|
Menu Close Menu

Firman Syah Ali Berduka untuk Bencana Sumatera, Serukan Gerakan Nasional Peduli Sesama

Sabtu, 29 November 2025 | 13.50 WIB

Firman Syah Ali, Panglima NABRAK.(Dok/Istimewa). 
Lensajatim.id, Surabaya— Panglima Nahdliyin Bergerak (NABRAK) yang juga Wakil Sekretaris Jenderal PB IKA PMII, Firman Syah Ali, menyampaikan duka mendalam atas bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam beberapa hari terakhir. Peristiwa tersebut memakan ratusan korban jiwa dan menyebabkan kerusakan luas pada pemukiman serta infrastruktur. Firman menegaskan, musibah ini bukan hanya duka bagi masyarakat setempat, tetapi juga duka bangsa Indonesia secara keseluruhan.


Menurut Firman, setiap bencana kemanusiaan harus menjadi panggilan moral untuk memperkuat solidaritas dan rasa tanggung jawab antarwarga negara. Ia mengingatkan bahwa empati tidak boleh berhenti pada ungkapan belasungkawa, namun harus diwujudkan dalam tindakan nyata untuk membantu para penyintas.


“NABRAK turut berduka sedalam-dalamnya. Di saat seperti ini kita tidak boleh hanya berhenti pada kesedihan. Solidaritas harus diwujudkan dalam doa, bantuan, dan aksi nyata demi saudara-saudara kita di Sumatera” ujarnya dalam keterangan resminya, Jumat (28/11/2025). 


Firman menyerukan kepada seluruh unsur bangsa, mulai dari organisasi sosial, lembaga pemerintah, mahasiswa, hingga masyarakat umum, untuk bahu-membahu memberikan bantuan. Ia menekankan bahwa kontribusi tidak harus besar, karena setiap bantuan, sekecil apa pun, dapat menjadi kekuatan penting bagi para korban yang tengah berjuang memulihkan kehidupan.


Ia juga menyoroti pentingnya dukungan psikososial karena dampak bencana tidak hanya berkaitan dengan kerugian materi, tetapi juga luka emosional yang dialami penyintas. Firman meminta pemerintah daerah maupun pusat mempercepat penanganan darurat dan distribusi bantuan logistik agar kebutuhan dasar warga terdampak dapat terpenuhi.


“Kita semua punya peran. Pemerintah bergerak secara struktural, sementara masyarakat bisa ikut turun membantu dalam berbagai bentuk. Tidak harus besar, setiap bantuan berarti bagi mereka yang kini kehilangan keluarga, rumah, dan rasa aman,” tegasnya. 


Lebih jauh, Firman menegaskan bahwa musibah ini menjadi pengingat tentang betapa pentingnya persatuan dan empati sosial. Ia berharap semangat kepedulian ini tidak berhenti hanya pada fase tanggap darurat, tetapi juga berlanjut hingga proses pemulihan dan pembangunan kembali wilayah terdampak selesai dilakukan.


“Kita ingin memastikan bahwa saudara-saudara kita di Sumatera tidak berjalan sendirian. Ketika bangsa ini bergerak bersama, maka jalan menuju pemulihan akan lebih terang,” katanya.


Dengan penuh harap, Firman menutup pernyataannya dengan ajakan moral untuk seluruh rakyat Indonesia.


“Mari kirim doa, mari bantu sekuat yang kita mampu. Luka mereka adalah luka kita bersama,” tutupnya. (Had) 

Bagikan:

Komentar