentang memberikan dampak bagi diri sendiri, kampus, dan masyarakat.

Bagikan:

Komentar