|
Menu Close Menu

Santri Ponpes Al-Khoziny Masih Menyimpan Luka Batin, Ning Lia Dorong Trauma Healing

Jumat, 03 Oktober 2025 | 14.09 WIB

Ning Lia, Anggota DPD RI asal Jawa Timur saat menjenguk santri yang jadi korban selamat dalam kasus ambruknya musala Ponpes Al Khoziny Buduran Sidoarjo.(Dok/Istimewa).
Lensajatim.id, Sidoarjo– Di balik kisah heroik para santri yang berhasil selamat dari reruntuhan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, tersimpan luka yang tak terlihat mata. Peristiwa tragis pada Senin (29/9) itu bukan hanya melukai fisik, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam pada jiwa anak-anak yang mengalaminya.


Hal inilah yang membuat Anggota DPD RI, Dr. Lia Istifhama, turun langsung menjenguk para korban di RS Siti Hajar, Kamis (2/10). Dengan mata yang teduh dan nada penuh empati, Ning Lia menegaskan pentingnya pendampingan psikologis.


“Anak-anak ini luar biasa. Mereka punya ketegaran dan resiliensi yang tinggi. Tapi kita tidak boleh menutup mata, mereka tetap anak-anak yang baru saja menghadapi pengalaman traumatis. Trauma healing sangat penting agar luka batin ini tidak terbawa hingga dewasa,” ujarnya.


Pemandangan yang Ning Lia saksikan sungguh menggetarkan hati. Ada Royhan (16), santri asal Bangkalan, yang tulang kaki dan tangannya retak. Meski tubuhnya penuh perban dan gips, ia tetap berusaha tersenyum di hadapan ibunya, Mayuni.


“Lihatlah, meski menahan sakit, mereka masih bisa tersenyum. Itu bentuk resiliensi yang luar biasa,” ucap Ning Lia haru.


Di sisi lain, Abdin Ramadhani (18) asal Probolinggo, masih terbaring dengan wajah pucat. Ia sempat mengalami mimisan dan muntah akibat gumpalan pada pembuluh darah. Tangannya tak pernah lepas dari genggaman sang ibu, Munik, yang terus berzikir di sampingnya.


Begitu pula dengan Shaka Nabil (16) asal Lumajang. Cedera kepala membuatnya lemah, namun ia tetap berusaha menyapa Ning Lia dengan lirih. Di sampingnya, ibunya Suparti, setia mendampingi dengan wajah tegar meski hatinya bergetar.


“Mereka selamat bukan hanya karena fisiknya kuat, tapi juga karena dukungan emosional dari orang tua. Saya kagum melihat ketegaran para ibu yang mendampingi anak-anak dengan penuh kesabaran tanpa menunjukkan kepanikan,” tutur Ning Lia.


Menurut putri KH Maskur Hasyim itu, peran keluarga menjadi kunci dalam penyembuhan psikologis. Sentuhan lembut, kata penuh kasih, dan doa yang tak putus adalah obat yang lebih ampuh dari sekadar obat medis.


“Anak-anak bisa pulih lebih cepat jika merasakan rasa aman dari orang tuanya. Inilah bentuk trauma healing pertama yang paling penting,” tegasnya.


Ning Lia juga berharap ada perhatian lebih dari pemerintah dan lembaga terkait. Kehadiran psikolog, konselor, hingga pendamping rohani, menurutnya, mutlak dibutuhkan untuk memulihkan semangat para santri.


“Selain obat medis, mereka butuh ruang untuk bercerita, menangis, dan didampingi secara psikologis. Dengan penanganan yang tepat, mereka pasti bisa bangkit dan melanjutkan masa depan dengan semangat baru,” katanya penuh keyakinan.


Suasana RS Siti Hajar semakin haru ketika Suparti, ibu Shaka, berbisik lirih. “Kami hanya ingin anak-anak kami kembali ceria seperti dulu. Bisa sekolah lagi, bisa mengaji lagi, tanpa ketakutan.”


Kalimat sederhana itu menggambarkan harapan terbesar keluarga korban: melihat anak-anak mereka pulih, lahir dan batin. (Had) 

Bagikan:

Komentar