![]() |
| Tasyakuran Gelar Pahlawan Terhadap tiga tokoh asal Jawa Timur di Pondok Pesantren Matholibul Hidayah, Desa Batuputih Laok, Kecamatan Batuputih, Sumenep.(Dok/Istimewa). |
Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Anggota DPRD Kabupaten Sumenep dari Fraksi PKB, M. Muhri; Pengasuh PP Matholibul Hidayah KH Abdus Sami’, Ketua MWC NU Batuputih KH Ali Wafa Ervan, Ketua PAC Muslimat NU Batuputih Ny. Nawati, Ketua PAC GP Ansor Batuputih Sahlawi, Kasatkoryon Banser Batuputih, serta para tokoh masyarakat lainnya.
Dalam sambutannya, M. Muhri menegaskan bahwa penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Gus Dur dan Syaikhona Kholil memiliki makna penting bagi masyarakat, khususnya warga Nahdliyin. Menurutnya, kedua tokoh tersebut telah memberikan teladan besar yang pengaruhnya melampaui batas komunitas.
“KH Kholil Bangkalan dan Gus Dur adalah figur yang warisannya memberi warna kuat bagi perjalanan bangsa. Pengakuan negara ini bukan sekadar gelar, tetapi bentuk penghormatan atas perjuangan panjang dan teladan mulia yang beliau tinggalkan,” ujar Muhri.
Mantan Ketua PC PMI Sumenep itu menambahkan bahwa masyarakat memiliki tugas moral untuk menjaga, merawat, dan meneruskan nilai-nilai yang diwariskan para ulama dan pahlawan tersebut.
“Tugas kita adalah menjaga dan meneruskan nilai-nilai itu. Tasyakuran ini menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi, meneguhkan persaudaraan, dan meneladani perjuangan mereka,” katanya.
Muhri berharap kegiatan semacam ini terus hidup di tengah masyarakat sebagai wujud penghormatan terhadap tokoh-tokoh bangsa sekaligus pengikat kebersamaan.
“Semoga pertemuan ini membawa keberkahan. Mari kita jaga terus warisan para ulama,” pungkas pria yang juga mantan Ketua PC GP Ansor Sumenep tersebut.
Acara tasyakuran berlangsung khidmat dengan lantunan doa bersama, pembacaan tahlil, serta refleksi mengenai keteladanan para pahlawan nasional yang baru dianugerahi gelar oleh pemerintah. (Had)


Komentar